Pengakuan Para Cowok yang Sulit Punya Anak

[ad_1]

Toby Trice sudah cukup lama menikah, tapi dia dan pasangan tak kunjung dikaruniai anak. Segala upaya yang telah mereka lakukan tidak pernah membawa kabar baik. 

Lelaki 31 tahun yang tinggal di Kent, Inggris merasa dunia seolah runtuh ketika mengetahui alasan mereka sulit punya anak. Ternyata dia tidak subur. Meskipun begitu, mereka belum menyerah dan memutuskan menjalani program bayi tabung. Percobaan pertama gagal.

Pasutri itu mencoba lagi sekitar empat tahun lalu. Namun, hasilnya sama saja. Berulang kali gagal mendapatkan keturunan membuat Trice stres berat dan putus asa. Dia sampai nekat ikut balap gokar untuk lupa sejenak dari masalahnya.

“Saya depresi dan merasa sendirian. Saya tidak tahu harus ke mana mencari dukungan,” ujar Trice. “Saya malu karena tidak bisa punya anak. Balap gokar sebulan sekali menjadi pelarian untukku.”

Lelaki yang kini menjadi pembalap profesional didiagnosis mengalami pembengkakan pembuluh darah di testis. Lebih dikenal sebagai varikokel, kondisi tersebut menyebabkan penurunan produksi sperma hingga kemandulan pada laki-laki.

Kemandulan cenderung dianggap sebagai masalah yang hanya dialami perempuan. Padahal, menurut studi yang dilaksanakan European Society of Human Reproduction and Embryology (ESHRE) pada 2017, laki-laki telah mengalami penurunan produksi sperma sebesar 50 persen selama 40 tahun terakhir. Setengah dari kasus infertilitas dapat dikaitkan dengan faktor yang muncul pada laki-laki. Di Inggris sendiri, satu dari tujuh pasangan susah dapat momongan.

“Saya menangani fasilitas yang mendiagnosis kesuburan laki-laki selama 27 tahun. Sepanjang waktu itu, saya sering bertemu laki-laki yang mengira mereka orang pertama yang berobat ke sana,” ungkap Allan Pacey, profesor andrologi (kesehatan pria) di Universitas Sheffield. “Kesadaran [tentang infertilitas pada laki-laki] masih rendah.”

Sementara pasien perempuan mudah mendapatkan informasi terkait kemandulan, kurangnya pemahaman tentang infertilitas pria dapat menimbulkan stigma, yang pada akhirnya membuat laki-laki malu membicarakan masalahnya. Hal ini bisa menghambat dunia kedokteran menemukan solusi terbaik untuk mengatasi ketidaksuburan pada kaum adam.

“Hanya karena tidak mengancam jiwa, masalah kesuburan pria dianggap kurang penting. Penanganannya berada di urutan terbawah dan kurang pendanaan,” terangnya.

Akibatnya, masih sedikit sekali informasi tentang bagaimana infertilitas memengaruhi laki-laki dari berbagai etnis dan orientasi seksual. Transpria yang berusaha punya anak juga menghadapi banyak tantangan.

Sebagian besar data seputar gangguan kesuburan ini berasal dari peserta program bayi tabung, yang kebanyakan berjenis kelamin perempuan. Dengan demikian, tak ada rincian demografi yang nyata pada lawan jenis. Pacey menyebut dikarenakan kurangnya minat, laki-laki tidak punya pilihan selain berobat ke ginekolog.

Trice awalnya menemui ginekolog untuk berkonsultasi tentang hasil pemeriksaan air maninya. Dia yakin ini satu-satunya cara yang tersedia kala itu.

“Kenapa tidak ada yang berspesialisasi pada kesuburan laki-laki?” tanyanya. “Bahkan sampai kami menjalani program bayi tabung, pilihan yang tersedia hanyalah dokter spesialis [kesehatan reproduksi perempuan]. Saya baru menemukan seseorang yang biasa menangani kesuburan pria setelah berobat ke dokter swasta.”

Berdasarkan penjelasan Sheryl Homa, direktur studi sains di klinik Andrology Solutions, Pelayanan Kesehatan Nasional Inggris (NHS) cenderung hanya memberikan tes air mani untuk memeriksa kesuburan laki-laki, berbeda dari perempuan yang mungkin akan ditawarkan tes darah untuk memeriksa ketidakseimbangan hormon. Ini berarti pasien laki-laki harus spesifik saat mengajukan tes lebih lanjut kepada dokter umum. Di Inggris, hanya dokter swasta yang menawarkan jenis tes kesuburan lebih baru, seperti fragmentasi DNA sperma atau pengukuran stres oksidatif (yang menguji kualitas sperma). Biayanya tentu tidak murah.

Gangguan kesuburan ini tak jarang memengaruhi kesehatan mental laki-laki.

“Sulit sekali menerima kenyataan ini,” tutur Kevin Button, warga South Wales yang dinyatakan mengidap Sertoli cell-only syndrome delapan tahun lalu. Kondisi ini membuat testis tidak mampu menghasilkan sperma.

Kurangnya dukungan sosial memperburuk masalah kejiwaannya, hingga akhirnya Button terjerumus dalam penyalahgunaan narkoba.

“Saya malu mengatakan ini, tapi saya mengonsumsi alkohol berlebihan dan memakai narkoba. Hubungan saya kandas dan akhirnya pulang ke rumah ayah,” kata Button. “Perasaan saya campur aduk dan sulit berpikir jernih karena kurang dukungan.”

Sekarang dia menjalin hubungan dengan orang baru, dan mereka berharap bisa punya anak. Sulitnya menemukan bantuan di Inggris mendorong Button berpartisipasi di kompetisi California IVF, yang akan menggratiskan program bayi tabung kepada pemenang. Button menjadi pemenang lomba, tapi terpaksa membatalkan perjalanan ke AS karena pembatasan COVID-19. Dia tidak menyesal telah ikut lomba ini.

“Jujur saja, kita siap melakukan segalanya supaya bisa punya anak,” ucapnya.

Gwenda Burns, kepala eksekutif Fertility Network UK, merasa anak-anak harus diajarkan mengenai kesuburan sejak dini. “Ada begitu banyak area [yang memengaruhi] infertilitas pria,” terangnya. “Mengedukasi anak sejak dini dapat menjadikannya sebagai sesuatu yang wajar, sehingga orang tak lagi malu untuk membicarakannya. Hal ini bisa memengaruhi banyak sekali faktor gaya hidup.” 

Itulah sebabnya Fertility Network UK meluncurkan seri video Your Future Fertility di YouTube. Video edukasi ini ditujukan untuk memberi informasi kepada pelajar tentang hal-hal yang menurunkan kesuburan laki-laki. Gaya hidup yang tidak sehat, seperti merokok dan mengonsumsi minuman keras berlebihan, bisa menyebabkan infertilitas.

Representasi media dapat meningkatkan keberanian laki-laki untuk menceritakan masalah kesuburan mereka. Program acara TV seperti Friends, video dokumenter macam The Easy Bit, dan pertunjukan komedi Stand Up to Infertility, memang bisa mengangkat diskusi seputar infertilitas pria. Tapi sayangnya, menurut pakar, penggambarannya relatif masih jarang sehingga sulit untuk memberikan dampak berkepanjangan.

Trice dan Button bekerja keras menutupi celah-celah tersebut.

Setelah memantapkan karier sebagai pembalap profesional, Trice berperan aktif membangun kesadaran masyarakat akan infertilitas pria. Dia menjadi duta besar Fertility Network UK dan menempelkan logo organisasi di atas mobil balapnya. Dia juga berpartisipasi dalam grup HIMfertility yang didirikan oleh komedian Inggris Rhod Gilbert.

Sementara itu, Buton membuat The Man Cave, akun Instagram dan situs web yang menawarkan support group dan sumber daya yang dibutuhkan oleh lelaki kurang subur.

“Beban saya sungguh luar biasa,” ungkap Button, bercerita soal peluncuran situs tersebut. “Banyak yang mengirim pesan untuk menyemangati saya, bahwa semuanya akan baik-baik saja. Mereka mengalami situasi yang sama.”

Support group semacam ini menciptakan ruang aman bagi laki-laki dan perempuan yang ingin membicarakan tentang infertilitas. Button biasanya mengadakan pertemuan untuk diskusi bareng, sedangkan Trice memanfaatkan teknologi digital untuk menarik anggota dari seluruh dunia.

“Siapa saja boleh ikut chat Zoom kami dan ngobrol [tentang infertilitas],” kata Trice. “Obrolan ini sering kali menambah wawasan mereka tentang kesuburan pria… Ini membantu mereka lebih terbuka tentang jalan yang mereka lalui.”

[ad_2]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.