Militansi Melemah, Masjid Muhammadiyah pun Bisa Berpindah Tangan

  • Bagikan
Haedar Nashir, Ketua Umum PP Muhammadiyah. (Foto: Istimewa)


Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir mengingatkan, hilangnya beberapa masjid milik Muhammadiyah akibat para anggota dan warganya yang tidak memiliki militansi.

Setelah diusut, ternyata masjid yang bersangkutan tidak memiliki imam dan muazin tetap. Kemudian takmirnya dipilih sembarangan, bukan orang Muhammadiyah.

Dalam menghidupkan Persyarikatan, militansi atau sikap tangguh dalam berjuang adalah unsur yang wajib dimiliki warga Muhammadiyah. Dengan kata lain, militansi ibarat penjaga eksistensi dakwah Muhammadiyah.

Karena itu, menurut Haedar Nashir, pihaknya mewanti-wanti agar unsur militansi ini tetap dijaga. Haedar kemudian menyebut bahwa di beberapa daerah, banyak aset Muhammadiyah yang terbengkalai hingga hilang akibat pengurusnya tidak memiliki militansi.

Dalam forum Upgrading PWM Bangka Belitung, Haedar mengisahkan dalam kunjungannya ke suatu daerah bahwa ada SMP Muhammadiyah yang dulunya besar, lalu berhenti beroperasi karena tidak memiliki murid.

Mencari Kebaikan

Ironisnya, SMP lain yang didirikan oleh sesama organisasi Islam dan baru berdiri di dekatnya justru tumbuh besar dan memiliki murid yang sangat banyak.

“Lalu saya bilang, introspeksi. Jangan-jangan kepala sekolahnya, gurunya, Dikdasmennya, memang tidak punya militansi. Sehingga ada kesulitan itu kemudian nyerah terhadap kesulitan dan ternyata yang lain berdiri,” kata Haedar, dilansir situs resmi muhammadiyah.or,id, Senin 27 September 2021.

Akibat Militansi Melemah

Selanjutnya, Haedar mencontohkan hilangnya beberapa masjid milik Muhammadiyah akibat para anggota dan warganya yang tidak memiliki militansi.

Setelah diusut, ternyata masjid yang bersangkutan tidak memiliki imam dan muazin tetap. Kemudian takmirnya dipilih sembarangan, bukan orang Muhammadiyah. Dan terakhir dalam menggelar pengajian, yang mengisi adalah bukan mubaligh dari Muhammadiyah.

“Nah kalau hal seperti itu terjadi di cabang, di ranting, ya masjid Muhammadiyah pindah alamat. Digarap orang. Jadi ini hukum alam saja. Sunatullah. Padahal di situ juga ada orang Muhammadiyah, ada mubaligh, ada pimpinan dan sebagainya. Apa yang hilang? Militansi,” ingat Haedar.

Untuk itu, dirinya kemudian mengingatkan agar sikap militansi ini terus dijaga oleh setiap anggota Persyarikatan agar dakwah Muhammadiyah tetap unggul dan berjaya.

“Saya percaya nanti setelah acara ini selesai, praktekkanlah militansi itu. Masing-masing peserta, kembali harus ada kapitalisasi niat, harus ada kapitalisasi ghirah, rasa cemburu memiliki organisasi, cemburu yang positif. Kalau ada organisasi lain maju, ya kita juga panas untuk maju. Kalau ada masjid kita yang digarap orang, kita harus terpanggil ya mari kita garap. Kalau ada sekolah di sekitar kita tidak bagus , ya bareng-bareng kita baguskan. Itu namanya militansi,” tutur Haedar Nashir.



  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *