Perubahan Iklim Turut Menyuburkan Prostitusi di Kawasan Pantura

[ad_1]

Andai tidak jadi pekerja seks, Yuli ingin meneruskan hidup di Jakarta, membuka salon kecil-kecilan atau rumah makan yang menyajikan aneka ragam masakan Sunda. Harapan yang terdengar sederhana, walaupun kenyataan lebih kerap berkata sebaliknya. 

Cita-cita itu masih dia ucapkan penuh keyakinan saat kami bersua pada satu malam yang sepi, juga panjang, di tempatnya bekerja; sebuah “kafe” yang berlokasi di Patokbeusi, Kabupaten Subang, Jawa Barat. Dia percaya hidup tak selamanya soal kesedihan atau nasib buruk yang seolah tak kunjung sirna.

“Kita, kan, punya mimpi ya. Nah Yuli sama kayak [orang-orang] lainnya, juga ingin mewujudkan mimpi-mimpi itu,” katanya, dengan nada bicara yang enteng. 

“Kalau pekerjaan sekarang jalani aja. Itung-itung ngumpulin duit dulu,” ia menambahkan seraya menyeruput bir yang sudah tak lagi segar. Tangannya kemudian mengambil rokok, menghidupkan korek api, serta mengisapnya dalam-dalam.

Asap mengepul cukup padat dan menutupi wajahnya yang sudah lengkap dengan riasan; bedak yang ditabur tipis-tipis serta gincu merah muda yang terlihat malu-malu memancarkan pesonanya.

“Yuli, teh, aslinya enggak sengaja [kerja] ke sini,” ucapnya. “Karena kepepet aja, makanya mau.”

Yuli tumbuh dan besar di Subang, tepatnya di daerah Patimban yang dekat dengan laut. Ia anak pertama dari dua bersaudara. Kedua orang tuanya merupakan nelayan, meneruskan tradisi keluarga.

Kehidupan keluarganya tak istimewa, Yuli berkisah. Meski demikian, dia dulu selalu merasa berkecukupan. Meja makannya tak pernah kosong. Segala lauk pauk hadir setiap hari, dari pagi hingga malam. Sementara ayahnya pergi melaut, sang ibu memegang penuh kendali kegiatan di rumah, termasuk memastikan pasokan gizi untuk Yuli—dan kemudian adiknya—tidak kurang sama sekali.

Masih terekam jelas dalam ingatannya kala sore hari tiba, dia banyak menghabiskan waktu dengan membantu ibunya memilah ikan-ikan hasil tangkapan yang cocok untuk dijual. Hatinya gembira betul sampai-sampai dia lupa waktu. Jika sudah demikian, sang ibu bakal memintanya berhenti serta mengajaknya mandi.

Tumbuh bersama keluarga yang hangat membuat Yuli bertekad belajar sekeras mungkin walaupun dia tak punya mimpi sekolah hingga tinggi. Dalam bayangannya, usai lulus SMA, berapapun nilainya, Yuli ingin mengadu nasib ke Jakarta. Nantinya, bila sudah dapat pekerjaan yang layak, dia akan menyisihkan untuk orang tuanya. Setiap malam Yuli senantiasa menaruh harapannya tersebut dalam lantunan doa. 

Masalahnya roda kehidupan tidak ada yang pernah tahu, dan pergerakan nasib ternyata menghantam keras Yuli. 

Mimpi buruk dimulai ketika tangkapan ikan sang ayah terus menurun tajam selama rentang 2017 hingga 2018. Yang biasanya mampu membawa pulang dua karung penuh berisikan ikan setiap malam, pada waktu itu berkurang nyaris setengahnya. Ini belum dengan catatan bahwa sang ayah mesti melaut sampai belasan kilometer lebih panjang dari rute sehari-hari. 

Keadaan tersebut, tak pelak, membuat keluarga Yuli berada dalam tekanan. Berkurangnya tangkapan ikan sama artinya dengan menipisnya jatah uang untuk hidup sehari-hari. Keluarganya mulai kesusahan makan hingga beberapa kali terlambat bayar sekolah.

Upaya menyelamatkan neraca keuangan bukannya tak ada, mulai dari menjual barang-barang yang dianggap bernilai lebih seperti kendaraan hingga pontang-panting cari pinjaman. Sayang, langkah tersebut, Yuli berkata, hanya menyelamatkan situasi keluarganya sementara waktu.

“Sampai Bapak akhirnya pinjam uang ke rentenir. Langsung dikasih, tapi malah setelahnya nambah beban,” ucap Yuli dengan pelan. 

Beban yang dimaksud Yuli adalah tingginya bunga pinjaman, selain teror yang terus berdatangan. Dikepung dua kondisi itu, sang ayah sempat mengalami depresi berat. Tiap malam ayahnya kerap berteriak tak jelas, sedangkan ibunya yang jadi saksi mata hanya bisa menangis tanpa henti.

Di tengah situasi yang terjepit, uluran tangan pun datang, namun akhir dari ceritanya sama sekali tak pernah terlintas di kepala Yuli. Seorang saudagar di kampung Yuli menawarkan proposal yang bikin keluarga mengalami dilema luar biasa: semua utang akan dilunasi, dengan syarat Yuli menikah dengan putra saudagar tersebut. 

Ayahnya mengembalikan semua keputusan kepada Yuli. Sang ibu sempat menolak keras, tak rela bila putri kesayangannya menikah bersama orang yang tak pernah dikenal secara utuh, tapi akhirnya mengambil posisi sama seperti suaminya: Yuli yang menentukan. 

Merasa tak memiliki cukup pilihan, Yuli mengiyakan ajakan menikah tersebut. Tidak lama usai kelulusannya di SMA, pesta pernikahan segera berlangsung. Yuli mengingat acaranya berlangsung meriah. Satu desa diundang pada malam jamuan. Musik dangdut digeber begitu keras. Orang-orang bersuka cita. Di momen ini, Yuli sempat berpikir tidak ada salahnya menikah lebih cepat. 

Sekali lagi, nasib baik belum melirik jalan hidupnya. Pengalaman hampir dua tahun menikah, justru menjadi salah satu titik rendah dalam semestanya. Berkali-kali Yuli dipukul, disiksa, hingga ditelantarkan suaminya. Tak terhitung berapa kali dia menangis, juga mengeluarkan keluh kesahnya kepada orang tua, namun yang muncul sama saja: peristiwa pahit berulang.

“[Suami] cuma beda tiga tahun [sama Yuli]. Cuma kelakuannya udah enggak ketolong. Yuli salah sedikit, dipukul. Keliru sedikit, dipukul. Pokoknya suka main fisik sampai Yuli bener-bener capek digituin,” tuturnya. 

Tidak lagi kuat menahan derita itu, Yuli pun meminta cerai. Awalnya, oleh keluarga suami, keinginan ini tidak serta merta disetujui. Anggapan bahwa cerai bisa mencoreng nama baik keluarga—serta reputasi bersangkutan yang dikenal sebagai “orang penting” di desa—jadi alasannya.

Walaupun demikian, keluarga dari pihak suami Yuli akhirnya menyetujui setelah menelan mentah-mentah pernyataan yang menyebut Yuli “tidak becus mengurus rumah.” Pernikahan yang pernah Yuli harapkan mampu membawa langkah kakinya berjalan lebih jauh itu resmi kandas, dan dia sama sekali tidak menyesalinya. 

“Lebih baik cerai saja daripada terus-terusan digituin. Bisa-bisa bonyok di muka Yuli malah makin banyak dan sekarang enggak bisa cari duit,” akunya. 

Yuli pulang ke rumah orang tuanya memikul kekalahan. Keadaan keluarganya belum membaik seperti sedia kala. Ini berarti Yuli harus putar otak lebih keras dari biasanya agar orang-orang terdekatnya dapat bertahan. 

Sebuah pesan masuk ke gawainya. Dari seorang kawan karib di SMA dulu yang sempat putus komunikasi. Isinya ajakan nongkrong di malam akhir pekan. Tanpa pikir panjang, Yuli menyambut tawaran itu. 

Di lokasi, Yuli kaget dengan tampilan kawan karibnya. Wajahnya bersinar, tubuhnya berisi, dan kepercayaan dirinya terlihat menjulang. Keduanya lalu bercengkerama, saling bertukar kabar, sampai akhirnya temannya melemparkan pertanyaan. 

“Mau pekerjaan enggak, Yul?”

“Apa?” 

“Jaga kafe. Kamu, kan, cantik. Masih muda. Pasti bakal banyak yang dateng.”

“Ini kayak yang kamu kerjakan?”

“Iya, duitnya lumayan. Kalau ramai, semalem bisa dapet Rp500 [ribu].”

Yuli diam sejenak. Dia tak langsung mengiyakan tawaran itu, meski sebetulnya cukup tertarik. Belum selesai Yuli berpikir, temannya kembali berusaha meyakinkan. 

“Yuli misalnya tertarik, nanti aku kenalin sama Mami. Orangnya bentar lagi datang.”

Kawasan Patokbeusi terlihat lengang. Jalanan yang biasa jadi medan truk-truk memacu tubuhnya, sore itu hanya segelintir saja yang muncul. Di antara keheningan tersebut, Mami Dona duduk termangu. 

Rambutnya yang panjang, juga berwarna kuning menyala, dikucir rapi. Kedua tangannya aktif memegang gawai dan sebatang rokok. Senyum tak henti mengembang dari wajahnya, begitu pula dengan keramahan yang dia tawarkan kepada mereka yang berhenti di depan kafenya. 

Ini tahun kelima bisnis kafe yang dijalankan Mami Dona eksis. Tak mudah, dia mengaku, lantaran lebih banyak susah ketimbang mudahnya. Akan tetapi, dia tetap melakoninya sebab pilihan mengais rejeki tak kelewat banyak. 

Keputusan membuka jasa prostitusi berkedok kafe didasari pertimbangan yang sederhana: Mami Dona sudah akrab dengan lika-liku jasa seks komersial. Pengalamannya membentang panjang, dimulai kala usianya masih 20-an tahun, bahkan melewati batas geografis. 

“Dulu, awal-awal, kerjanya di Batam [Kepulauan Riau-red]. Diajak temen juga. Di sana saya tinggal di satu mes gitu. Kalau mau ke mana-mana dikawal sama petugas. Pokoknya ketat,” terangnya.

Kurang lebih lima tahun Mami Dona bekerja sebagai pekerja seks di Batam. Selama itu pula ia mengirim uang bulanan ke rumah, dan masih bisa disisihkan untuk tabungan. Mami Dona kemudian memutuskan rehat sejenak karena tak sanggup bekerja di bawah tekanan. 

“Saya biasa ngelayani para bandar [narkoba], orangnya keras-keras. Sekali pernah saya dipukul, tapi itu bikin trauma. Setelah itu, saya memutuskan buat istirahat dulu. Sama suami waktu itu, saya balik ke Indramayu,” cerita perempuan 41 tahun ini. 

Di Indramayu, Mami Dona berupaya membangun kehidupan yang normal. Dia menjauh dari hiruk pikuk dunia malam serta mencari nafkah dengan berjualan ikan dari tambak di sekitar tempat dia tinggal. Pertama terjun dalam dunia dagang ini, penghasilannya cukup untuk hidup sehari-hari. 

Sampai akhirnya gelombang perubahan iklim memukul pencahariannya. 

Mulai 2015, produksi tambak di desanya menurun cukup signifikan, setengah dari angka rata-rata. Penurunan ini memaksa Mami Dona gigit jari karena kebutuhan hidupnya kian bertambah, selepas dia melahirkan anak pertama. 

Pekerjaan di tambak pun dia lepas. Gantinya, Mami Dona mencari alternatif lain dengan melamar ke sejumlah salon sampai menawarkan diri jadi pembantu rumah tangga (PRT). Keberuntungan tak langsung datang, bahkan usahanya kerap berujung buntu.

Kesempatan untuk memperbaiki hidup akhirnya dia raih, namun memaksanya kembali ke masa lalu, masa yang telah coba dia tinggalkan: dunia prostitusi.

“Ada kenalan saudara nawarin buat ngurus kafe. Dia baru keluar modal buat bikin kafe itu dan butuh bantuan. Lalu dia kontak saya,” jelasnya. 



Mami Dona tak perlu mengeluarkan banyak tenaga untuk mengurus kafe tersebut sebab semua kebutuhan sudah tersedia, termasuk pekerja seks yang di dalamnya. Total, waktu itu, ada tiga pekerja seks yang ikut di sana. Masing-masing berasal dari Pamanukan (Subang), Losarang (Indramayu), serta Plumbon (Cirebon).

Ketika pertama kali mengurus kafe, Mami Dona berkisah, Patokbeusi jadi kawasan—atau sentra—prostitusi yang terkenal. Setiap malam, truk-truk, besar atau kecil, memarkir dirinya di sana dan menanti sang tuan tuntas menyalurkan birahinya, sebelum kembali menginjak pedal gasnya menyusuri jalanan Pantura yang begitu panjang.

Saban malam, Mami Dona bisa “melayani” hingga belasan orang. Jam operasional kafenya buka dari sore sampai pagi—sebelum jam enam. Selain jasa seks transaksional, kafe Mami Dona menyediakan arena karaoke minimalis; dua pasang sound system, pemutar musik dari YouTube, serta lampu temaram berukuran kecil yang dipakai untuk memeriahkan suasana. Bagi mereka yang ingin mencari hiburan dengan harga yang terjangkau, fasilitas ini laris dimanfaatkan.

Ada sekitar puluhan “kafe” dengan model serupa di sepanjang kawasan Patokbeusi. Tampilannya mudah dikenali; cat tembok dengan warna menyala, hiasan lampu kelap-kelip, serta tulisan mencolok yang dibikin guna menarik minat para pengendara yang tengah melintas. 

Tidak ada yang dapat memastikan kapan kemunculan prostitusi Patokbeusi. Meski begitu, seturut penjelasan Mami Dona, dari obrolannya dengan sesama pelaku bisnis kafe di sana, prostitusi Patokbeusi mulai eksis sejak sekiranya awal 2000-an. 

“Kalau dari omongan orang-orang, sih, sejak 2000-an, ya. Waktu saya jalanin kafe ini, udah pada ramai. Sebelum saya masuk [berusaha kafe] juga udah ramai, katanya,” ungkapnya.

Bagi mayoritas pelaku usaha dan pekerja seks di Patokbeusi, wilayah ini tak sekadar jadi lumbung pendapatan, melainkan juga simbol harapan untuk (terus) bertahan hidup. Akan tetapi, lebih dari itu, prostitusi Patokbeusi dapat pula dibaca sebagai rumit serta kerasnya kenyataan masyarakat pesisir utara Jawa.

Keputusan Mami Dona untuk mencari uang dari bisnis gelap ini tak luput dari pelbagai masalah yang hadir di tengah mereka, yang antara satu dan lainnya saling berkelindan membentuk benang kusut yang—nyatanya—sulit diuraikan. 

Indah tampak terburu-buru memasuki kafe ketika jam menunjukkan pukul sembilan malam. Dari ruang tengah kafe, terdengar sayup-sayup permintaan maaf yang terucap dari mulutnya. Tak sampai setengah jam berselang, Indah sudah berganti pakaian. Raut mukanya pun turut berubah; kini dia lebih kalem dan bersiap menjalani pekerjaannya. 

Sudah tiga tahun Indah bergelut di industri seks, tentunya akibat faktor ekonomi. Dia seorang ibu tunggal dengan empat orang anak. Mau tak mau, dia mesti bekerja lebih keras lantaran berjibaku sendirian mengurus keluarganya. 

“[Sama] suami sudah cerai. Sementara anak-anak juga butuh makan dan sekolah. Ya sudah, karena yang bisa dikerjain ini, ya, ambil saja,” kata perempuan 33 tahun itu. “Sudah cobain cari pekerjaan lainnya, tapi enggak ada yang nyangkut,” imbuhnya disusul gelak tawa. 


Faktor ekonomi menjadi kata kunci memahami maraknya pekerja seks di kawasan Pantura, utamanya di Patokbeusi. Penduduk kawasan pesisir utara Jawa dikenal rentan terjebak kemiskinan. Di Indramayu, misalnya, angka kemiskinan konsisten menyentuh dua digit selama tujuh tahun belakangan, dari 2014 hingga 2020. 

Indikator lainnya, angka pengangguran terbuka, memperlihatkan kecenderungan yang sama untuk kawasan pesisir. Di Cirebon, ambil contoh, dari 2019 sampai 2020, tingkat pengangguran terbuka naik signifikan, dari 9,94 persen jadi 11,24 persen. Lalu di Subang angkanya meningkat dari 8,12 persen (2019) jadi 9,31 persen (2020).

Penyebab kemiskinan serta pengangguran di kawasan pesisir utara Jawa selain karena minimnya akses ke lapangan pekerjaan juga diakibatkan oleh krisis iklim, yang wajahnya dapat dilihat lewat tingginya intensitas banjir rob, kenaikan permukaan air laut, hingga cuaca yang tidak menentu berupa kekeringan panjang. 

Pada Juni 2020, banjir rob menerjang di sembilan kecamatan di Kabupaten Indramayu dan merendam ribuan rumah warga. Setahun berselang, awal 2021, banjir rob dengan ketinggian menyentuh satu meter menghantam beberapa daerah di Indramayu, membikin—lagi-lagi—ribuan rumah terendam. 

“Yang terparah itu awal tahun ini, Pak, karena airnya gede banget dan surutnya lama,” kata Sri Welas, salah satu warga Totoran yang sehari-hari berprofesi sebagai nelayan tambak. “Sedih kalau diingat-ingat.”

Imbasnya tak main-main. Banjir rob membuat tambak-tambak di pesisir Indramayu lenyap tanpa sisa. Otomatis, ikan yang berada di tambak—kebanyakan bandeng—tak dapat diolah dengan maksimal. 

“Produksinya terus menurun. Sebelum ada [banjir] rob itu bisa satu kuintal. Sekarang, habis rob, bisa dapet setengahnya saja sudah bagus,” jelas Sri. “Mau ngurus [tambak] sulit. Ikannya pada enggak ada.”

Jika nelayan Totoran mengeluhkan banjir rob yang menyapu tambak-tambak mereka, di Eretan, berjarak hampir 50 kilometer, nelayan dibikin susah oleh faktor lain. Naiknya permukaan air laut membuat tangkapan ikan kian menyusut. 

“Untuk melaut saja kami mesti melayar lebih jauh lagi, sampai belasan kilo dari bibir pantai,” aku Rahman, nelayan di Eretan. “Itu pun belum menjamin bakal dapat [ikan] juga. Kadang kayak percuma aja melaut.”

Ekses krisis iklim ini cukup besar, terutama bagi mereka yang menyandarkan penghidupan pada tangkapan ikan. Kemiskinan lalu jadi musuh berikutnya yang harus dihadapi. 

Agar tak terjerat lebih dalam, banyak keluarga nelayan di pesisir Indramayu hingga Subang mencari jalan pintas; mulai meminjam uang dari lintah darat dengan bunga yang brutal sampai menjodohkan anak mereka kepada para saudagar di desa setempat.

Nasib buruk lantas menimpa banyak perempuan di pesisir, apa pun statusnya. Kondisi ekonomi yang terhimpit memaksa mereka untuk menerima konsekuensi yang mungkin tidak pernah dibayangkan sebelumnya. Apabila masih berusia muda, besar peluang mereka bakal dinikahkan. Sementara jika sudah berkeluarga, maka ancaman cerai mengintai di depan mata, dan kelak urusan membesarkan anak bakal dilimpahkan ke perempuan bersangkutan. 

“Di sini [Eretan], mah, perceraiannya banyak. Setiap bulan ada, mungkin, itu yang pada cerai karena alasan ekonomi,” cerita Haryo, warga setempat, terkekeh.  

Statistik menunjukkan di beberapa daerah di Pantura Jawa, perceraian memang marak dijumpai. Di Subang, per November 2021, gugatan perdata yang telah diputus pengadilan agama. Kebanyakan yakni gugatan cerai dan talak. Kemudian di Indramayu, gugatan cerai yang sudah diputus jumlahnya lebih dari dua kali lipatnya: menembus 266 kasus.

Hidup setelah perceraian tak menjamin apa-apa kecuali tapak kaki yang berat untuk para perempuan yang tinggal di kawasan pesisir utara Jawa. Mereka harus mengatasi dua masalah sekaligus: mencari uang serta mengurus keluarga. Beban tanggung jawabnya pun seketika bertambah.

Ada yang merantau hingga luar negeri untuk jadi buruh migran. Ada yang mencoba peruntungan di Jakarta sebagai pembantu rumah tangga. Ada pula yang memutuskan menyelam dalam industri seks seperti di Patokbeusi. 

Neneng, ambil contoh, adalah sosok yang memilih opsi ketiga. Perjalanannya di kafe di Patokbeusi baru berusia tiga bulan. Sebelumnya, perempuan 24 tahun ini bekerja di pengolahan ikan di sekitar Pantai Kejawanan, Cirebon. Tak lama usai tempat itu tutup karena terus merugi, konsekuensi dari tangkapan maupun produksi ikan yang menghujam ke bawah, Neneng memilih pergi merantau. 

“Aku bilang sama orang tua kalau aku kerja di Jakarta, jadi pembantu. Tapi, sebetulnya mereka enggak tahu kerjaanku ternyata kayak gini,” paparnya. “Yang penting aku bisa kirim uang ke mereka. Di sana, orang tua jadi nelayan, dan lagi kondisi susah.” 



Neneng bukan satu-satunya kasus. Tidak ada data yang bisa dipakai sebagai rujukan berapa perempuan pesisir—termasuk nelayan—yang kemudian banting setir untuk jadi pekerja seks. Namun, menurut pengamatan Mami Dona, jumlahnya lebih dari belasan orang tiap minggu, selama setengah tahun terakhir. 

“Rata-rata, ya, masih muda. 20-an tahun. Ada yang bertahan sampai sekarang, ada yang kemudian diajak nikah sama pelanggan, ada juga yang nggak betah dan cari pekerjaan lain,” jelasnya.

“Tapi, memang kebanyakan juga ke sini karena di kampung enggak bisa kerja dan dapat uang. Mereka cari yang anggapannya mudah aja,” tambahnya.

Fakta di lapangan justru memberi gambaran sebaliknya. Jadi pekerja seks di Patokbeusi, kiwari, bukan hal gampang. Mereka harus beradu dengan pendapatan yang menurun karena setidaknya dua hal: kehadiran Tol Cipali yang mengurangi volume kendaraan berat di jalur Pantura, serta penyebaran Covid-19. 

“Biasanya semalem bisa bawa Rp500 ribu sampai Rp600 ribu. Sekarang, mah, bisa pegang Rp100 ribu aja udah bersyukur,” ujar Wiwid, pekerja seks yang berada di kafe tak jauh dari tempat Mami Dona.

“Wah, sepi. [Lagi] pusing-pusingnya ini,” keluh Ratni, ketika saya menanyakan soal pendapatan yang dia terima selama beberapa waktu belakangan.

Pukul sepuluh malam, dan omongan Wiwid maupun Ratni terbukti adanya. Tak ada sama sekali tamu malam itu.

Di antara pekerja seks yang saya jumpai di Patokbeusi, Yulianti tergolong paling ramah dan tak sulit membaur. Berbekal satu-dua batang rokok, Yulianti banyak berkisah ihwal perjalanan hidupnya yang penuh kelokan. 

Dia pernah diusir dari rumah orang tua, dan tak lagi diakui sebagai anak lantaran pekerjaannya. Yulianti sampai diruwat oleh kerabat, agar menjauh dari dunia gelap beserta isinya.

“Keluarga, teh, malu sama saya. Mereka malu jadi omongan tetangga karena anaknya jadi perek. Makanya, saya digituin,” ucap perempuan 29 tahun ini. “Sampai sekarang kayaknya masih enggak dianggap anak,” lanjutnya, tertawa getir. 

Jalan hidup Yulianti memang berat dan dia tak pernah menampiknya. Akan tetapi, di balik itu, Yulianti masih menyimpan setumpuk harapan untuk hidup lebih layak. 

“Saya punya satu anak. Sekarang tinggal sama saudara di Bantarasem [Subang]. Kalau udah kekumpul uang, saya pengin bawa anak saya pindah ke luar [kota],” katanya. “Jujur, saya nggak mau terus-terusan hidup dan bekerja kayak begini.”

Hampir semua narasumber yang saya temui di Patokbeusi memiliki mimpi tak jauh berbeda; bahwa mereka ingin membangun hidup yang lebih normal, lebih diterima masyarakat maupun keluarganya sendiri. Karena, bagi mereka, menjadi pekerja seks bukan keputusan yang mudah. Jauh di dalam benak mereka, seperti kata Mami Dona, “kami mau hidup dengan tenang.”

Walau begitu, mereka sadar betapa jalan untuk mewujudkan “hidup yang normal” itu tidaklah mudah, dan sudah pasti berliku.

Hanya saja berbagai problem sistemik—dari kemiskinan sampai krisis iklim—membikin ketidakpastian itu kian tebal, berjarak, serta pada tahap tertentu, menjauhkan mereka dari harapan-harapan yang sempat maupun pernah dipanjatkan. 

“Kalau memang enggak bisa [kerja] ke Jakarta, ya, berarti nasib aja. Nasib tinggal dan kerja kayak gini terus,” pungkas Yuli. 

Dia mengakhiri obrolan, melangkah masuk ke balik tirai. Suara Yuli tak lagi terdengar. Hanya deru mesin truk melintas yang jumlahnya bisa dihitung dengan jari. Malam itu, Patokbeusi kembali larut dalam kesepiannya. 


Laporan ini merupakan seri reportase VICE Indonesia membahas dampak krisis iklim bagi kehidupan sosial masyarakat. 

Laporan ini didukung dan didanai oleh Pulitzer Centre.

Faisal Irfani adalah jurnalis lepas yang bermukim di Jakarta, rutin meliput isu konflik sosial dan budaya pop. Follow dia di Twitter



[ad_2]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.