Muncul Grup-Grup Facebook yang Jadikan Ibu Hamil Obyek Seksual

  • Bagikan



Facebook telah menghapus grup buatan orang Malaysia yang menyebarkan foto-foto perempuan hamil, banyak di antaranya tidak disensor dan dipenuhi komentar mesum.

Bernama “Koleksi Mak Buyung Malaysia” atau “Koleksi Perempuan Hamil”, grup tersebut diikuti setidaknya 5.000 orang sebelum dihapus pada Senin malam karena “melanggar kebijakan situs”.

Forum itu dikelola enam admin yang menggunakan foto palsu. Postingannya sudah ada sejak Juni lalu. Para anggota, yang mayoritas laki-laki Malaysia, saling berbagi foto perempuan hamil di tempat umum, seperti pusat perbelanjaan, pasar swalayan dan lain-lain. Tak sedikit Muslimah berhijab yang menjadi subjek foto tanpa sepengetahuan mereka.

Kolom komentar tak kalah memprihatinkan, penuh kalimat bernada seksual. “Andai saja saya bisa mengelus perut itu,” tulis lelaki di bawah foto ibu hamil di mal. Komentar-komentar lain yang ditemukan VICE World News menampilkan laki-laki memotivasi sesamanya untuk “melecehkan” perempuan hamil di depan umum.

Seorang anggota, yang memasang foto profil bersama tiga anak kecil, mengatakan dia akan menjadikan foto-fotonya “bahan” masturbasi. Postingan yang cukup mengganggu diunggah oleh lelaki paruh baya, yang foto profilnya menampilkan dirinya mengenakan pakaian muslim bersama pasangan perempuan. Dia menyalahkan perempuan Muslim di Malaysia yang “berpakaian ketat” saat mengandung anak.

“Saat hamil, tak sepantasnya kalian mengenakan pakaian ketat yang memamerkan perut buncit,” tulisnya dalam bahasa Melayu. “Laki-laki penuh nafsu, jadi jangan heran kalau foto kalian menjadi koleksi di grup ini.”

Dia lalu membandingkan lelaki bernafsu dengan kucing liar kelaparan. “Kalau tidak mau makanannya diambil kucing, ya kalian harus melindunginya.”

Pada Senin pagi, VICE World News melaporkan grup itu ke perwakilan Facebook di Kuala Lumpur. Juru bicara mengungkapkan pihaknya tengah melakukan penyelidikan keamanan. Ketika kami mengeceknya lagi, grup itu sudah hilang dan semua konten di dalamnya terhapus. “Kami telah menghapus grup itu karena melanggar kebijakan,” kata juru bicara.

“Kami sadar perempuan mengalami tingkat kekerasan dan pelecehan yang tidak proporsional secara online, dan kami bertanggung jawab agar mereka tetap aman.”

Ketika dihubungi lewat telepon, Karen Lai selaku direktur program Women’s Centre for Change (WCC) di Penang memuji langkah Facebook menutup grupnya. Menurutnya, sekarang waktunya pihak berwenang Malaysia menindak kasus tersebut.

“Telah terjadi kejahatan. Foto-foto diambil tanpa persetujuan, sehingga konten yang sangat ofensif dibagikan secara online oleh para pelaku yang harus diadili di bawah undang-undang multimedia dan komunikasi,” tuturnya.

“Penegakan hukum dan upaya pencegahan perlu dilakukan agar kejadian ini tak terulang kembali.”

Keberadaan grup Facebook itu terkuak setelah aktivis remaja Ain Husniza Saiful Nizam, yang mengkritik gurunya di TikTok karena membuat lelucon tentang pemerkosaan, mengunggah tangkapan layar percakapan cabul di antara anggota grup.

“Benar-benar tidak bisa dipercaya dan menjijikkan,” dia berkicau di akun Twitter pribadi. “Orang-orang ini menjadikan ibu hamil fetish mereka.”

Remaja 17 tahun ini juga mengungkapkan, banyak perempuan yang mengirim tangkapan layar kepadanya. “Sangat menjijikkan melihat… sisi keibuan menjadi seperti ini,” lanjut Ain.

Koleksi Mak Buyung Malaysia hanyalah salah satu dari sekian banyak perlakuan tidak adil yang dihadapi perempuan Malaysia di jagat maya. Para lelaki kerap melontarkan komentar seksis dan menghina tentang perempuan di media sosial, seperti Facebook dan Twitter. Politikus juga tak jarang memberikan pandangan misoginis mereka terkait isu-isu seperti pemerkosaan dan perkawinan anak. Banyak pula laki-laki yang sengaja menyerang perempuan di internet.

Pegiat hak perempuan telah menyuarakan masalah-masalah yang kerap dihadapi perempuan di dalam negeri—mulai dari “pemeriksaan menstruasi” yang masih berlaku di sejumlah sekolah hingga undang-undang kontroversial yang tidak mengizinkan perempuan untuk memberikan kewarganegaraan kepada anak-anak mereka yang lahir di luar negeri. Baru-baru ini, aktor lokal menuai kecaman setelah membicarakan adegan pemerkosaan di lokasi syuting dengan penuh semangat.

Beberapa perempuan di Malaysia mengirimi tautan dan tangkapan layar melalui akun Twitter VICE World News. Mereka menuntut agar grup tersebut segera dihapus dan para anggotanya diblokir dari Facebook.

Pengacara Azira Aziz turut melaporkan grupnya. Kepada VICE World News, dia beranggapan sering kali “tidak ada upaya” untuk menghormati perempuan di Malaysia.

“Sudah cukup buruk bagi perempuan Malaysia menghadapi seksisme dan mikroagresi setiap harinya. Kehamilan bahkan sudah tidak suci lagi,” ujar Azira. “Pola pikir masyarakat kita bukan tentang memiliki akuntabilitas dan [mempraktikkan] sikap yang menghargai kepentingan umum. Sedih melihat lelaki dewasa bersembunyi di balik akun [troll] anonim untuk membuat komentar seksual terhadap perempuan hamil, tapi itu bukanlah hal yang mengejutkan.”

Lai mengecam keras keberadaan grup tersebut dan menyebutnya “gejala masalah yang lebih dalam” di Malaysia. “Ada tindakan arus bawah toksik dari kebiasaan menyalahkan perempuan, misogini, maskulinitas beracun dan perilaku predator—semuanya dilindungi impunitas belaka,” terangnya.

“Rasa berhak yang dimiliki laki-laki atas tubuh perempuan sangat bermasalah dan bisa berbahaya jika dibiarkan.”

Follow Heather Chen di Twitter.



  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *