Nyaris Roboh Diguncang Gempa, Kini Rumah Tukinem Berdiri Lagi

Kapolres Blitar menyerahkan kunci rumah secara simbolis kepada Mbah Tukinem. (Foto: Choirul Anam/Ngopibareng.id)

[ad_1]

Wajah keriput Mbah Tukinem, Jumat, 2 Juli 2021 pagi tak bisa menyembunyikan kebahagiaannya. Rumahnya di Desa Boro, Kecamatan Selorejo, Kabupaten Blitar yang hampir roboh akibat diguncang gempa bumi pada April dan Mei sekarang sudah berdiri kokoh.

Bukan hanya itu, lantai rumahnya yang dulu hanya berupa tanah, kini mengkilap karena sudah dipasang keramik. “Iya, maturnuwun Pak Kapolres,” ujar Tukinem saat ditanya wartawan bagaimana perasaannya setelah rumahnya selesai direnovasi.

Rumah Mbah Tukinem adalah salah satu rumah yang rusak kategori berat akibat diguncang gempa bumi yang berpusat di selatan Kabupaten Malang pada 10 April lalu.

Tidak hanya mengalami keretakan parah pada beberapa sudut dinding rumahnya, salah satu sisi dinding rumah Tukinem bahkan roboh.

“Saya sedang tiduran di sini, pas ada lindhu (gempa), saya bangun. Tahu-tahu kok rumah jadi terang. Ternyata karena dinding itu ambruk,” kata janda berusia 85 tahun itu mengenang saat terjadi gempa bumi Malang.

Meski rumahnya rusak parah, Tukinem tetap menempati rumah kecil yang terbuat dari dinding batako itu. Hingga pada 22 April malam rumahnya kembali diguncang gempa, kali ini berpusat di selatan Kabupaten Blitar dengan magnitudo 5,9.

Meski tidak sampai membuat rumahnya roboh, rumah Tukinem menjadi semakin ringkih. Saat Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mengunjungi rumahnya pada 22 Mei lalu, Khofifah menyatakan kekhawatirannya bahwa rumah Tukinem bisa roboh sewaktu-waktu.

Khofifah spontan meminta Tukinem sementara waktu pindah ke rumah tetangga atau saudaranya. Tapi Tukinem menolak dengan alasan tidak ingin merepotkan orang lain.

Situasi itu ditangkap Kapolres Blitar AKBP Leonard M Sinambela yang bersama jajarannya mengambil inisiatif untuk merenovasi rumah milik Tukinem.

Leo, panggilan Leonard, menerjunkan sejumlah personelnya untuk terlibat langsung dalam renovasi rumah Mbah Tukinem.

“Anggota kami ada yang mencetak batako untuk rumah Mbah Tukinem,” ujarnya kepada awak media Jum’at, 02 Juni 2021 di Desa Boro kecamatan Selorejo Kabupaten Blitar

Leo mengaku biaya renovasi rumah Tukinem tidak memakan biaya terlalu besar. Hal itu karena pengerjaannya dilakukan dengan gotong royong banyak pihak.

Dia menyebut keterlibatan personel TNI dan juga PNS di tingkat kecamatan hingga perangkat desa.

“Dan yang paling mengesankan adalah partisipasi warga sekitar. Sehingga rumah Mbah Tukinem dapat diselesaikan dalam waktu 16 hari,” terangnya.

Leo menggarisbawahi kuatnya budaya gotong royong di masyarakat Kabupaten Blitar seperti terlihat pada kegiatan renovasi rumah Tukinem yang diinisiasi Polres Blitar.

“Dan hari ini, kami persembahkan kerja sosial dengan gotong royong ini sebagai bentuk bakti sosial kami dalam memperingati HUT Bhayangkara ke-75,” ujar Leo saat memberikan sambutan pada penyerahan kunci rumah Tukinem.



[ad_2]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.