Muncul Teori Baru Bercinta Tanpa Suara Desahan dan Erangan Lebih Menggairahkan

  • Bagikan



Memangnya kalau bercinta harus berisik? Perlukah kita mendesah agar gairah semakin membara?

Pertanyaan-pertanyaan ini sekilas terdengar sepele, tapi akhirnya bisa membuat kita bertanya lebih dalam tentang diri kita sendiri setelah memikirkannya baik-baik.

Apakah suara-suara yang keluar menjadi cara paling gampang menunjukkan kenikmatan? Ataukah ini hanya semacam pertunjukan yang dipengaruhi adegan panas di film-film, bahwa seks yang hebat menghasilkan ekspresi puas yang keras?

Pertengahan Oktober lalu, model dan aktris Inggris Cara Delevingne mengklaim seks yang lebih tenang dan senyap terasa lebih hot. Dia merasa kita telah “diajarkan” untuk mengeluarkan suara keras selama orgasme. “Saya ingat ketika berhenti mengeluarkan suara atau berusaha menahannya, dan itu hot banget,” katanya kepada pembawa acara Sarah Hyland dalam preview Lady Parts, seri video Ellentube.

Desahan memang penting dalam seks, tapi kebanyakan aktivitas seksual pasangan hetero membuatnya tampak seperti luapan kenikmatan. Walaupun begitu, suara-suara erotis tetap bermanfaat, baik itu untuk “menggambarkan nafsu yang intens”, mendapatkan perhatian maupun meningkatkan ego pasangan supaya mereka menginginkannya lagi. (Meski tak ada yang tahu kalian beneran mencapai klimaks atau hanya dibuat-buat.)

Lalu, bagaimana jika tidak memungkinkan bagi kita untuk bersuara di atas ranjang atau sebatas tidak ingin melakukannya? Hasil penelitian tahun 2011 menemukan 66 persen perempuan heteroseksual berusia 18-46 mengerang untuk mempercepat klimaks pasangannya, dan 87 persennya sengaja mengeluarkan desahan untuk meningkatkan harga diri laki-laki. Padahal, tidak susah memalsukan suara sensual. Contohnya seperti adegan ikonik di bawah ini.

Bagi Bidisha Das, perempuan 36 tahun yang bekerja di perusahaan IT, situasinya agak lebih rumit dari itu.

“Hubungan pernikahan saya penuh kekerasan fisik,” dia memberi tahu VICE. “Di saat-saat langka kami bersanggama, saya akan berpura-pura mendesah supaya dia cepat klimaks. Saya ingin seksnya cepat kelar.”

Di sejumlah masyarakat, mengekspresikan kepuasan seksual secara vokal memiliki arti tersendiri. Mentor hubungan intim Pallavi Barnwal di New Delhi, India, bercerita tentang kliennya yang tinggal bersama anggota keluarga lain di rumah kecil dekat rel kereta api. Kamar mereka hanya dipisahkan oleh tirai tipis.

“Mereka ingin mendesah semaksimal mungkin, tapi tidak bisa karena tidak punya privasi,” tuturnya. “Mereka menemukan cara baru — mengatur waktu orgasme setiap ada kereta yang lewat. Hanya durasi satu menit ini yang mereka miliki.”

Barnwal yakin seks senyap ada keuntungannya, minus kendala sosial. Dia mengatakan dalam beberapa kasus, aktivitas ini mungkin bertindak sebagai katalis untuk mengeksplor bagian tubuh pasangan dan sensasi baru.

“Kalian lebih menikmati momen ketika menutup mata dan merasakan jejak tenang jari-jemari pasangan di tubuhmu,” lanjut Barnwal. “Seks tak melulu harus dilakukan sekuat tenaga. Terkadang menjelajahi satu sama lain sudah cukup. Kalian bisa lebih memahami tubuhmu sendiri dan meluangkan waktu untuk melakukan percakapan yang jujur. Mungkin saja ada banyak area sensitif yang terlewati dalam hubungan seks yang cepat dan liar, tersembunyi di balik suara. Keheningan memberi kalian kebebasan untuk benar-benar merasakan tubuh satu sama lain.”

Namun, dalam beberapa budaya, memalsukan suara orgasme berhubungan erat dengan gagasan keperawanan dan moralitas. Barnwal, misalnya, pura-pura berteriak kesakitan di malam pertama. “Di masyarakat Asia Selatan seperti India, keperawanan dikaitkan dengan kesucian dan tanda perempuan baik-baik,” ujarnya.

Pragya Singh beranggapan harapan untuk mengeluarkan desahan sering kali berasal dari laki-laki, meski mungkin mereka tidak menyatakannya secara terang-terangan. Mahasiswi 22 tahun ini sebetulnya lebih menyukai seks senyap, tapi tetap mengerang agar pasangannya tidak bingung. “Pasangan saya lebih suka yang berisik, sehingga ini menjadi media komunikasi bagi kami. Saya pernah mencoba seks senyap, tapi mereka tak terlalu terangsang. Mereka suka mendengar erangan dan bisikan nakal. Rasanya seperti diinterogasi jika jarang bersuara. Mereka terus memastikan kalau saya puas.”

Dalam kasus Singh, ekspektasi tak langsung pasangannya mungkin bermaksud baik. Kalau tidak, menurutnya, lelaki biasanya meminta perempuan untuk tidak bersuara di situasi yang tak terkendali. “Mungkin ada orang di ruangan lain, makanya mereka meredam desahan kalian. Itu bisa bikin mereka sange karena memiliki kekuatan untuk memastikan kapan kalian bisa mendesah dan tidak.”

Pendidik seksualitas Karishma Swarup berpendapat ada lapisan lain dari gagasan seks senyap, terutama di negara-negara yang masih menganggap seks tabu. “Budaya kita jarang ngomongin seks, di mana perempuan kerap dipermalukan karena bersuara terlalu keras dan berisik,” terangnya. “Oleh karena itu, mendesah jadi tindakan pembebasan sama seperti tindakan merebut kembali ruang-ruang gairah.”

Swarup percaya meskipun bersuara saat ngeseks dapat dilihat sebagai hasil pengondisian budaya melalui pornografi dan budaya pop, tidak adil untuk menentukan jenis seks mana yang terbaik.

“Kita semua memiliki pengalaman seks yang berbeda-beda,” katanya. “Pada akhirnya, semua bermuara pada pertanyaan sama siapa kalian mendesah. Di hubungan yang sehat, menyuarakan perasaan adalah cara bagus memberikan umpan balik. Jika tidak, sama seperti hubungan penuh kekerasan yang nafsu berjalan satu arah, hal-hal bisa meningkat jadi pelecehan yang tenang, bukan seks senyap.”

Follow Arman Khan di Instagram.



  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *