Merasa Diri dalam Tahanan, Ini Fakta Pasien Asal Madura di RSLI

Rumah Sakit Lapangan Indrapura (RSLI) (Foto: Istimewa)

[ad_1]

Pasien Madura yang terjaring di penyekatan Suramadu dan dirawat di Rumah Sakit Lapangan Indrapura (RSLI) sulit menerima edukasi tenaga kesehatan (nakesN. Mereka menganggap dirinya adalah ‘tahanan’ atau berada dlaam tahanan. 

Ketua Pelaksana Program Pendampingan Keluarga Pasien Covid-19 RSLI, Radian Jadid mengatakan bahwa pasien yang berasal dari Madura tersebut sulit untuk diberi arahan oleh Nakes.

“Kendala dari nakes ya, pikirnya kita mengedukasi, kita agak sulit,” kata Jadid, ketika dikonfirmasi, Senin, 14 Juni 2021.

Sulitnya menyampaikan edukasi tersebut, kata Jadid, karena para pasien yang terjaring penyekatan itu tidak berpikiran untuk sembuh. Namun mereka hanya ingin segera keluar dari RSLI.

Kendala Utama, Kok Gak Pingin Sembuh

“Karena mereka inginya keluar (RSLI), bukan pingin sembuh, itu kendala utama,” jelasnya.

Bahkan, menurut Jadid, saat dirawat di RSLI para pasien tersebut memiliki pemikiran, jika mereka tengah menjalani masa tahanan. Bukan, disembuhkan karena telah terinfeksi Covid-19. 

“Mereka ke sini ‘kan karena ketangkap, karena kena tracing. Jadi masuk ini kan mindsetnya orang tahanan bukan mindset orang cari kesembuhan,” ucapnya.

Oleh karena itu, kata Jadid, terkadang meski telah diberi informasi melalui berbagai media penyampai pesan, untuk mengambil obat di tenda medis, para pasien enggan mengambilnya.

“Misalkan, obat-obatan kan ngambil di tenda medis, nah diumumkan lewat grub WhatsApp nggak datang, kita umumkan lewat pengeras suara nggak datang, seperti itu kendalanya,” kata dia.

Ketelatenan Petugas Kesehatan

Selain itu, pasien asal Madura tersebut juga sulit menaati aturan yang diterapkan di RSLI. Alhasil, para tenaga medis harus menggunakan bahasa daerah untuk selalu mengingatkan.

“Sudah dikasih tempat sampah masih buang sampah sembarangan, edukasinya tidak didengarkan, harus dengan menggunakan bahasa daerah,” ujarnya.

Dengan demikian, Jadid pun berharap agar Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya, maupun Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jatim, untuk menambah jumlah personil yang bertugas untuk menjaga pasien.

“Tugas rumah sakit itu kan tugas penyembuhan bukan tugas karantina, pemprov pemkot belum tanggap terhadap itu, tidak memberikan dukungan, misalnya personil tambahan untuk berjaga, belum ada,” tuturnya.



[ad_2]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.