MUI dan PPP Desak Pemerintah Larang Edar Komik DC Gambarkan Superman Biseksual

  • Bagikan


MUI desak pemerintah Indonesia boikot DC Comics karena gambarkan superman biseksual

Patung versi klasik Superman diangkut untuk pameran di London. Foto oleh Victoria Jones/PA Images via Getty Images

Komik superhero dari penerbit DC sedang jadi perbincangan di Amerika Serikat hingga Indonesia. Edisi kelima seri Superman: Son of Kal-El memicu perdebatan, karena bakal menggambarkan sosok Superman coming out sebagai biseksual. Menurut keterangan tertulis dari DC awal pekan ini, sosok Jon Kent, anak dari Clark Kent dan Louis Lane, diceritakan jatuh hati pada sosok Jay Nakamura, wartawan di Kota Metropolis yang jadi setting ceritanya.

Jon Kent sendiri bukanlah Superman yang dikenal pembaca seluruh dunia selama 80 tahun terakhir. Seri Superman: Son of Kal-El berpusat pada sosok Jon Kent, yang mewarisi kekuatan super ayahnya, dan harus menjalani peran sebagai superhero di usia relatif muda. Itu sebabnya, DC merasa penggambaran sang superhero sebagai biseksual tidak merusak pakem orientasi seksual superman selama ini. Sebagaimana sang ayah, yang jatuh cinta dan menikahi wartawan, Jon Kent pun mengalami kisah serupa. Bedanya, kekasih hatinya adalah wartawan lelaki.

Namun, pilihan DC menggambarkan sang superhero muda sebagai biseksual mengundang kecaman. Di Tanah Air, Majelis Ulama Indonesia mendesak pemerintah agar tidak membiarkan komik tersebut beredar ketika nantinya tayang. Tidak jelas, apakah desakan MUI ini mencakup agar komik tersebut disensor sepenuhnya dari internet, yang mana ambisi itupun cukup mustahil terwujud akibat adanya teknologi VPN.

Wakil Ketua Umum MUI, Anwar Abbas, lewat pesan tertulis pada Selasa (12/10) lalu menyebut komik macam ini tidak sesuai budaya di Indonesia. “Kontennya benar-benar tidak sesuai dengan Pancasila dan dengan jati diri serta budaya kita sebagai bangsa yang religius. Jangan dibiarkan beredar,” tandas Anwar.

Partai Persatuan Pembangunan (PPP), sebagai salah satu partai berasaskan Islam di Tanah Air, turut mengecam rencana DC menerbitkan komik superman sebagai biseksual. Menurut Ketua DPP PPP Achmad Baidowi, superman adalah tokoh idola anak-anak di berbagai negara, termasuk Indonesia. Bila digambarkan menjadi biseksual, dia khawatir banyak anak akan menormalisasi komunitas LGBTQ.

Tak hanya mendesak pelarangan, Baidowi meminta pemerintah mengeluarkan sikap resmi boikot terhadap semua produk DC Comics. Jika memungkinkan, PPP ingin pemerintah memblokir semua konten bernuansa LGBTQ agar tak bisa dibaca warga Indonesia.

“PPP mendesak pemerintah memboikot produk dari penerbit DC Comics yang telah mengumumkan tokoh baru Superman dalam komiknya sebagai pria biseksual,” kata politikus akrab disapa Awiek tersebut seperti dikutip Detik.com pada Rabu (13/10). “Kami sangat mengecam DC Comics dan meminta agar menghentikan produksi komik tersebut.”

DC mengumumkan orientasi seksual Jon Kent di momen Coming Out Day, hari untuk merayakan kesadaran seputar isu-isu LGBTQ di Amerika Serikat. Seri Superman: Son of Kal-El ditulis oleh Tom Taylor, dan rencananya edisi seputar cerita biseksual yang menggemparkan itu terbit November 2021.

DC Pride.jpeg

Jon Kent [kiri] sosok superman baru, bersama pujaan hatinya wartawan bernama Jay Nakamura. Kredit: INHYUK LEE/DC COMICS

Jon Kent bukan karakter LGBTQ pertama di semesta komik DC. Tim Drake, penerus sosok Robin sebagai pendamping Batman, sudah lebih dulu digambarkan sebagai gay pada awal 2021. Akan tetapi, pilihan kreatif DC itu dikritik pecinta komik AS, karena terkesan memaksakan perubahan superman yang sejak lama dikenal sebagai heteroseksual.

Adapun aktor Dean Cain yang pernah memerankan Superman untuk serial TV, menuding DC sekadar “ikut-ikutan” tren supaya terkesan peduli pada isu LGBTQ. “DC bilang ini arah baru yang berani dari penceritaan Superman, apanya yang baru? Robin sudah digambarkan biseksual, Captain America yang baru juga gay. Supergirl pun sekarang gay,” kata Cain seperti dikutip the Hollywood Reporter. “Kalau DC menggambarkan orientasi seksual macam ini 20 tahun lalu, baru bisa kita bilang sikap mereka berani.”

Taylor, sebagai penulis jalan cerita Jon Kent, menegaskan keputusannya didasari keinginan agar sosok Superman dikenal sebagai superhero yang jujur pada identitasnya sendiri. “Pembaca di manapun layak untuk menyaksikan sosok seperti mereka menjadi pahlawan super,” kata Taylor lewat keterangan tertulis. “Superman adalah simbol harapan, kejujuran, dan keadilan. Lewat edisi terbaru ini, kami ingin mengajak semua orang untuk melihat representasi dirinya dalam sosok superhero komik.”

MUI, yang tampaknya bukan pemerhati komik-komik DC, menilai pilihan cerita macam ini menunjukkan kalau penerbit AS itu punya agenda menyebarkan “paham” LGBTQ. “Komik tersebut telah mereka fungsikan untuk kepentingan sosialisasi paham LGBT,” ujar Anwar. 

Komik-komik DC sendiri tidak dialihbahasakan resmi oleh penerbit Indonesia. Selama ini, penggemar komik membeli versi fisik komik DC atau Marvel lewat mekanisme impor, atau membacanya secara ilegal di Internet. Komik DC pernah diterbitkan versi Indonesianya oleh PMK satu dekade lalu, namun kala itu yang diterjemahkan mayoritas seri klasik Superman atau Batman, dan akhirnya tidak berlanjut ke penerbitan komik-komik yang baru.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *