Penumpang Selfie Sebabkan Perahu Terbalik di Waduk Kedungombo, 9 Orang Tewas

  • Bagikan


Kecelakaan Perahu Terbalik di Waduk Kedungombo tewaskan 9 orang

Tim Basarnas yang melakukan evakuasi korban perahu terbalik di Waduk Kedungombo, Boyolali, pada 16 Mei 2021. Foto via AFP

Sebuah perahu penyeberangan yang mengangkut 19 penumpang dan 1 nakhoda terbalik di Waduk Kedungombo di Desa Wonoharjo, Kemusu, Boyolali, Jawa Tengah pada Sabtu pekan lalu (15/5). Peristiwa itu terjadi sekitar pukul 11.00 WIB ketika perahu hendak membawa wisatawan libur Lebaran menuju restoran apung di tengah waduk, berjarak 50 meter dari daratan. Sebanyak 11 orang berhasil selamat, 9 orang lainnya tewas, termasuk remaja dan bayi.

Menurut keterangan Kapolda Jawa Tengah Irjen Ahmad Luthfi, perahu terbalik menjelang tiba di restoran apung disebabkan oleh beberapa penumpang yang selfie. Para penumpang itu bergerak ke arah depan perahu membuat perahu tak seimbang dan terbalik.

“Sebenarnya itu mau sampai ke tujuan yakni Warung Apung, tapi tiba-tiba banyak yang bergeser maju ke depan perahu untuk foto selfie. Akhirnya, perahu tak seimbang, menjungkal dan terbalik, semua penumpang terlempar tercebur ke waduk,” ujar Luthfi, Minggu (16/5), dikutip CNN Indonesia.

Tinuk, salah satu korban selamat, juga mengungkapkan penyebab yang sama. “Posisi penumpang saat berswafoto banyak yang ada di depan kapal sehingga air mulai masuk dan kapalnya terbalik,” Tinuk mengatakan kepada Kompas.

Saksi mata di tempat mengatakan, begitu perahu terbalik, warga langsung berusaha menyelamatkan penumpang. “Saya sedang bakar ikan, tiba-tiba banyak orang berteriak minta tolong. Perahu-perahu kecil di pinggir langsung mendayung ikut membantu menyelamatkan, tetapi hanya 11 orang yang selamat,” kata Kardiyo Erna kepada Kompas.

Untuk mengevakuasi sisa korban yang masih tenggelam, sebanyak 70 penyelam dan 700 anggota tim evakuasi darat diturunkan dari Tim Reaksi Cepat BPBD Boyolali, Basarnas, TNI, dan Polri. Menurut Kepala Basarnas Semarang Nur Yahya, jasad korban meninggal tidak mengambang ke permukaan sehingga harus dijaring.

Para korban adalah wisatawan dari Boyolali dan Grobogan, Jawa Tengah. Sebelas orang berhasil diselamatkan hari itu juga. Di antara korban selamat adalah nakhoda perahu, seorang anak lelaki berusia 13 tahun. Sementara 8 dari 9 korban meninggal ditemukan bertahap sepanjang Sabtu-Minggu. Korban meninggal terakhir baru ditemukan pada pukul 05.00 pagi tadi, seorang remaja perempuan yang jasadnya mengambang. Semua korban dievakuasi ke RSUD Waras Wiris Andong Boyolali.

Sesudah kejadian, polisi menyoroti absennya alat keselamatan di perahu, nakhoda yang masih anak-anak, serta kapal yang overkapasitas. Bocah nahkoda yang kini menjadi saksi kunci mengakui tak ada jaket pelampung di perahunya. Kapal itu juga kelebihan penumpang, berkapasitas 14 orang namun mengangkut 20 orang. Polisi berencana memeriksa pengelola tempat wisata.

“Kita sudah turunkan tim dari Ditpolair untuk menyelidiki kasus ini. Pemeriksaan masih berlangsung termasuk pengelola tempat wisata akan kita periksa juga karena lalai,” tambah Luthfi.

Kejadian ini direspons Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo dengan memperingatkan pengelola tempat wisata yang tidak mematuhi standar operasional prosedur (SOP). Ia mengancam izin tempat wisata bisa dicabut. “Tantangan mereka [pengelola tempat wisata] saat ini, selain mengendalikan pengunjung, faktor yang tidak boleh diabaikan adalah keselamatan. Maka seperti yang berkali-kali saya ingatkan, kalau tidak bisa dikontrol, tutup saja. Saya minta SOP ditaati,” kata Ganjar, dikutip Kompas.

 Kedungombo adalah waduk buatan yang dibangun pemerintah Soeharto sepanjang 1985-1989 dengan cara menggusur hingga 5.268 warga di 37 desa, lalu menenggelamkan kampung halaman mereka. Waduk ini didirikan dengan utang dari Bank Dunia dan Bank Exim Jepang, agar kelak menjadi sumber tenaga PLTA. Lokasinya ada di tiga kabupaten Boyolali, Grobogan, dan Sragen, dengan luas 6.758 hektare.

Pembangunan Waduk Kedungombo menjadi salah satu skandal era Orde Baru. Tak semua warga yang digusur mau pindah karena ganti rugi dari pemerintah terlalu kecil. Mereka melawan dengan bantuan aktivis, di antaranya Romo Y.B. Mangunwijaya dan dosen UKSW Salatiga, Arief Budiman. Untuk meredam perlawanan itu, pemerintah memakai taktik kekerasan, teror, dan memberi cap PKI kepada warga yang menolak digusur.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *