Nabi Isa dan Para Peragu, Mimpi dan Irisan Roti

Ilustrasi Nabi Isa. (Foto: Istimewa)

[ad_1]

Para sufi menganut ajaran Cita. Agama bukan dogma sehingga menjadikan umat fanatik membabi buta. Tapi, kaum sufi justru menjadikan cinta sebagai orientasi utama dalam menggumuli dimensti kerohanian terdalam dalam ajaran Islam.

Kisah itu, karenanya, tak melulu soal Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam (S.a.w) tapi juga terkait nabi yang lain, seperti Nabi Isa.

Berikut kisah tentang Nabi Isa, dipetik dari Kisah-Kisah Sufi, Kumpulan kisah nasehat para guru sufi selama seribu tahun yang lampau disusun Idries Shah (terjemahan: Sapardi Djoko Damono). Penerbit: Pustaka Firdaus, 1984.

Isa dan Para Peragu

Dikisahkan oleh Sang Guru Jalaludin Rumi dan yang lainnya bahwa pada suatu hari, Isa, putra Maryam, berjalan-jalan di padang pasir dekat Yerusalem bersama-sama sejumlah orang yang hatinya masih dikuasai ketamakan.

Mereka memohon agar Isa memberitahukan kepada mereka Nama Rahasia yang dipergunakanya untuk menghidupkan orang mati. Isa berkata, “Kalau kuberitahukan pada kalian, kalian akan menyalahgunakannya.”

Kata mereka, “Kami sudah siap dan pantas untuk mendapatkan pengetahuan semacam itu; lagipula, hal itu akan menguatkan iman keyakinan kami.”

“Kalian tidak tahu apa yang kalian minta,” katanya, tetapi diberitahukannya juga tentang Kata itu.

Segera sesudah itu, orang-orang tersebut berjalan di suatu tempat yang ditinggalkan dan mereka melihat setumpuk tulang yang sudah memutih. “Mari kita coba kekuatan Kata itu,” kata mereka satu sama lain, dan disebutkanlah Kata itu.

Tak lama setelah Kata itu diucapkan, tulang-tulang itu pun perlahan-lahan terbungkus daging dan menjelma menjadi seekor binatang buas liar, yang menerkam mereka sampai tercabik-cabik.

Mereka yang diberkahi akal budi akan mengerti. Mereka yang terbatas akal budinya bisa mengerti dengan belajar dari kisah ini.

Isa dalam kisah ini adalah Yesus, putra Maryam. Kisah ini mengandung gagasan yang serupa dengan yang ada dalam Sorcerer’s Apprentice, dan juga muncul dalam karya Rumi dan sering pula muncul dalam legenda-legenda lisan darwis tentang Yesus, yang jumlahnya banyak sekali.

Tradisi menyebutkan bahwa tokoh yang sering mengulang-ulang kisah ini adalah salah seorang dari orang-orang pertama yang menyandang gelar Sufi: Jabir bin Al-Hayyan, yang dalam bahasa Latin disebut Geber, yang juga perintis al-Kimia Kristen.

Ia meninggal tahun 790. Sebenarnya, ia adalah orang Sabean dan, menurut para pengarang Barat, ia membuat penemuan-penemuan kimia penting.

Mimpi dan Irisan Roti

Tiga orang musafir menjadi sahabat dalam suatu perjalanan yang jauh dan melelahkan; mereka bergembira dan berduka bersama, mengumpulkan kekuatan dan tenaga bersama.

Setelah berhari-hari lamanya mereka menyadari bahwa yang mereka miliki tinggal sepotong roti dan seteguk air di kendi. Mereka pun bertengkar tentang siapa yang berhak memakan dan meminum bekal tersebut. Karena tidak berhasil mencapai persesuaian pendapat, akhirnya mereka memutuskan untuk membagi saja makanan dan minuman itu menjadi tiga.

Namun, tetap saja mereka tidak sepakat. Malampun turun; salah seorang mengusulkan agar tidur saja.

Kalau besok mereka bangun, orang yang telah mendapatkan mimpi yang paling menakjubkan akan menentukan apa yang harus dilakukan.

Pagi berikutnya, ketiga musafir itu bangun ketika matahari terbit.

“Inilah mimpiku,” kata yang pertama. “Aku berada di tempat-tempat yang tidak bisa digambarkan, begitu indah dan tenang. Aku berjumpa dengan seorang bijaksana yang mengatakan kepadaku, ‘Kau berhak makan makanan itu, sebab kehidupan masa lampau dan masa depanmu berharga, dan pantas mendapat pujian.”

“Aneh sekali,” kata musafir kedua. “Sebab dalam mimpiku, aku jelas-jelas melihat segala masa lampau dan masa depanku.

Dalam masa depanku, kulihat seorang lelaki maha tahu, berkata, ‘Kau berhak akan makanan itu lebih dari kawan-kawanmu, sebab kau lebih berpengetahuan dan lebih sabar. Kau harus cukup makan, sebab kau ditakdirkan untuk menjadi penuntun manusia.”

Musafir ketiga berkata, “Dalam mimpiku aku tak melihat apapun, tak berkata apapun. Aku merasakan suatu kekuatan yang memaksaku bangun, mencari roti dan air itu, lalu memakannya di situ juga. Nah, itulah yang kukerjakan semalam.”

Catatan Renungan:

Kisah ini salah sebuah yang dianggap merupakan karangan Syah Mohammad Gwath Syatari, yang meninggal tahun 1563. Ia menulis risalah terkenal, Lima Permata, yang menggambarkan cara pencapaian taraf lebih tinggi manusia dalam terminologi sihir dan tenaga gaib, yang didasarkan pada model-model kuno. Ia merupakan Guru yang telah melahirkan lebih dari empat belas Kaum dan sangat dihargai oleh Maharaja India, Humayun.

Meskipun ia dipuja-puja beberapa kalangan sebagai orang suci, beberapa tulisannya dianggap oleh golongan pendeta sebagai menyalahi aturan suci, dan oleh karenanya mereka menuntutnya agar dihukum. Ia akhirnya dibebaskan dari tuduhan murtad, karena hal-hal yang dikatakan dalam keadaan pikiran yang istimewa tidak bisa dinilai dengan ukuran pengetahuan biasa.

Makamnya di Gwalior, yang merupakan tempat ziarah Sufi yang sangat penting. Alur yang sama juga dipergunakan dalam kisah-kisah Kristen yang tersebar di kalangan pendeta pada abad pertengahan.

Sumber: Kisah-Kisah Sufi, Kumpulan kisah nasehat para guru sufi selama seribu tahun yang lampau oleh Idries Shah (terjemahan: Sapardi Djoko Damono). Penerbit: Pustaka Firdaus, 1984.



[ad_2]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.