Pejuang Kemanusiaan asal NTT, Suster Eustochia Wafat

  • Bagikan
Pejuang Kemanusiaan asal NTT, Suster Eustochia Wafat


Pejuang kemanusiaan dan pemberdayaan perempuan, Suster Eustochia Monika Nata, SSPs wafat pada Senin, 8 November 2021 jam 02 pagi. Perempuan berusia 77 tahun dilarikan ke Rumah Sakit Santo Gabriel Kewapante, Maumere, Provinsi Nusa Tenggara Timur untuk mendapat perawatan. Namun nyawanya tidak tertolong.

Ucapan duka mendalam mengalir dari berbagai daerah atas kematian biarawati kelahiran Ende tanggal 26 Desember 1943. Penyakit jantung merengut nyawanya.

“Selamat jalan Suster Eustochia SSPs!.” Kalimat ini muncul dalam berbagai tanggapan di grup whatsapp di NTT.

Suster Eustochia dikenang sebagai pejuang hak perempuan dan pemberdayaan perempuan untuk keluar dari kemiskinan, keterbelakangan pendidikan, serta mandiri secara finansial. Rekam jejak sebagian besar aktivitas biarawati ini ada di Pulau Flores.

Suster Esto, sapaan akrabnya, menjadi pemimpin dalam Tim Relawan untuk Kemanusiaan atau TRUK F. Lembaga ini bersifat independen dari lembaga keagamaan maupun pemerintah.

Dalam perjalanan Suster Esto aktif dalam menyelamatkan kemanusiaan mulai dari bencana alam, kekerasan terhadap anak dan perempuan. Dia kemudian aktif menentang maraknya perdagangan manusia (human trafficking).

Pelaku kejahatan perdagangan manusia ini menarget perempuan-perempuan, baik anak-anak maupun dewasa. Mereka bekerja di dalam maupun di luar negeri demi menghidupi keluarga mereka.

Gabriel Goa dari Pelayanan Advokasi untuk Keadilan dan Perdamaian (Padma) Indonesia kepada KatongNTT menulis kenangannya termasuk komunikasi terakhirnya dengan Suster Estho kepada KatongNTT.com

“Mama Eustochia,SSPS saya kenal dekat saat bersama-sama membantu Korban Tsunami Aceh-Nias.Pejuang kemanusiaan tanpa mengenal suku,agama,ras dan golongan.Bagi Mama Eustho mereka manusia ciptaan Tuhan. Apalagi Korban voice of the voiceless, Gebi kita wajib menolong dan tidak perlu pujian.Bahkan kita dihina dan dicacimaki ya Gebi jangan pernah mundur.

Pasca bencana Aceh-Nias berlanjut bersama Mama Eustho untuk mendampingi Korban terutama Perempuan dan Anak yang jadi Korban Kekerasan baik fisik maupun psikis,Korban Perempuan dan Anak Berhadapan Hukum serta selamatkan dan dampingi Korban Human Trafficking. Perjuangan membela Korban voice of the voiceless Mama Eustho lakukan hingga Bapa di Surga menjemputnya. Hari Sabtu,6 November 2021 kami masih minta Doa dan dukungan untuk membela Korban Tindak Pidana Perdagangan Orang Asal Desa Abi,Timor Tengah Selatan,Nusa Tenggara Timur Adelina Sau.

Mama Eustho dukung total pembentukan Koalisi Masyarakat Pembela Adelina Sau Korban Human Trafficking(KOMPAS KORHATI).Mama ingin sekali ikut Aksi Sejuta Lilin untuk Adelina.Sau,Dolfina Abuk dkk Korban Human Trafficking yang pulang dalam peti mati ke NTT,webinar,lobi dan advokasi baik di NTT,Jakarta maupun di Malaysia. Pernah Mama mengeluh soal penegakan hukum kasus human trafficking anak-anakasal Jawa Barat yang terkesan mau displit bukan Tindak Pidana Perdagangan Orang.

“Mama kalau kita hanya bersurat saja,mereka sonde toe, perlu aksi dan lobi di nasional biar tidak dipetieskan atau diesbatukan perkara TPPOnya,” kugosok Mama Suster.

“Baik kami akan Demo dan Gebi di Jakarta nanti kawal hingga proses hukum TPPO berjalan ya.Tolong Mama ya Gebi.”

Selamat Jalan Pejuang Kemanusiaan kami akan setia melanjutkan perjuangan Mama dan jadilah Pendoa untuk kami yang masih mendampingi Korban Human Trafficking, voice of the voiceless Ad Maiorem Dei Gloriam.RIP Mamaku, Bahagia Abadi di Rumah Bapa di Surga.

Hari ini, jenazah Suster Eustochia disemayamkan di Gereja Katolik St. Thomas Morus Maumere, seperti dikutip dari Enbeindonesia.com.

Prosesi pemakaman akan dilaksanakan pada Selasa, 9 November 2021 di Pekuburan Wairkoja, Kota Maumere. Selamat jalan Suster Eustochia menuju rumah keabadian. (Rita Hasugian)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *