Moeldoko Ziarah Dadakan ke Makam Bung Tomo

Kepala Staf Kepresidenan (KSP) Moeldoko saat mengunjungi makam Bung Tomo. (Foto: Antara)

[ad_1]

Kepala Staf Kepresidenan RI, Moeldoko secara mendadak mengunjungi untuk berziarah ke makam pahlawan nasional Bung Tomo, yang ada di TPU Ngagel, Surabaya, Selasa 22 Maret 2022.

Kabar tersebut dibenarkan oleh, penjaga TPU Ngagel, Rudi. Ia mengatakan, Moeldoko mengunjungi makam Bung Tomo hanya sebentar, yakni sekitar pukul 11.00 WIB, dan pergi 11.30 WIB.

“Iya benar tadi Pak Moeldoko ke sini, bentar kok, sekitar jam 11.00 WIB sampai jam 11.30 WIB tadi kayaknya,” kata Rudi, ketika ditemui di TPU Ngagel.

Ziarah yang dilakukan Moeldoko tersebut, kata Rudi, termasuk kegiatan yang mendadak. Sebab, dirinya bahkan baru mengetahui kabar itu dari warga sekitar beberapa menit sebelum rombongan datang.

“Tadi saya juga kaget, baru dengar dari orang-orang sekitar sini katanya ada jendral mau datang. Tak lama ada beberapa mobil datang,” jelasnya.

Dalam kunjungannya tersebut, Rudi melihat hanya ada sekitar 10 orang yang mendampingi Moledoko. Akan tetapi, dirinya tidak mengetahui siapa saja yang ikut di rombongan.

“Tadi gak banyak kok, kayanya saya lihat hanya enam sampai orang saja, gak tahu siapa. Nggak ada rombongan pemerintah daerah,” ucapnya.

Rudi mengungkapkan, dalam kegiatan tersebut Moeldoko sempat membagikan uang ke beberapa warga sekitar. Baru kemudian meninggalkan makam Ngagel bersama rombongannya.

“Ya tadi katanya warga bagi-bagi uang, (nominalnya) gak tahu, ya kerelaan Pak Moeldoko,” ujar dia.

Sementara itu, dalam siaran pers yang diterima, Moeldoko menyatakan ziarah itu dilakukan sebagai tradisi menyambut bulan Ramadhan.

“Sebentar lagi kan Ramadhan. Dan tradisi sebelum Ramadhan berziarah ke makam. Bung Tomo ini kan bapak bangsa, jadi sudah jadi kewajiban saya sebagai mantan prajurit untuk berziarah di sini makam Bung Tomo,” jelas Moeldoko yang merupakan mantan Panglima TNI itu.

Moeldoko memandang, Bung Tomo adalah sosok orator yang terkenal dengan semboyan “merdeka atau mati dan sekali merdeka tetap merdeka”. Semboyan tersebut, kata dia, mengandung makna bahwa merdeka harus dimaknai sebagai sebuah kedaulatan, kebebasan demokrasi, dan kemanusiaan.

“Jangan membelokkan makna merdeka. Jangan merdeka untuk diri sendiri tapi mati bagi orang lain,” tegasnya.  



[ad_2]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *