Pesan dalam Botol Berumur 37 Tahun dari Jepang Ditemukan di Pesisir Pantai Amerika

  • Bagikan


Pesan Botol Berumur 37 Tahun dari Jepang Berlabuh di Hawaii

Botol berisi pesan terombang-ambing 6.000 kilometer jauhnya dari Jepang ke Hawaii. Foto oleh SMA Choshi di Chiba, Jepang (Kiri); Spencer Platt/Getty Images (Kanan).

Tergeletak di antara pecahan kerang dan hamparan pasir kuning keemasan, Abbie Graham menemukan botol kaca kotor penuh lumpur.

Bocah sembilan tahun yang tinggal di Keaau, Hawaii sedang berekreasi bersama keluarga ke Paradise Park ketika melihat benda itu. Orang tua Abbie awalnya mengira cuma sampah, tapi dia yakin ada yang unik dari botol tersebut.

Dan benar saja, setumpuk surat berumur 37 tahun terjejal di dalam botol. Pesan-pesan itu berasal dari Jepang, 6.400 kilometer jauhnya dari tempat tinggal Abbie. Ditulis dalam bahasa Inggris, Spanyol dan Jepang, pengirim berharap orang yang menemukan botol akan mengirim surat balasan ke klub sains SMA Choshi di prefektur Chiba, sebelah timur Tokyo.

Abbie menyanggupi permintaannya. Dia mengirim surat balasan, tak lupa menyertakan gambar dirinya dan saudara perempuan makan sushi, ke alamat yang tertera di dalam pesan. Surat Abbie tiba di Jepang awal bulan ini, menimbulkan kehebohan di SMA Choshi.

“Para siswa riang gembira menerima surat balasan,” wakil kepala sekolah Jun Hayashi memberi tahu VICE World News. “Walaupun siswa yang mengirim surat sudah lulus, murid kami sekarang tetap senang menerimanya.”

Mantan anggota klub sains Mayumi Kanda, 54 tahun, mengaku terkejut saat mendengar kabar dari pihak sekolah. Dia tak menyangka ada yang menemukan botol itu.

“Ini membuka kembali kenangan saat saya masih sekolah. Saya sangat berterima kasih kepada anak yang menemukan botol, sekolah yang membuat proyek ini dan semua pihak yang terlibat,” katanya dalam konferensi pers Rabu (15/09).

Penemuan ini tak hanya menghubungkan dua orang dari belahan dunia berbeda, melainkan juga menyelesaikan eksperimen tentang pergerakan arus laut. 

Pada 80-an, siswa SMA Choshi melepaskan 750 botol berisi pesan ke laut. Mereka berharap Kuroshio, arus laut di sekitar perairan Jepang, menyebarkannya ke utara dan timur. Selama belasan tahun berikutnya, 50 botol ditemukan di Jepang dan beberapa negara lain, seperti Filipina, Tiongkok dan Pesisir Barat AS.

Akan tetapi, setelahnya tak pernah ada kabar lagi tentang penemuan botol.

“Pihak sekolah tidak mendengar adanya temuan apa pun setelah 2002,” kata Hayashi. Akhirnya ada botol lain yang ditemukan 14 tahun setelah klub sains dibubarkan.

Praktik mengirim pesan dalam botol dilakukan sejak dulu kala.

Pesan pertama yang diketahui dikirim oleh filsuf Yunani Theophrastus, murid Aristoteles yang berusaha membuktikan Samudra Atlantik mengalir ke Laut Mediterania. Namun, dia tak pernah menerima surat balasan.

Sejak itu, botol-botol dihanyutkan ke laut untuk memetakan arus, meminta bantuan atau sebatas bernostalgia dengan masa lalu.

Pesan botol tertua yang diketahui berumur 132 tahun, ditemukan di pantai Australia Barat pada 2019. Tertanggal 12 Juni 1886, suratnya berasal dari kapal Observatorium Angkatan Laut Jerman yang menguji rute pelayaran, menurut BBC.

Namun, praktiknya kini dianggap dapat mencemari laut—isu inilah yang mengakhiri eksperimen klub sains SMA Choshi. Ahli konservasi laut mengatakan, sampah kaca memakan waktu yang sangat lama untuk terurai. Tutup botol juga berbahaya bagi burung dan makhluk laut lainnya.

Follow Hanako Montgomery di Twitter dan Instagram.



  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *