Mengelola Laut Cina Selatan, Ujian Hubungan ASEAN-RRT

Luar Negeri Retno Marsudi dalam pengarahan pers secara daring, usai pertemuan khusus para Menlu ASEAN-Tiongkok di Chongqing, RRT, Senin 7 Juni 2021. (Foto: kemlu)

[ad_1]

Menteri Luar Negeri Retno L Marsudi mengungkapkan, kemampuan mengelola LCS akan menjadi ujian bagi hubungan ASEAN-RRT.

“Saya menekankan bahwa kemampuan kita mengelola Laut Tiongkok Selatan akan menjadi ujian bagi hubungan ASEAN-RRT,” tutur Retno Marsudi, dalam keterangan Selasa, 8 Juni 2021.

Secara khusus Indonesia berpendapat, kemampuan dalam mengelola LCS akan dapat memperkuat kemitraan kita yang setara, yang harus dilakukan sesuai UNCLOS 1982.

“Saya mengulangi kembali bahwa kemampuan kita mengelola LCS akan dapat memperkuat kemitraan kita yang setara, saling menguntungkan dan sangat diperlukan bagi perdamaian dan stabilitas global. Dan semua harus dilakukan sesuai dengan UNCLOS 1982,” papar Retno.

Kesiapan Negosiasi Kasus LCS

Indonesia menyatakan siap untuk menjadi tuan rumah bagi pembahasan kode etik (CoC) Laut Cina Selatan (LCS). Dengan harapan, perundingan dimaksud cepat selesai dengan hasil yang efektif dan substantif.

“Dalam kaitan ini, Indonesia siap menjadi tuan rumah pertemuan negosiasi Code of Conduct di Jakarta dalam waktu dekat,” ujar Menteri Luar Negeri Retno Marsudi dalam pengarahan pers secara daring, usai pertemuan khusus para Menlu ASEAN-Tiongkok di Chongqing, RRT, Senin 7 Juni 2021.

Retno menjelaskan, pembahasan terkait Kode Etik di LCS mengalami kemajuan yang sangat lambat, utamanya dikarenakan adanya pandemi COVID-19 sejak tahun lalu.

“ASEAN dan RRT harus segera melanjutkan pembahasan Code of Conduct yang kemajuannya saat ini sangat lambat,” imbuhnya.

Percepatan Konsultasi Pembahasan Kode Etik

Dalam suatu kesempatan, Wakil Menteri Luar Negeri Tiongkok Luo Zhaohui, menyebut, negaranya berkeinginan untuk adanya percepatan konsultasi pembahasan kode etik, seperti yang menjadi keinginan 10 negara ASEAN.

“Saat ini para pihak terkait terlibat dalam komunikasi yang erat tentang konsultasi kode etik. Saya setuju dengan komentar kita yang lain. Kedua belah pihak ingin mempercepat konsultasi semacam itu. ASEAN dan Tiongkok siap untuk memilih lagi bahwa kita memiliki kearifan dan kemampuan untuk mengatur situasi di Laut Cina Selatan,” ungkap Zhaohui dalam webinar yang diselenggarakan oleh Centre for Strategic and International Studies (CSIS) memperingati 30 tahun hubungan dialog ASEAN-RRT, 9 Maret 2021.

Patuhi Pelaksanaan pelaksanaan Declaration of Conduct

Menlu Retno Marsudi mendorong agar seluruh pihak terus mematuhi pelaksanaan Declaration of Conduct (DOC) atau pernyataan perilaku di Laut Cina Selatan termasuk menahan diri.

“Indonesia juga mendorong agar semua pihak terus mematuhi pelaksanaan Declaration of Conduct (DoC) termasuk menahan diri (self restraint),” ucapnya.

Upaya mencapai penyelesaian Kode Etik di kawasan LCS hingga saat ini masih menjadi fokus ASEAN bersama Tiongkok. Meski, telah menyetujui isi kerangka kode etik pada 2019 lalu, namun negosiasinya terpaksa terhenti karena adanya pandemi COVID-19.



[ad_2]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.