Musim Durian Tahun Lalu

17 September 2021

[ad_1]

Ummi,  kemarin sore aku menikmati durian di Lampung. Buah yang kita suka menikmatinya rame-rame bersama anak-anak. Kembali aku ingat keindahan bersamamu. Maka, di Cengkareng ini hatiku tergerak menuliskan obituari kesepuluh untukmu ini. Obituari tentang durian sebagai salah satu cara kita menikmati kebahagiaan. Kebahagiaan keluarga. Kebahagianmu. Kebahagiaanku. Kebahagiaan anak-anak kita.

Musim durian tahun lalu, kita menikmati puncaknya dalam festifal tumpeng raksasa durian di Wonosalam. Pemicunya adalah seorang sahabat yang memposting di media sosial tentang event itu. Pendiri perusahaan perkekebunan durian itu mengumumkan adanya acara camping bersamaan dengan perhelatan besar itu. Kau langsung antusias saat kuajak ikut.

Dan, sore itu, selepas kau mengajar TPQ, kita berangkat berempat. Kau, aku,  Jo dan Disa. Enam buah hati yang lain sudah pada meninggalkan rumah karena menikah,  kuliah, maupun di pesantren. Sore itu kita berempat menikmati perjalanan menuju wonosalam dalam cuaca yang hujan deras nyaris sepanjang perjalanan. Jarak pandang terbatas.  Seperti biasanya kau selalu mengingatkan agar aku berhati-hati mengemudi dalam cuaca seperti itu. Kita menikmati kebersamaan perjalanan dengan kehati-hatian. Tetapi bersamamu, lambatnya laju kendaraan yang diakibatkannya pun sudah merupakan kegembiraan. Kita menikmatinya.

Tiba di lokasi, sahabatku bos kebun durian itu  langsung menyambut kita dengan setumpuk buah harum semerbak itu. Kita makan sepuasnya dalam keceriaan. Duriannya melimpah. Pembatasnya hanya perut kita. Paduan antara durian dan kebersamaan. Kebersamaan kita dengan anak-anak. Kebersamaan dengan sahabatku itu.

Kita puas-puaskan menikmatinya sebelum akhirnya tiba waktu adzan isya. Kita sholat jamak magrib dan isya di mushola kebun durian itu juga. Mushola di tengah kebun durian adalah sebuah kenikmatan tersediri. Berbalut keceriaan mondar mandir Jo dan Disa keluar masuk tenda. Bercengkerama menikmati suasana pegunungan.

Keesokan harinya kita bersama menikmati pesta akbar durian itu. Banyak pejabat datang untuk puncak acaranya. Kita gelar tikar sekedarnya di lokasi acara. Duduk-duduk menikmati keceriaan Jo dan Disa diterpa hangatnya sinar mentari pagi pegunungan nan menyehatkan. Diselingi keceriaan mereka naik komedi putar. Diselingi keceriaan kita menikmati aneka menu di para pedagang di sekitar lokasi acara.

&&&

Selengkapnya klik https://korporatisasi.com/2021/01/21/musim-durian-tahun-lalu/

[ad_2]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *