Pakai Kuah Ronde, Cara Lain Konsumsi Kue Keranjang

Proses pengemasan kue keranjang (Foto: Aini Arifin/Ngopibareng.id))

[ad_1]

Aroma khas ketan bercampur legitnya gula karamel, itulah yang pertama kali menyambut saat memasuki dapur rumah Tok Swie Giok, yang beralamat di Jalan Raden Patah, Sidoarjo. Tok Swie Giok adalah satu-satunya pembuat kue keranjang di kota Delta hingga sekarang. 

Kue dengan nama lain nian gao atau tie kwe dalam dialek Hokkian ini menjadi hidangan primadona saat perayaan Tahun Baru Imlek, maka tak heran jika Tok Swie Giok kebanjiran pesanan saat Imlek tiba. 

Dalam sehari, Tok Swie Giok menghabiskan sekira 30 kg tepung ketan untuk memenuhi pesanan para pelanggannya. Bukan hanya dari Sidoarjo, bahkan kue keranjang juga terbang ke Bali. Jakarta, Kalimantan, dan Sulawesi.

“Dulu, pas sebelum pandemi pesanan kue keranjang sehari bisa sampai 40 kg, sekarang menurun sekitar 20 sampai 30 kilogram an,” ucap Tok Swie Giok, Sabtu, 29 Januari 2022. 

Sambil memindahkan kue yang sudah matang ke loyang, Tok Swie Giok menceritakan, bisnis tersebut dilakoninya sejak tahun 1980. Waktu itu ia dibantu anak-anaknya berjualan secara keliling di sekitar Porong. 

Kue bulat berwarna coklat karamel ini dibanderol dengan harga Rp 17 ribu per biji. Dengan harga terjangkau ia berharap kue keranjang bisa dinikmati oleh semua kalangan. 

“Kue keranjang bisa disajikan bermacam cara, dicampur kuah ronde, ditaburi kelapa parut, dibotok atau diberi santan juga bisa,” jelasnya.

Tan Tek Swee, anak ketiga dari Tok Swie Giok menjelaskan cara membuat kue keranjang sambil memperagakan, mencampur bahan tepung ketan, gula pasir, dan karamel. Setelah diuleni dituang ke cetakan berbentuk bulat kemudian di kukus selama 4 jam. Setelah matang, di jemur sekira 10 menit untuk menghilangkan uap air. 

“Setelah kering lalu dibersihkan biar tidak lengket kemudian dirapikan, baru dikemas,” jelasnya sambil memasukkan kue keranjang ke dalam kemasan.

Tan Tek Swee mengklaim kue keranjang buatan ibunya bisa tahan hingga seminggu di suhu ruangan. Jika dimasukan kulkas bisa lebih dari seminggu meskipun tanpa pengawet. 

“Mengukusnya harus 4 jam agar benar-benar tanek,” imbuhnya. 

Kue keranjang disajikan dengan kuah ronde (Foto: Aini Arifin/Ngopibareng.id))
Kue keranjang disajikan dengan kuah ronde (Foto: Aini Arifin/Ngopibareng.id))

Nur Hidayah pelanggan kue keranjang Tok Swie Giok mengaku kue disini lebih empuk dan enak dibanding tempat lain. Meskipun bahan dasarnya sederhana namun susah untuk meniru cita rasa khas kue keranjang buatan Tok Swie Giok. 

“Buktinya, sejak puluhan tahun hingga kini, di Sidoarjo tidak ada pembuat kue keranjang selain Tok Swie Giok. Biasanya saya campur dengan kuah ronde hangat,” pungkasnya.



[ad_2]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.