Ngayomi-Ngopeni Janji Manis Kampanye Bupati dan Wabup Bojonegoro

  • Bagikan
Tak sesuai janji kampanye "Ngayomi dan Ngopeni" warganya, Bupati dan Wakil Bupati Bojonegoro malah bertengkar. (Foto: Istimewa)


Anna Muawanah dan Budi Irawanto (Bu Anna-Mas Wawan) sebagai Bupati dan Wakil Bupati Bojonegoro periode 2018-2023 di Gedung Negara Grahadi, Surabaya, pada 24 September 2018. Saat itu, Gubernur Jawa Timur masih Soekarwo alias Pakde Karwo.

Usai dilantik, Anna Muawanah dan Budi Irawanto pulang ke rumah dinas Jalan Mas Tumapel. Mereka disambut dengan salawatan nariyah. Hari tu di rumah dinas sedang digelar khataman Alquran.

Malam harinya dilanjutkan tasyakuran rakyat di Pendapa Malwopati dengan pemotongan tumpeng. Tasyakuran rakyat melibatkan 100 PKL di sepanjang Jalan Mas Tumapel, dan 50 PKL di halaman Pendapa Malwopati. Masyarakat bisa menikmati kuliner secara gratis.

Cerita manis itu telah berakhir. Pucuk pimpinan di Bojonegoro sedang panas. Anna Muawanah dan Budi Irawanto sedang berseteru. Perseteruan itu berujung hingga ke polisi.

Wawan, sapaan Budi Irawanto, melaporkan Anna Muawanah ke Polres Bojonegoro, pada 9 September 2021. Pengaduan itu terkait dugaan pencemaran nama baik. Wawan melampirkan sejumlah alat bukti di antaranya transkrip percakapan di sebuah grup WhatsApp.

“Iya benar, saya buat pengaduan ke polisi. Karena ada percakapan di grup WA yang sudah menyerang secara pribadi, menyangkut harga diri keluarga, anak saya juga dikut-ikutkan. Bahkan ibaratnya saya yang bukan kader partainya dia, disuruh resign. Aku iki diusung PDI Perjuangan kok kowe ngongkon aku mundur teko jabatan wabup (Saya ini diusung PDIP kok kamu menyuruh saya mundur dari jabatan Wabup). Ini berarti sudah menyangkut harga diri partai juga ” tutur Wakil Bupati Bojonegoro.

Konflik Anna Muawanah dan Budi Irawanto yang diusung dari Partai PKB dan PDIP itu menjadi pergunjingan masyarakat di media sosial sampai di warung kopi di tengah penanganan pandemi Covid-19 serta perbaikan ekonomi rakyat.

Ditinjau berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah penduduk miskin di Kabupaten Bojonegoro, pada 2019 sebanyak 154 ribu orang atau sekitar 12.38 persen, lantas di tahun 2020 jadi sebanyak 161.000 orang atau sekitar 12.87 persen. Dengan adanya peningkatan angka kemiskinan sekitar 0.49 poin ini, maka tingkat kemiskinan di Kabupaten Bojonegoro masih menempati urutan 11 di Jawa Timur.

Kabupaten penghasil migas ini pun masih masuk kategori zona merah, dikarenakan angka kemiskinannya masih di atas rata-rata kemiskinan Provinsi Jawa Timur (11.09 persen) dan nasional (9.78 persen).

Dari data BPS ini, menunjukkan ada sekitar 7 ribuan orang miskin baru di Kabupaten Bojonegoro, yang merupakan bukan pekerjaan ringan buat pemerintah bojonegoro sebagaimana harapan Bupati Bojonegoro pada FGD (Focus Group Discussion) yakni “ekonomi hijau”.

Hal ini tentu tak sesuai dengan janji manis kampanye 2018 silam, di mana Bu Anna dan Mas Wawan berjanji akan “Ngayomi dan Ngopeni” warganya.



  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *