Viral  

Pandemi, Pengusaha Patung di Mojokerto Menjerit

Pekerja pemahat patung di Kecamatan Trowulan Mojokerto.(Deni Lukmantara/Ngopibareng)


Situasi pandemi Covid-19 seperti saat ini membuat sejumlah karya perajin patung di Mojokerto menumpuk dan tak terjual. Pasar ekspor yang biasanya menjadi andalan, hampir tidak ada sama sekali. Sepinya pembelian ini pun membuat pengusaha terpaksa menggaji pekerja dengan memakai uang tabungan.

Ngopibareng.id mengamati di salah desa di Kecamatan Trowulan, Mojokerto. Kecamatan ini memang dikenal hingga ke mancanegara sebagai kampung perajin arca atau patung.

Misalnya di Dusun Jatisumber, Desa Watesumpak, perajin patung, terlihat sibuk memahat batu andesit besar. Dengan menggunakan palu dan linggis kecil pekerja pemahat memukul secara berulang ulang mulai bagian kepala hingga bagian badan patung.

Batu besar itu diperhalus dengan menggunakan gerinda. Setelah digerinda, batu tersebut telah membentuk salah satu tokoh ternama dalam agama Buddha. Yakni, patung Tribuana Tungga Dewi.

“Dulu sampai puluhan pekerja pemahat, sekarang tinggal sekitar tujuh pekerja karena orderan sepi,” kata pengusaha kerajinan patung Ribut Sumiyono 58 tahun kepada Ngopibareng.id, Jumat 30 Juli 2021.

Tempat usaha kerajinan patung milik Ribut itu memproduksi banyak model patung, mulai dari Patung Ganesha, Patung Tribuana Tunggadewi, Patung Dewa Wisnu dan lain lain. Namun produksi patung ditengah pandemi Corona ini menurun drastis. Bahkan hampir tidak ada sama sekali pesanan dalam waktu satu bulan terakhir.

Pekerja pemahat patung di Kecamatan Trowulan Mojokerto membuat ukiran batu lingga yoni.(Deni Lukmantara/Ngopibareng)

Patung-patung yang diproduksi oleh Ribut ini biasanya dikirim ke pulau Bali hingga ekspor ke Eropa. Dulu sebelum pandemi penghasilannya tembus Rp 100 juta per bulan. Untuk saat ini pesanan patung ekspor pun tak ada sama sekali.

“Untuk menembus Bali saja susah, apalagi untuk ekspor tidak ada sama sekali. Yang ada hanya lokal saja, seperti ke Surabaya. Itu pun paling satu sampai dua icon patung. Bisa juga tidak ada sama sekali, beberapa bulan ini tidak ada sama sekali,” ujarnya.

Untuk menggaji pekerja pemahat pun ia harus memakai uang tabungan. Bahkan harus mengurangi jumlah pekerja. “Terpaksa harus mengurangi tenaga pekerja. Ini saja gaji harus pakai uang tabungan,” ucapnya.

Tak hanya pengusaha patung, pekerja pemahat patung pun juga merasakan dampak dari pandemi Corona.

Seperti yang diungkapkan oleh Bayu 32 tahun, sebelum pandemi Covid-19 melanda, dalam kurang waktu satu bulan ia bisa mendapatkan penghasilan dari memahat patung sebesar Rp2,5 juta sampai Rp5 juta.

“Sekarang satu bulan mengerjakan satu patung saja sudah bagus. Dari satu patung itu biasanya Rp 2 sampai 2,5 juta,” ungkapnya.

Bahkan, kata Bayu, dalam waktu satu tahun terakhir hanya tiga kali pengiriman patung. Berbeda dengan sebelum pandemi, dalam satu bulan sekitar 50 sampai 100 patung yang dikirim baik ekspor maupun kota-kota besar di Indonesia.

“Sebelum pandemi masih banyak pesanan untuk lokal maupun ekspor. Sekarang dalam satu tahun ini hanya tiga kali pengiriman saja,” tandasnya.



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *