PDB Merosot, Akankah China Lampaui Keunggulan AS?

  • Bagikan
Mata uang China, Yuan.


Dalam masa pandemi Covid-19 sebagian besar negara di dunia mengalami keterpurukan. Pendapatan Domestik Bruto (PDB) pun tentu saja menurun.

Bagaimana kondisi China saat ini? Inilah sejumlah pendapat yang menganalisis hal itu, dirangkum Ngopibareng.id dari pelbagai sumber.

Langkah Xi Jinping Ambisi BRI

Di bawah pemerintahan Xi Jinping yang telah menjabat sejak 2012 itu, perekonomian China diprediksikan akan melampaui Amerika Serikat dengan pencapaian 35 triliun USD pada 2034 berdasarkan Tabel liga perekonomian dunia 2021 analisa Pusat Riset Bisnis dan Ekonomi (CEBR).

China turut menjadikan Belt and Road Initiative (BRI) yang merupakan inisiatif ambisius Xi Jinping untuk menjadikan Tiongkok sebagai raksasa ekonomi dunia.

BRI ini setidaknya meliputi lebih dari 2.600 proyek berlangsung di 100 negara dengan anggaran hingga trilunan rupiah.

PDB China dan Amerika Serikat

Dalam kondisi pandemi memang semua negara mengalami kebangkrutan. Meski mengalami penurunan signifikan pada kuartal kedua, namun PDB China unggul di atas Amerika Serikat (AS).

Berdasarkan data Biro Analisa Ekonomi dari Kementerian Perdagangan, PDB AS pada kuartal kedua 2021 sebesar 6.6 persen. Kenaikannya pun tidak begitu signifikan dari kuartal pertama, yakni 6.3 persen.

Tiongkok sejauh ini merupakan salah satu negara komunis dengan kekuatan besar di antara lima negara komunis lainnya.

Kasus Baru Pandemi Covid-19

Setelah enam bulan dinyatakan bebas kasus COVID-19, China kini dihadapkan dengan penemuan kasus yang tersebar di 18 provinsi. Tercatat 124 kasus terjadi di puluhan kota di Tiongkok dan disebabkan oleh varian delta.

Pemerintah Wuhan sendiri telah memutuskan untuk menguji kembali sekitar 12 juta penduduknya.

Pejabat Senior Wuhan Li Tao mengatakan, pengujian dilakukan untuk mengetahui pasti jumlah kasus yang terjadi, terutama terhadap mereka yang tanpa gejala.

“Kami memutuskan untuk melakukan pengujuian secara cepat kepada seluruh penduduk di kota untuk melakukan screen out secara komprehensif untuk mengkonfirmasi kasus serta infeksi tanpa gejala untuk mencegah melambungnya epidemi,” ungkap Tao dalam konferensi pers, dikutip Sabtu 7 Agustus 2021.

Riset Global BOFA

Di tengah munculnya kasus COVID-19 yang kembali terjadi, mata dunia juga tertuju pada pertumbuhan ekonomi China yang mengalami penurunan signifikan pada kuartal kedua di 2921. Tercatat, Pendapatan Domestik Bruto (PDB) pada kuartal pertama sebesar 18.3% turun menjadi 7.9% pada kuartal kedua yang diumumkan pada Juli lalu.

Kepala Riset Global BOFA, Ekonom Tiongkok Helen Qiao menilai meski melambat, namun pihaknya optimistis pertumbuhan ekonomi Tiongkok dapat meningkat dengan adanya dukungan dari sektor investasi.

“Nah, menurut kami masih banyak ruang untuk investasi infrastruktur lebih lanjut, termasuk jenis investasi lama, yang seperti yang Anda gambarkan, Jalan Raya Kereta Api dan juga bandara. Selain itu kita juga memiliki banyak jenis infrastruktur baru, misalnya, menara 5G, misalnya, Pengembangan Perkotaan dan banyak jenis lainnya.

“Belum lagi jenis investasi terkait lingkungan ketika Tiongkok masih terikat berkomitmen untuk, 20, 30 (tahun-red) karbon, Anda tahu, puncak pada akhirnya tujuan jangka panjang,” ujar Qiao dalam wawancara di Bloomberg Markets and Finance baru-baru ini.

Penerbitan Obligasi

Menurut Qiao, Pemerintah Tiongkok juga perlu mengatasi perlambatan pertumbuhan ekonomi dengan langkah alternatif, seperti penerbitan obligasi.

“Sebaliknya kami mencari percepatan dalam laju penerbitan Obligasi Pemerintah Daerah dan juga beberapa relaksasi dalam pengendalian kredit. Terutama dalam hal diskriminasi terhadap pemerintah daerah dan pengembang,” terang Qiao.

Penyeimbang Alami Kondisi Pandemi

Arthur Dong, Profesor dari Universitas Sekolah Bisnis McDonough, Arlington, Virginia, berpendapat, penurunan PDB Tiongkok dalam kuartal kedua berpeluang besar dikarenakan sektor manufaktur yang tergantikan dengan peningkatan di sisi jasa selama pandemi COVID-19.

“Jadi ini adalah bagian dari penyeimbangan kembali alami ekonominya, karena semakin banyak lapangan kerja di sektor jasa dan peluang mulai tergeser sektor manufaktur. Dan inilah yang biasanya Anda inginkan untuk melihat ekonomi berkembang,” ungkap Profesor Dong dalam wawancara di CGTN America.

Namun, Dong berkeyakinan, tantangan yang dihadapi sektor manufaktur Tiongkok selama pandemi COVID-19 tidak perlu dikhawatirkan, sebab dinilai sebagai jeda sementara.

Terkunci dan Terisolasi

“Ada begitu banyak permintaan yang kuat di awal tahun ini, untuk semua jenis produk yang berarti manufaktur Tiongkok bagus, seperti hal-hal seperti furnitur, rumah tangga, barang elektronik konsumen. Maksud saya, dunia sebagai akibat dari COVID-19, terkunci dan terisolasi di rumah mereka dan meningkat setidaknya untuk sementara permintaan global untuk banyak produk ini,” ucap Dong.

“Setelah produk dan barang-barang ini dibeli, Anda akan mulai melihat penurunan permintaan untuk produk-produk ini karena sedikit kenormalan mulai kembali. Pada titik ini, saya tidak akan terlalu khawatir tentang hal itu. Saya hanya berpikir itu adalah jeda sementara,” tutur Dong



  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *