NU Jatim Sebut Penetapan Awal Ramadhan Bisa Berbeda

Ilustrasi pemantauan hilal untuk menentukan awal Ramadhan (Foto: Istimewa)

[ad_1]

Ketua Pengurus Wilayah Lembaga Falakiyah Nahdlatul Ulama (LFNU) Jawa Timur (Jatim) KH Shofiyullah atau Gus Shofi menyebut penentuan awal Ramadhan tahun 2022 bakal sangat krusial.

Sebab, kata Gus Sofi, kemungkinan keputusan pemerintah berbeda dengan dua ormas besar di Indonesia, yakni Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah. 

“Ini nanti seru. Nanti masyarakat akan ditawari dua pilihan, (awal Ramadhan) Sabtu dan Minggu (2 April atau 3 April 2022),” kata Gus Shofi, Sabtu, 26 Maret 2022.

Pemerintah senidir akan menggelar sidang isbat penentuan awal Ramadan 1443 Hijriah pada Jumat, 1 April 2022. Isbat dilaksanakan setelah tim gabungan dari seluruh Indonesia melakukan pemantauan hilal.

Metode hisab wujudul hilal

Di sisi lain, Muhammadiyah sudah mengeluarkan keputusan bahwa awal Ramadhan jatuh pada Sabtu, 2 April 2022. Hal tersebut ditentukan berdasarkan metode hisab wujudul hilal.

Sedangkan NU bakal memutuskan awal Ramadhan melalui hasil pemantauan hilal atau rukyatul hilal yang akan dilaksanakan serentak di seluruh Indonesia pada Jumat, 1 April 2022 di 27 titik di Indonesia.

“Di Jatim sendiri tim kami dari Lembaga Falakiyah NU akan melakukan pemantauan hilal di 27 titik,” ucapnya. 

Apabila ada tim NU yang melihat hilal, maka awal Ramadhan 1443 Hijriah jatuh pada Sabtu, 2 April 2022. Namun jika hilal tidak terlihat maka bulan Sya’ban disempurnakan 30 hari atau istikmal, dan awal Ramadan diputuskan jatuh pada Minggu, 3 April 2022.

Gus Shofi mengungkapkan, ada perberdaan kriteria yang diberlakukan oleh pemerintah dengan NU terkait batasan ketinggian hilal. Sebab, NU mensyaratkan hilal yang dilihat minmal 2 derajat.

“Sementara pemerintah tahun ini memegang pendapat bahwa ketinggian hilal saat dipantau minimal tiga derajat dan elongasi minimal 6,4,” ujar dia. 

Padahal, menurut Gus Shofi, secara astronomi pada 1 April 2022, nanti ketinggian hilal diperkirakan tidak sampai tiga derajat, hanya dua derajat lebih sedikit. 

Artinya, jika kemudian salah satu atau lebih tim LFNU di seluruh Indonesia melihat hilal, bisa saja pemerintah tidak akan mempertimbangkan itu dan tetap memutuskan awal Ramadan jatuh pada 3 April 2022.

“Alasannya itu tadi, minimal ketinggian hilal yang dipegang pemerintah yaitu tiga derajat dan minimal elongasi 6,4,” jelasnya

Jika itu yang terjadi, kata Gus Shofi, maka keputusan sidang isbat soal awal Ramadan yang diputuskan pemerintah sangat mungkin akan berbeda dengan NU dan Muhammadiyah. 



[ad_2]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.