Ngobrol dengan Para Milenial yang Harus Menafkahi Orang Tuanya

  • Bagikan


Makin Banyak Generasi Milenial Harus Menafkahi Orang Tua dan Jadi Tulang Punggun

Foto disediakan oleh narasumber

Apa sebenarnya yang menjadikan generasi milenial sebagai pemalas, manja dan makhluk menyedihkan? Dari mana semua stereotip itu berasal?

Apakah karena kaum milenial berani bersuara tentang kesehatan mental dan dunia kerja toksik? Ataukah karena sebagian masih menumpang hidup dengan orang tua dan tak mampu membeli rumah sendiri, akibat harga rumah yang naik gila-gilaan dan persyaratan KPR yang tak masuk akal? Atau gara-gara penggambaran media tentang anak muda yang sukses berkat bantuan orang tua dan harta warisan? Padahal kenyataannya, tak semua orang di rentang usia ini hidup enak.

Satu hal yang sering dilupakan adalah usia tertua dari demografi ini sudah memasuki angka 40-an. Dengan kata lain, generasi milenial bukanlah anak-anak piyik seperti yang dipikirkan kebanyakan orang.

Saya bukan berasal dari keluarga yang berkecukupan. Ayah meninggal beberapa hari setelah saya lulus kuliah, sehingga saya berkewajiban membiayai kebutuhan keluarga. Tak ada sepeser pun warisan untuk saya. Semua tagihan otomatis menjadi tanggung jawab saya.

Saya yakin banyak milenial di luar sana yang senasib dan berjuang melawan kerasnya kehidupan. Tapi anehnya, media hanya mengangkat contoh-contoh buruk yang tidak mewakili keseluruhan generasi, seperti lelaki berusia 30-an di New York yang digugat orang tuanya karena masih menumpang.

Saya pun berbincang dengan empat narasumber yang membuktikan milenial juga pekerja keras dan mampu menghidupi diri sendiri. Alih-alih mendapat warisan, mereka justru membantu keuangan keluarga.

Usia yang tertera adalah usia narasumber ketika diwawancarai pada 2019.

Wawancara telah diterjemahkan dan disunting agar lebih ringkas dibaca.

Lamees, 23 tahun

Lamees

VICE: Seperti apa keadaan ekonomi keluargamu?

Lamees: Saya lahir di Timur Tengah dan pindah ke Kanada pada 2010. Semua orang sudah tahu kehidupan di Dubai sangat mewah dan mahal—keluarga saya juga hidup seperti itu dulu. Semua berubah setelah kami tinggal di Kanada. Ini umum terjadi: ayah imigran yang memiliki pekerjaan dan keahlian luar biasa kehilangan semuanya begitu pindah ke sini. Ayah tak kunjung mendapat pekerjaan baru. Ibu tidak bisa bekerja karena saudara perempuan saya sakit-sakitan.

Apakah kamu membantu keluarga?

Orang tua tidak pernah mengutarakannya langsung, tapi ibu sering menyinggung kalau mereka takkan mungkin membiayai hidup saya selamanya. Saya memahami itu. Jadi begitu saya menghasilkan cukup uang untuk ditabung, saya mulai membantu kecil-kecilan, seperti membayar makan malam saat pergi keluar. Saya akan membelikan tiket konser atau bioskop kalau ada yang ulang tahun. Saat ayah ibu mengadakan pesta kelulusan yang meriah, saya memberi amplop isi 1.000 Dolar kepada ibu karena pestanya mahal dan saya merasa tidak enak.

Bagaimana perasaanmu saat mengetahui harus membantu orang tua?

Saya pribadi merasa bangga. Saya senang karena bisa mengembalikan apa yang telah mereka berikan kepada saya. Tapi ada kalanya saya merasa marah. Entah kepada sistem yang mematahkan semangat ayah atau pada ayah yang tak mampu menghidupi kami atau pada keseluruhan sistuasi. Kayaknya saya baru bisa keluar dari rumah orang tua setelah menikah.

Shannon, 32 tahun

VICE: Apakah keluargamu hidup berkecukupan?

Shannon: Saya hanya dibesarkan oleh ibu dan hidup pas-pasan. Begitu saya mendapat pekerjaan, ibu membantu saya membuka rekening dan ternyata itu rekening bersama. Sesekali saya mengecek saldo dan jumlahnya tak pernah sesuai dengan yang saya ingat. Butuh waktu yang sangat lama untuk menyadari kalau saya tidak salah menghitung. Suatu hari saya mengecek saldo dan jumlahnya berkurang 300 Dolar. Saya menanyakan soal ini kepada ibu, tapi ibu hanya “Kamu ngomong apa sih.” Saya mulai menjaga jarak dari ibu saat masuk kuliah. Saya tinggal di asrama dan membuka rekening pribadi.

Apakah kamu masih suka kasih uang ke ibu?

Ibu memutus hubungan kami sebelum saya menikah dengan suami lima tahun lalu. Saat ibu tahu rencana saya untuk menikah, ibu bilang saya hanya akan merusak hidup sendiri dan takkan sanggup menjalaninya.

Wow. Lalu seperti apa perasaanmu melihat generasi milenial dicap pemalas dan manja?

Menurut saya, mereka hanya melihat dari sebagian kecil saja. Tak semua orang memiliki kemewahan itu. Saya membayar tagihan pakai uang sendiri bahkan saat masih tinggal bersama ibu. Orang-orang yang saya kenal juga tidak bergantung pada orang tua. Kami hidup dengan uang pribadi.

Kelvin*, 25 tahun

VICE: Seperti apa pengorbanan kamu untuk keluarga?

Kelvin: Saya masih tinggal bersama orang tua, meski sebenarnya saya punya apartemen pribadi di pusat kota Toronto. Saya sendiri yang membeli apartemennya, dan orang tua membantu saya mendapatkan hipotek—saya yang bayar. Saya akhirnya menyewakan apartemen dan tinggal bersama orang tua untuk menutupi hipotek dan tagihan mereka.

Apa yang membuatmu melakukan ini?

Saya menemukan rincian tagihan orang tua di atas meja sekitar dua tahun lalu. Saya membukanya dan berpikir kalau tagihan orang tua sangat besar, mengingat gaji mereka. Orang tua saya imigran, dan mereka banting tulang demi masa depan yang lebih baik untuk saya dan adik laki-laki. Saya berpikir sudah waktunya saya membantu orang tua.

Bagaimana teman-teman menyikapi pilihanmu?

Tergantung siapa orangnya. Beberapa berasal dari latar belakang yang serupa, jadi mereka bisa memahaminya. Sedangkan yang lain sering mengingatkan saya, kehidupan sosial saya akan jauh lebih baik jika pindah ke pusat kota. Tapi saya tak terlalu memusingkan omongan orang. Saya juga tidak perlu memberi penjelasan kepada mereka. Yang terpenting adalah saya membantu orang tua. 

Meg, 26 tahun

VICE: Apakah kamu mengirim uang untuk orang tua?

Meg: Saya tidak punya cukup uang untuk itu, terutama mengingat betapa mahalnya biaya sewa. Tapi saya masih membantu mereka. Misalnya, kalau stok deterjen sudah mau habis, saya yang akan membelinya. Saya membantu dengan hal-hal yang mungkin tidak mereka sadari, tapi saya senang bisa melakukan itu. Ayah ibu masih bekerja meski sudah tua. Kenyataan hidup mengharuskan mereka untuk terus bekerja. Jadi saya pasti akan membantu kalau ada yang bisa dibantu. Saya juga tidak pernah minta ini-itu kepada orang tua.

Bagaimana kamu menanggapi persepsi generasi milenial cuma bisa mengandalkan uang orang tua?

Benar-benar menyebalkan karena sudut pandangnya sempit banget. Saya kenal banyak anak muda yang tidak pernah meminta apa pun kepada orang tua, dan mereka tidak suka mengandalkan orang tua.

Menurutmu dari mana anggapan ini muncul?

Sangat mudah menggeneralisasi seluruh kelompok berdasarkan sikap segelintir orang.

Kalau memang anak mengandalkan uang orang tua, berarti ada yang salah dengan cara kalian mengasuh anak. Tidak adil menganggap semua generasi milenial sama, ketika aslinya kalian yang mengajarkan anak untuk memberi tahu kalian setiap butuh uang atau bantuan. Itu salah kalian sendiri, bukan orang lain.

*Nama telah diubah atas permintaan narasumber

Artikel ini pertama kali tayang di VICE Canada

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *