Perlu Adaptasi Watak ‘Aisyiyah di Era Digital, Tanpa Diskriminasi

  • Bagikan
Soiman Kastolani (tengah) Ketua PP Aisyiyah. (Foto: Istimewa)


Adaptif di era digital, watak ‘Aisyiyah sebagai organisasi Islam berkemajuan harus tetap tercermin dalam pikiran, tindakan, dan di dalam kehidupan keseharian tanpa mengalami diskriminasi secara struktural maupun kultural.

Demikian disampaikan Soimah Kastolani, Ketua PP ‘Aisyiyah. Menurutnya, terlebih di era digital seperti sekarang Warga, Kader, dan Pimpinan ‘Aisyiyah memahami dan menguasai media digital sebagai sarana dakwah Islam Berkemajuan.

“Memanfaatkan literasi digital untuk dakwah ini tiada lain juga untuk menggerakan persyarikatan ataupun menggerakkan organisasi ‘Aisyiyah untuk mencapai tujuannya,” sambungnya, dalam acara Literasi Digital yang diadakan PP ‘Aisyiyah bekerjasama dengan Kominfo secara daring.

Merujuk kepada perintah Al Qur’an seperti yang tertuang dalam QS. Ar Ra’d ayat 11 dan Al Anfal ayat 53, dalam menghadapi perubahan sebagai perempuan berkemajuan harus siap menghadapi.

Petuah Hilman Latief

Sementara itu, Prof. Hilman Latief selaku pemateri memaparkan, terkait peradaban Islam yang akan berkembang di masa yang akan datang, perlu kiranya untuk melihat peta dan konteks khazanah keislaman yang berkembang di masyarakat.

Melalui pemetaan tersebut diharapkan bisa menemukan posisi ‘Aisyiyah di antara khazanah keislaman yang berkembang di masyarakat saat ini dan perkiraan di masa depan. Pemetaan bisa dimulai dari kesadaran, bahwa beberapa kelompok Islam menguasai media digital dan kanal-kanal media sosial lain.

“Itu sebenarnya bisa digunakan bagi kita untuk mengevaluasi sekaligus melakukan pemetaan,” ucap Dirjen Penyelenggara Haji dan Umroh.

Di antara pemetaan yang dilakukan misalnya tentang konten yang berkembang di masyarakat, tidak cukup sampai di situ, ‘Aisyiyah juga diharapkan bisa merefleksikan diri dengan kelompok yang sudah mumpuni dalam produksi konten dakwah melalui media digital.

Hal itu diharapkan bisa menemukan positioning ‘Aisyiyah tentang infrastruktur teknologi yang dimiliki, dan lain sebagainya. Pemetaan selanjutnya terkait dengan sumber daya manusia yang dimiliki, ketika sudah ditemukan kekuatan jangkauan infrastruktur digital, kemudian harus juga ditemukan sdm yang kompeten untuk menjalankannya.

“Di ‘Aisyiyah apakah sudah ada pusat teknologi dakwah, sudah ada SDM yang friendly ?, dan bukan hanya friendly tapi juga ada kemampuan khusus di dalam penatausahaan dari infrastruktur teknologi yang akan dipakai sebagai dakwah,” seru Hilman.

Kemudian juga tidak boleh lupa melakukan pemetaan manajemen dakwahnya. Hilman menegaskan, dakwah digital tidak hanya terkait dengan individu pelaku dakwah yang dimiliki ‘Aisyiyah. Tetapi juga harus membangun ekosistem dakwah digitalnya, sebab komunikasi efektif juga harus melibatkan objek dakwahnya.



  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *