Pakaian Digital Diprediksi Bakal Jadi Tren Fesyen Baru

  • Bagikan


Pakaian digital berbasis augmented reality bakal jadi tren fashion terbaru

Kolase: VICE / Foto: Stephy Fung

Dunia fesyen digital hampir tak ada bedanya dengan industri mode saat ini. Para desainer merancang kaus, kemeja, gaun, celana, rok, sepatu dan lain-lain, tapi kreasi mereka tak berbentuk fisik. Pakaiannya baru akan kelihatan melalui augmented reality dan edit foto digital.

Aksesori digital sebetulnya sudah lama populer dalam bentuk filter media sosial dan “skin” game—para pemain game seperti Fortnite bisa membeli kostum yang biasa disebut “skin” dan memodifikasi avatar mereka menggunakannya. Industri game sendiri diperkirakan meraup keuntungan miliaran dolar dari penjualan skin. Lalu ada CEO Facebook Mark Zuckerberg yang mengumumkan ketertarikannya membangun metaverse. Walaupun kedengarannya aneh dan futuristik, membaurkan fitur digital dengan fisik bukan hal yang mustahil.

Kini banyak desainer yang menciptakan busana digital untuk orang-orang yang berani mengekspresikan diri dan mendorong batas-batas kreatif. Bisa dibilang, fesyen digital semakin nge-hype belakangan ini.

Dhanush Shetty, manajer produk di San Francisco, awalnya merasa aneh ketika membeli pakaian digital pertamanya. Namun, lelaki 22 tahun itu mengakui bajunya lebih murah dan gampang didapatkan. Selain itu, rasanya lebih etis daripada membeli pakaian asli.

“Saat belanja pakaian, kalian biasanya harus memikirkan bajunya cocok atau tidak, seperti apa tampilannya di foto, dan terkadang, seberapa etis pembeliannya. Saya tidak perlu khawatir kelihatan “lebih gede” dengan fesyen digital atau pakaiannya diproduksi di sweatshop [julukan pabrik yang mengeksploitasi tenaga buruh],” Shetty memberi tahu VICE.

Dia membeli pakaian virtual di DressX, perusahaan yang menjual desainnya sendiri dan hasil kolaborasi dengan desainer digital lain sejak Agustus 2020.

Pelanggan DressX bisa mencoba-coba pakaian dengan teknologi augmented reality. Setelah menemukan yang disukai, mereka mengunggah foto diri melalui situs web atau aplikasi untuk “dibikinkan” pakaian sesuai dengan tubuhnya. Pelanggan akan menerima foto yang telah diedit secara profesional sekitar 1-2 hari kemudian. Mereka kini mengenakan pakaian yang lain daripada yang lain, bagus buat dipamerkan ke medsos.

“Kami bertujuan memberikan pakaian digital untuk setiap orang,” tutur co-founder DressX Natalia Modenova.

Dia dan rekan co-founder Daria Shapovalova tinggal di Los Angeles dan berpengalaman di garmen. Banyak isu yang mereka harap dapat diselesaikan dalam sektor ini.

Komisi Ekonomi Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Eropa menyebutkan industri fesyen berada dalam kondisi darurat lingkungan dan sosial. Mereka memperkirakan industri pakaian menghasilkan 20 persen air limbah dan 10 persen emisi karbon global, serta menjadi penyumbang utama sampah plastik di lautan. Sementara itu, industri fast fashion terkenal akan kondisi kerjanya yang berbahaya.

Label fesyen digital memang masih harus memperhitungkan proses produksi yang intensif energi di dunia digital, sama seperti pembuatan NFT. Namun, Modenova dan Shapovalova mengaku telah menemukan solusi atas berbagai masalah industri dalam fesyen digital, yang memungkinkan seseorang untuk “mengenakan” pakaian keren sesering mungkin tanpa harus diproduksi secara fisik.

Shapovalova memprediksi, semua orang akan memiliki pakaian digital di masa depan. Pakaian itu “bisa dikenakan di media sosial, foto, panggilan video, konferensi online dan segera di dunia gaming dan multiverse lainnya.”

Menurutnya, keuntungan lain dari pakaian digital yaitu desainer dapat memulai karier di dunia fesyen tanpa mengeluarkan biaya produksi yang teramat besar.

Stephy Fung sudah merasakannya sendiri. Seniman 3D di London ini awalnya ditugaskan menciptakan lingkungan 3D—seperti texturing, animasi kamera dan pencahayaan—untuk iklan pakaian digital.

“Saat itu, saya belum mengetahui caranya menciptakan fesyen digital, [tapi] saya kagum dan bersemangat menyaksikan desainer digi-fashion menciptakan pakaian dari sesuatu yang tidak ada. Dari situlah saya menyadari keterampilan 3D saya melengkapi mode digital,” ujarnya.

Sekarang Fung “mengenakan” ciptaannya sendiri.

“Saya memakainya secara digital karena ingin menggambarkan apa yang mungkin terjadi dengan fesyen digital. Pakaian digital juga membuat penampilan saya lebih keren daripada di dunia nyata,” lanjut Fung.

Dia menambahkan, bagian terbaik dari fesyen digital adalah orang bisa mengenakan pakaian yang mustahil untuk diciptakan secara nyata.

“Kalian bisa mengenakan pakaian yang melayang dan tidak memiliki gravitasi. Kalian bisa memiliki pakaian yang menyala warna-warni. Kalian bisa punya baju yang tulisan atau polanya berubah-ubah—kemungkinannya tidak terbatas dan sangat menyenangkan.”

Roei Derhi adalah pendiri label fesyen digital Placebo yang desainnya juga ditampilkan di DressX. Dia mengatakan, fesyen digital mampu membawa orang ke dunia yang berbeda.

“Menurut saya, bagian terbaik dari fesyen digital adalah ada efek eskapisme di dalamnya. Fesyen digital lebih besar dari kenyataan. Orang tak hanya berpakaian biasa, mereka mengenakan fantasi,” kata Derhi.

Dia percaya pakaian digital memberikan cara membuat konten medsos yang lebih berkelanjutan. Dewasa ini, tampil kece di medsos merupakan salah satu alasan utama orang berbelanja pakaian.

Studi, yang dilakukan perusahaan perbankan online Inggris Barclaycard, menunjukkan hampir satu dari 10 orang Inggris membeli pakaian secara online hanya untuk memakainya sekali saja, dengan tujuan memposting foto outfit ke medsos. Setelah itu, mereka mengembalikan pakaian yang dibeli.

“Jika [pakaian] hanya dipakai untuk penampilan digital, kenapa tidak beli pakaian digital saja?” tanya kreator augmented reality bernama Doddz di Manchester, Inggris. 

Doddz menemukan dunia fesyen digital saat meriset cara penggunaan augmented reality di industri tekstil. Dia berpikir hanya menunggu waktu sampai orang-orang yang paham mode mengenakan pakaian digital di dunia nyata. Dia memperhatikan orang-orang sudah memakai kacamata dan topi virtual bermodalkan filter Instagram. Merek-merek seperti Louis Vuitton dan Balenciaga juga telah merambah industri skin game.

“Kita semua menuju gaya hidup dan bekerja di berbagai metaverse, atau dunia digital. Dengan meningkatnya kepedulian orang terhadap kehadiran online mereka, maka fesyen digital akan menjadi hal yang lazim,” terang Doddz.

“Mengapa pencinta mode tidak tertarik mengenakan pakaian indah yang mustahil diciptakan secara nyata, dengan objek melayang di sekitarmu?”

Follow Romano Santos di Instagram.



  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *