Mitigasi Bencana Komunitas Pandur Desa Pandanarum

Kegiatan Komunitas Pandur di Desa Pandanarum, Kecamatan Sutojayan, Kabupaten Blitar, Jawa Timur.. (Foto: Choirul Anam/Ngopibareng.id)

[ad_1]

Komunitas Pandur, penggiat lingkungan ini konsisten merawat alam dengan menanam pohon tegakan di sekitar lereng pegunungan Desa Pandanarum, Kecamatan Sutojayan, Kabupaten Blitar, Jawa Timur. Kegiatan ini tak mungkin berjalan jika tanpa komunikasi yang baik antar warga.

Cara komunikasi mereka pun unik. Di bawah pepohonan jati yang rindang, warga sekitar yang punya usaha diajak membuka lapak dagangannya masing-masing. Sore itu, Sabtu 22 Mei 2021, warga pun menata dagangannya di bawah pohon jati. Kuping pun dimanjakan oleh alunan suara orang-orang yang karaokean.

Di sela-sela lagu yang dinyanyikan tersebut, Komunitas Pandur menyelipkan soal mitigasi bencana yakni segala upaya untuk mengurangi risiko bencana. Masyarakat diimbau untuk merawat alam agar tidak terjadi bencana seperti banjir dan kekeringan.

“Desa Pandanarum, yang terletak di lereng pegunungan Blitar selatan, merupakan desa yang paling terdampak apabila hutan di lereng pegunungan tersebut gundul dan gersang,” demikian penjelasan Budi selaku Ketua Komunitas Pandur.

Komunitas Pandur menjual pupuk kompos di Pasar Sabtu Pon. (Foto: Choirul Anam/Ngopibareng.id)
Komunitas Pandur menjual pupuk kompos di Pasar Sabtu Pon. (Foto: Choirul Anam/Ngopibareng.id)

Rajin Menanam Pohon

Selama dua tahun, Komunitas Pandur aktif menanami pegunungan yang gundul dan tidak ada tanaman tegakan. Tujuannya, agar lereng pegunungan hijau kembali. “Menanam tanaman yang bisa menyimpan air di sekitar sumber di pegunungan Pandanarum menjadi kegiatan sehari-hari secara sukarela Komunitas Pandur,” terang Budi.

Di musim kemarau, kegiatan menanam akan dihentikan oleh Komunitas Pandur. Lantas apa yang mereka lakukan? “Kami adakan kegiatan untuk mengangkat potensi IKM (industri kecil menengah) warga Desa Pandanarum,” jelas Budi.

Gethuk, jajanan tradisional dari olehan singkong, tersedia di Pasar Sabtu Pon. (Foto: Choirul Anam/Ngopibareng.id)
Gethuk, jajanan tradisional dari olehan singkong, tersedia di Pasar Sabtu Pon. (Foto: Choirul Anam/Ngopibareng.id)

Pasar Sabtu Pon

Untuk mengangkat potensi IKM warga setempat, Komunitas Pandur pun tercetus ide untuk mendirikan Pasar Sabtu Pon. Budi menjelaskan, kemampuan masyarakat sekitar membuat masakan tradisional, seperti Pecel Punten, Tiwul, Ampok, Kicak, dan Cenil perlu diangkat kembali.

Selain masakan tradisional, lanjut Budi, Pasar Sabtu Pon juga diisi para pelaku IKM dari desa Pandanarum dan sekitarnya. “Harapannya warga menjadi kreatif dalam berusaha, dan barang hasil produksi IKM yang dijual menjadi inspirasi kewirausahaan masyarakat desa Pandanarum,” ucap dia.

Warga yang memiliki usaha boleh ikut berjualan di Pasar Sabtu Pon. (Foto: Choirul Anam/Ngopibareng.id)
Warga yang memiliki usaha boleh ikut berjualan di Pasar Sabtu Pon. (Foto: Choirul Anam/Ngopibareng.id)

Warga Butuh Wadah

Warga Desa Pandanarum, menurut Budi, memiliki banyak potensi IKM. Walaupun mereka sudah mandiri, warga perlu wadah untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas produksi. Hal ini bisa digali dalam kegiatan Pasar Sabtu Pon di warung dalem.

“Di sini, para pelaku IKM bisa berdiskusi untuk kemajuan IKM yang ada di Pandanarum. Di sini juga menyediakan pupuk kompos hasil produksi Komunitas Pandur,” kata Budi.

Selain jadi lading jual beli, Pasar Sabtu Pon juga bisa jadi tempat komunikasi antar Komunitas Pandur dengan warga perihal sosialisasi bahaya ketika hutan gundul dan antisipasi bencana bila terjadi.

Ketika waktu beranjak siang, Kepala Desa Pandanarum, Mas’udin, dan beberapa tokoh sesepuh desa berdatangan ke warung dalem. Di warung ini biasa jadi tempat berkumpulnya Komunitas Pandur yang berdiri sejak 2019 ini sudah tersedia beberapa sajian untuk kenduri.

Setelah beberapa sambutan sesepuh desa, melafalkan ujub hingga menyampaikan hajat, akhirnya Pasar Sabtu Pon Warung Dalem dan IKM resmi dibuka. Pasar ini buka sesuai pasangan hari Jawa, yakni Sabtu Pon.

“Saya mendukung kegiatan positif dari Komunitas Pandur ini,” ucap kepala desa.



[ad_2]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.