NU Berkaromah!

  • Bagikan
As'ad Said Ali. (Ilustrasi: fa vidi/Ngopibareng.id)


Menjelang muktamar ke-34 Nahdlatul Ulama (NU) di Lampung (23-25 Desember 2021), ada baiknya saya mengangkat cerita menarik di balik Muktamar NU di Makassar pada 2010. Tiga hari sebelum muktamar saya menemui Prof Muis Kabri, ketua Darul Da’wah wal Irsyad (DDI) di Makassar untuk suatu keperluan. Sudah lama saya bersahabat dengan beliau, seorang ulama Ahlussunnah Waljamaah (Aswaja) yang mempunyai integritas tinggi.

Ketika itu saya masih menjabat Waka BIN. Saya menanyakan siapa yang favorit menjadi pilihan sebagai Rais Aam. Beliau menjawab bahwa Indonesia Timur mayoritas mendukung KH Hasyim Muzadi dan hal itu sudah menjadi kesepakatan tidak tertulis. Sebenarnya kalau KH MA Sahal Mahfudh masih bersedia, pilihan jatuh ke beliau.

Kemudian saya sampaikan informasi bahwa atas prakarsa Rais NU Jateng, KH Masruri Mugni (alm) dan Rais Suriah NU Yogya Kiai Ashari Abta berlangsung pertemuan sejumlah Kiai Sepuh, yang mendaulat Kiai Sahal untuk bersedia dipilih kembali.

Prof Muis Kabri tampak terkejut dan menggeser duduknya terlihat kaget. Beliau kemudian mengatakan, “Lho kenapa KH Hasyim Muzadi mengatakan KH Sahal Mahfudh tidak mau dipilih lagi?. Kalau begitu saya akan lapor KH Sanusi Baco (alm)’ — seorang ulama sepuh yang berpengaruh di Indonesia Timur.

Pilihan Berubah

Pilihan pun berubah kepada KH MA Sahal Mahfudh. Penghormatan atau takdzim kepada Kiai senior merupakan nilai yang dijunjung tinggi dalam tradisi NU. Nilai-nilai kebajikan seperti itulah yang menjadikan NU sebagai Organisasi yang mempunyai Karomah dan disegani.

Kata “NU Berkaromah”, istilah itu saya peroleh sekitar tiga bulan sebulan sebelum berlangsung Muktamar Makassar dari Kiai Sahal Mahfudh. Beliau menanyakan siapa-siapa yang siap menjadi pengganti Rais Aam,”karena saya sudah tua”, tanya beliau. Saya sebut 11 nama dari Pulau Jawa dan Luar Jawa. Ketika sampai pada “nama seorang kiai”, beliau mengatakan , Insya Allah kalau NU masih ada karomahnya, yang terpilih tidak nama itu.

Karena atas permintaan beliaulah saya bersedia menjadi Wakil Ketua Umum PBNU. Di samping itu KH Said Aqil Siroj juga secara langsung meminta agar saya mau mendampinginya sebagai wakilnya. Padahal jabatan sebagai Waka BIN baru habis pada 2012 atau masih dua tahun tersisa.

Semoga Muktamar ke-34 NU di Lampung akan berjalan lancar dan bersih dari noda yang dapat mengotori wajah NU. Semoga NU tetap berkaromah.

KH DR As’ad Said Ali

Pengamat Sosial Politik, Wakil Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama periode 2010-2015. Tinggal di Jakarta.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *