Peduli Nutrisi Dan Sanitasi, Wujudkan Indonesia Bebas Stunting

  • Bagikan


Sumba Barat Daya, SuaraKupang.com – Berdasarkan Studi Status Gizi Balita Indonesia (SSGBI) tahun 2019, angka prevalensi stunting di Indonesia masih 27,67 persen. Presiden Joko Widodo pun menargetkan angka prevalensi stunting dapat turun menjadi 14 persen di tahun 2024, di mana target penurunan ini sudah berada di bawah ambang batas angka prevalensi stunting yang ditetapkan oleh Bahan Kesehatan Dunia (WHO), yaitu 20 persen.

Demikian disampaikan Direktur Informasi dan Komunikasi Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) Wiryanta dalam Forum Kepoin GenBest bertajuk “Peduli Nutrisi dan Sanitasi, Auto Bebas Stunting,” yang diselenggarakan secara daring untuk remaja di Kabupaten Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur, Senin (23/8/2021).

“Komitmen pemerintah dalam mengupayakan penurunan prevalensi stunting sangat kuat. Hal ini dibuktikan dengan 9,4 persen Anggaran Belanja Negara di tahun 2022 akan dialokasikan untuk sektor kesehatan, salah satunya untuk pencegahan stunting,” ujar Wiryanta. Ia menambahkan, komitmen yang kuat ini harus didukung oleh segenap lapisan masyarakat khususnya remaja, dengan cara melakukan upaya pencegahan stunting mulai dari diri sendiri.

Penurunan angka prevalensi stunting sangat penting dilakukan karena berkaitan dengan sumber daya manusia dan pembangunan manusia Indonesia yang memiliki daya saing dan kompetisi yang tinggi, sehingga mampu bersaing secara global serta memiliki jati diri dan karakter Indonesia.

Tim Komunikasi, Informasi, dan Edukasi Stunting Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Eka Sulistia Ediningsih menjelaskan, setidaknya 1 (satu) dari 3 (tiga) anak Indonesia mengalami stunting. Stunting adalah kondisi gagal tumbuh optimal karena kekurangan gizi kronik yang cukup lama dan bertahun-tahun sejak anak di dalam kandungan sampai berusia 5 (lima) tahun. ”Hal ini sangat berbahaya karena stunting tidak hanya menghambat pertumbuhan anak tetapi juga menghambat kecerdasannya serta rentan mengalami penyakit,” ujar Eka. Ia menambahkan, pencegahan stunting bisa dilakukan dengan menjaga asupan nutrisi, tidak hanya untuk anak di dalam kandungan, bayi, maupun balita, tetapi juga remaja yang kelak akan menjadi calon orang tua.

Senada dengan pernyataan Eka, Nutrisionis Rindra Prameswari, atau akrab disapa Memes, mengatakan stunting sangat penting untuk dicegah karena tidak hanya menghambat pertumbuhan tetapi juga menyebabkan kematian anak. “Dari penelitian yang ada, ternyata stunting itu 15-17 persennya menyebabkan kematian anak. Seandainya anak yang stunting ini selamat kelak akan kurang berprestasi di sekolah serta ketika beranjak dewasa ia akan kurang produktif sehingga tidak bisa bersaing dengan anak-anak yang tidak stunting di masa kecilnya,” ujar Memes.

Memes menambahkan, pencegahan stunting harus dimulai sejak 1000 Hari Pertama Kehidupan, yaitu dari masa konseptus atau masa pembuahan hingga usia 2 (dua) tahun. yang merupakan periode awal di mana seorang anak harus diberikan gizi yang tepat. “Asupan gizi yang diberikan harus memenuhi berupa zat gizi makro dan mikro. Zat gizi makro berupa protein, lemak, dan karbohidrat sedangkan zat gizi mikro berupa vitamin dan mineral,” kata Memes. Ia melanjutkan, zat gizi makro dan mikro bisa didapatkan dari makanan sehari-hari.

Eka menjelaskan, pencegahan stunting juga harus dilakukan dengan menjaga kebersihan lingkungan atau sanitasi. “Sanitasi ini sangat berpengaruh pada penyebab terjadinya stunting. Salah satu contohnya, perilaku buang air kecil dan buang air besar sembarangan menyebabkan bakteri di mana-mana dan menyebabkan berbagai penyakit, salah satunya diare,” jelasnya. Lebih lanjut, Eka menuturkan, diare yang berkepanjangan menyebabkan nutrisi tidak terserap dengan baik sehingga terjadilah kekurangan gizi.

Menjaga kebersihan, lanjut Eka, bisa dilakukan dari hal-hal sederhana seperti tidak buang air sembarangan, selalu mencuci tangan pakai sabun, menjaga makanan dan minuman dari sumber yang bersih, serta melaksanakan pengelolaan sampah dengan memilah sampah basah dan kering. Dalam hal ini, sebisa mungkin sampah basah tidak didiamkan di dalam rumah karena dapat mencemari lingkungan. Selain itu, perlu dilakukan mengaturan pembuangan limbah agar lancar dan bersih.

Memes pun mengungkapkan, kebersihan lingkungan dan sanitasi harus dimulai dari diri sendiri. “Biasanya masih banyak orang-orang di sekitar kita yang kalau mau tidur tidak sikat gigi, padahal salah satu cara kita untuk menjaga kebersihan diri adalah menyikat gigi sebelum tidur,” ungkapnya.

Eka berpesan kepada remaja agar bersama-sama dan bahu-membahu dengan pemerintah serta tokoh masyarakat mengupayakan agar Indonesia bebas dari stunting. Sedangkan Memes mengajak remaja untuk mulai hidup sehat dengan cara menerapkan pola gizi seimbang, pola tidur yang cukup dan tidak tidur larut malam, berolahraga minimal 30 menit sehari, serta menjaga kebersihan. “Ayo sadar stunting, mari kita putus mata rantai stunting bersama. Jangan lupa peduli nutrisi dan sanitasi, auto bebas stunting,” tutupnya.

Forum Kepoin GenBest yang diadakan kali ini merupakan bagian dari kampanye GenBest (Generasi Bersih dan Sehat), yang merupakan inisiasi Kemenkominfo untuk menciptakan generasi Indonesia yang bersih dan sehat serta bebas sunting. GenBest mendorong masyarakat, khususnya generasi muda, agar menerapkan pola hidup bersih dan sehat di kehidupan sehari-hari. Melalui situs genbest.id dan media sosial @genbestid, GenBest juga menyediakan berbagai informasi seputar stunting, kesehatan, nutrisi, tumbuh kembang anak, sanitasi, maupun reproduksi remaja dalam bentuk artikel, infografik, serta videografik.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *