Mi Goreng Pak Djimin Banyuwangi, Mi Legendaris sejak 1964

Mi goreng ukuran besar buatan Pak Djimin yang melegenda (foto: Muh Hujaini/Ngopibareng.id)

[ad_1]

Kangen mi goreng Banyuwangi. Kalimat ini sering kali terucap dari mulut warga Banyuwangi yang kini hidup di perantauan. Mi goreng Banyuwangi ini sebenarnya sama dengan mi yang lain. Yang membedakan dengan mi lainnya adalah ukurannya yang relatif sangat besar dibanding mi pada umumnya.

Pelopor mi tektek berukuran besar yang akhirnya menjadi mi khas Banyuwangi ini adalah Djimin, 81 tahun. Dia saat ini tinggal di Kampung Kukusan, Kelurahan Penganjuran, Banyuwangi. Hingga saat ini, Djimin masih berjuala mi goreng di Jalan Jenderal Sudirman, Banyuwangi. Lokasinya di pintu masuk sebuah gang sekitar 50 meter Utara Simpang Lima Banyuwangi. “Saya mulai jualan mi sejak tahun 1964,” jelas Djimin, Sabtu, 26 Maret 2022.

Pria asli Sukoharjo, Jawa Tengah, ini datang ke Banyuwangi tahun 1963. Setahun kemudian dia mulai berjualan mi goreng dengan berkeliling di pusat kota Banyuwangi. “Waktu itu jualannya keliling kota saja, simpang lima, stadion dan di sekitar pasar,” jelasnya.

Kala itu, mi yang dia jual masih mi pada umumnya. Pada masa pemerintahan Bupati Banyuwangi Purnomo Sidik dia mulai membuat mi sendiri dengan ukuran yang besar. Sejak saat itu mi besar semakin dikenal dan melegenda di kalangan pecinta mi di Banyuwangi khususnya di wilayah kota.

“Ukurannya memang saya buat besar, berbeda dengan mi yang ada pada umumnya,” tegasnya.

Pak Djimin sedang memasak mie Tektek di pintu masuk sebuah gang di Jl. Jenderal Sudirman Banyuwangi (foto:Muh Hujaini/Ngopibareng.id)
Pak Djimin sedang memasak mie Tektek di pintu masuk sebuah gang di Jl. Jenderal Sudirman Banyuwangi (foto:Muh Hujaini/Ngopibareng.id)

Saat ini, Kakek Djimin ibarat legenda mi Tek Tek Banyuwangi. Pria yang sudah memiliki empat cucu ini masih eksis berjualan mi. Meski sudah puluhan tahun berjualan dia tetap berjualan dengan menggunakan rombong di pintu masuk sebuah gang di Jalan Jenderal Sudirman, Banyuwangi.

Dia mulai membuka warungnya mulai pukul 18.00 WIB atau setelah Magrib. Karena rasanya yang sudah melegenda pukul 22.00 WIB biasanya dagangannya sudah ludes. Selain mi goreng dia juga melayani mi kuah, mi nyemek serta nasi goreng. Harganya super murah. Hanya Rp 10.000 per porsi

“Yang penting dapat hasil biar semua orang bisa membeli mi saya,” jelasnya.

Tren mi goreng besar ini terus mempengaruhi pasar mi di Banyuwangi kota. Sehingga semakin banyak permintaan mi goreng buatan Pak Djimin. Oleh karena itu selain menjual mi matang Kakek Djimin juga menjual mi mentah untuk para pedagang mi di Banyuwangi. “Jualan mi mentahnya di rumah,” pungkasnya.



[ad_2]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.