Pemerintah Meksiko Gugat Pabrikan Senjata AS, Dianggap Fasilitasi Kekerasan Kartel

  • Bagikan


Pemerintah Meksiko Gugat Pabrikan Senjata AS, Dianggap Fasilitasi Kekerasan Kartel

Senapan serbu kaliber .50 buatan pabrik AS ini disita aparat Meksiko dari anggota kartel. Photo: BERNARDO MONTOYA/AFP via Getty Images.

Pengacara yang mewakili pemerintah Meksiko menggugat beberapa produsen senjata api di Pengadilan Federal Negara Bagian Massachusetts, Amerika Serikat. Dalam sidang awal yang berlangsung pada Rabu, 4 Agustus 2021, pengacara mengajukan gugatan dengan asumsi pabrikan senjata sengaja dan sadar menjual senapan hingga pistol ke wilayah Meksiko.

“Kebijakan pabrikan senjata ini yang tidak memantau peredaran produknya, secara otomatis memfasilitasi aktivitas kartel dan pelaku kriminal lain di Meksiko leluasa melakukan kekerasan,” demikian kutipan naskah gugatan di pengadilan.

Perusahaan yang tergugat di antaranya Smith & Wesson, Beretta, Century Arms, Colt, Glock, dan Ruger. Senapan mesin, pistol, hingga peluncur roket yang mereka produksi kerap ditemukan di wilayah yang dikuasai kartel narkoba. Salah satu senjata favorit kartel, menurut pemerintah Meksiko adalah, senapan jitu Barrett kaliber .50. “Senapan tersebut dianggap sebagai andalan kartel-kartel narkoba sebagai senjata andalan untuk melawan aparat keamanan.”

Selain pabrikan senjata AS, pemerintah Meksiko turut menggugat beberapa toko dan distributor senjata api di kawasan Kota Boston, Massachusetts, yang dengan gampang memperjualbelikan senapan. Dari jaringan ini, menurut pengacara, kartel dapat pasokan senjata untuk diselundupkan balik ke Meksiko.

Gugatan resmi ini menandai untuk pertama kalinya Meksiko tidak sekedar memprotes tindak tanduk perusahaan senjata, yang seakan dibiarkan begitu saja oleh pemerintah Negeri Paman Sam. Meksiko sudah berulang kali mengeluhkan longgarnya aturan penjualan senjata di negara tetangganya itu, yang menguntungkan aktivitas kartel.

Berdasarkan data terkini, lebih dari 500 ribu senjata api buatan Amerika dalam berbagai jenis masuk ke wilayah Meksiko tiap tahun. Selain itu, merujuk data 2019, sebanyak 17 ribu warga negara Meksiko terbunuh akibat senjata api buatan Amerika. Angka itu bahkan jauh lebih tinggi dari kematian akibat senjata api di AS, yang per tahun menewaskan 14 ribu orang.

“Kami merasa pabrikan senjata tidak bisa berdalih bahwa mereka tidak sadar kalau produknya berperan dalam tragedi yang dialami masyarakat Meksiko. Setiap pabrikan senjata yang digugat secara sadar meneruskan praktik lancung, dan tahu kalau mereka ikut diuntungkan para kriminal,” demikian keterangan pengacara Meksiko.

VICE News berusaha meminta komentar dari jubir tiap perusahaan senjata yang digugat, namun tidak mendapat balasan hingga artikel ini tayang.

Dalam gugatannya, Meksiko belum mengajukan angka ganti rugi. Menurut Alejandro Celorio, selaku anggota tim hukum Kementerian Luar Negeri Meksiko, nilai kompensasi minimal bisa mencapai US$10 miliar. Angkanya amat besar, karena mencakup biaya penyediaan jaket anti peluru bagi tiap personel kepolisian yang menyedot APBN Meksiko, hingga kerugian imateriil seperti trauma warga sipil.

Pengadilan Federal Amerika pada 2005 menolak gugatan sejenis yang diajukan warganya sendiri, dengan alasan pabrikan senjata tidak bisa disalahkan bila terjadi pembunuhan atau dipakai untuk kejahatan. Namun muncul perubahan vonis hakim selama tiga tahun terakhir, menurut Celorio, yang membuat Meksiko menemukan celah untuk coba menggugat pabrikan senjata.

Vonis yang dimaksud Celoria adalah putusan Mahkamah Agung Amerika Serikat pada 2018, yang membolehkan keluarga korban penembakan massal murid SD Sandy Hook untuk menggugat produsen senjata api. Selain itu, pada Juli 2021 lalu, hakim di Negara Bagian California menetapkan produsen senapan serbu AR-15 bersalah, karena memasarkan senjata berbahaya dengan citra “keren” menyasar anak muda.

Smith & Wesson, sebagai pembuat senapan serbu yang bisa dimodif jadi senapan otomatis ini, aktif membuat iklan di sosmed mempromosikan AR-15. Senjata itu dipakai pelaku penembakan sinagog di San Diego, yang usianya masih kepala dua.

Menurut pengamat, gugatan pemerintah Meksiko ini belum tentu dimenangkan juri. Tapi melihat ada perubahan politik dalam negeri AS soal kebijakan senjata api, muncul sebersit kemungkinan hasilnya bakal mengejutkan.

“Bisa saja Mesiko mendapatkan hakim dan tim juri yang bersimpati pada gugatan mereka. Jika gugatan ini menang, maka dampaknya terhadap bisnis senjata di AS akan sangat besar,” kata Ioan Grillo, penulis buku Blood Gun Money: How America Arms Gangs and Cartels. “Setidaknya, dengan adanya gugatan di pengadilan, pemerintah AS akan dipaksa lebih serius mengawasi aliran penjualan senjata dari negaranya ke Meksiko.”

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *