PCR Cuma Serharga 90 Ribu !!! Begini Tanggapan Dirut Biro Farma

  • Bagikan

JAKARTA – Direktur Utama PT Bio Farma (Persero) Honesti Basyir membuka struktur pembentuk harga pada reagen, komponen terbesar yang menentukan harga tes PCR. Informasi ini disampaikan di tengah polemik tingginya harga PCR beberapa waktu terakhir di masyarakat.

“Memang dari struktur cost, terbesar itu adalah dari komponen reagen utamanya,” kata Honesti saat memenuhi panggilan rapat Komisi BUMN DPR di Jakarta, Selasa, 9 November.

Bio Farma merupakan salah satu produsen reagen di tanah air.Mereka sudah mengembangkan reagen dengan merek mBioCov-19 sejak 2020. Saat ini, Bio Farma telah memproduksi 2,4 juta test (satuan kuantitas reagen) per bulan dan akan ditambah menjadi 5 juta test per bulan.

Sedangkan versi kedua adalah harga tes PCR yang menggunakan mesin-mesin buatan Tiongkok.

Tes PCR menggunakan mesin produksi Tiongkok pun ada dua versi harga reagen, tergantung pada fasilitas kesehatan yang memberi layanan.

Menurutnya, berdasarkan hasil diskusi dengan pengusaha, ada importir yang meminjamkan alat tes PCR produksi Tiongkok pada sejumlah layanan kesehatan.

“Fasilitas kesehatan tidak perlu mengeluarkan uang tapi disediakan oleh para importir. Dalam artian importir itu memberikan mesin dari Tiongkok yang harganya tak sampai Rp400 juta, tapi diikat,” tuturnya.

Ikatan itu berupa para fasilitas kesehatan tersbeut harus membeli reagennya dari importir, dengan syarat pembelian minimal 1.000 per bulan atau 25 ribu kit, nantinya alat itu menjadi milik fasilitas kesehatan.

Jika fasilitas kesehatan penyedia layanan PCR menggunakan mesin yang diberikan oleh importir, harga satuan reagen adalah Rp60 ribu.

Sedangkan fasilitas kesehatan yang menggunakan mesin sendiri, harga reagen di pasaran hanya Rp 13 ribu.

“Kalau fasilitas kesehatan tidak membeli dari importir dijual sekitar Rp13 ribu per reagen. Kedua, kalau diikat oleh para importir itu, fasilitas kesehatan membeli seharga 60 ribu per reagen,” tegasnya.

Dia menambahkan, alat tes PCR produksi Tiongkok tersebut hanya menggunakan sekali ekstraksi, dan hal itu cukup mengkhawatirkan.

“Yang sangat kami khawatirkan, artinya jangan-jangan ada false positif dalam PCR ini.”

“Tapi menurut kami struktur cost ini mungkin akan sedikit berbeda, tergantung dari lab nya masing-masing, dan juga dari bisnis model yang dilakukan,” kata dia.

Menurut Honesti, angka-angka di atas merupakan struktur harga yang ada di Lab Diagnostik yang ada di Bio Farma. “Mungkin nanti di Kimia Farma dan Indofarma yang mereka punya lab jauh lebih besar, mungkin akan memberikan gambaran sedikit berbeda,” kata dia.

Di sisi lain, Kementerian Kesehatan beberapa waktu lalu telah mengumumkan harga tes PCR tertinggi di masyarakat. Untuk Jawa Bali Rp 275 ribu dan luar Jawa Bali Rp 300 ribu.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *