Pesepeda Ini Keliling Singapura Buat Gambar Binatang di GPS

  • Bagikan


Seni GPS menggambar binatang atau benda lewat aplikasi peta digital

Pesepeda di Singapura menciptakan karya seni di aplikasi GPS. Kolase oleh VICE / Foto: Emjae Argallon

Banyak dari kita menekuni berbagai hobi baru selama pembatasan sosial setahun terakhir. Di Singapura, sejumlah orang berolahraga bukan cuma untuk menjaga kebugaran tubuh, melainkan juga menciptakan seni.

Teknik “menggambar” mereka tidak biasa. Sementara mayoritas seniman mengandalkan kuas dan kanvas, mereka menempuh rute tertentu untuk menghasilkan sebuah gambar di aplikasi GPS. Hal ini lebih dikenal dengan sebutan “seni GPS”.

Aktivitas ini sebenarnya sudah eksis di kalangan pesepeda dan pelari sejak beberapa tahun lalu, tapi kian diminati selama pandemi. Konsep olahraga artistik ini pada akhirnya membangun komunitas “seniman GPS”, yang sengaja menentukan rute sepedaan atau larinya untuk bikin gambar keren. Kebanyakan menggunakan Strava, aplikasi pelacak aktivitas olahraga pengguna. Aplikasi ini bisa untuk merencanakan dan merekam rute yang dilalui pengguna.

Seniman GPS di Singapura menempuh rute yang relatif terbatas untuk membuat karya yang hiperlokal.

Crystin Sim mulai rutin bersepeda Agustus lalu. Selain untuk menjaga kebugaran dan menghilangkan stres, olahraga ini mempertemukannya dengan orang-orang yang memiliki minat serupa. Dia mengasah kreativitas sambil bersepeda.

Pesepeda Crystin Sim

Sebagai penyayang binatang, Crystin Sim suka membuat gambar hewan di GPS. Foto milik Crystin Sim.

Saat merencanakan rute sepedaan, Sim akan mempelajari peta Strava dan menelusuri desain di layar ponsel. Dia lalu mengikuti jalur yang sudah ditentukan pakai sepeda hybrid yang cocok untuk jalanan mulus dan terjal.

Gambar-gambarnya terinspirasi dari topik yang ramai dibicarakan di Singapura. Dia sengaja mengangkat tema binatang.

Rute bergambar panda yang dibuat Agustus lalu mengacu pada kelahiran anak panda raksasa pertama di Kebun Binatang Singapura. Ini pertama kalinya panda berkembang biak setelah bertahun-tahun mencoba dikawinkan.

Sementara itu, garis bergambar burung terinspirasi dari bebek mandarin yang hobi jalan-jalan di lingkungan sekitar. Penampilannya yang mencolok dan asal-usulnya yang bukan asli Singapura menarik perhatian warga setempat.

Sim lalu menggambar babi hutan paling ditakuti di Singapura. Hewan agresif itu berulang kali menyerang pejalan kaki, dan akhirnya berhasil ditangkap polisi dalam pengejaran penuh adrenalin.

Pesepeda lain juga membuat gambar babi menggemaskan di GPS seperti Sim. Postingannya telah disukai ratusan kali di Facebook.

Hewan lain—makhluk mitos lebih tepatnya—yang populer di kalangan seniman GPS lokal adalah Merlion, makhluk separuh ikan dan singa yang menjadi maskot negara. Setiap Hari Kemerdekaan Singapura, para seniman GPS merayakannya dengan melalui rute yang akan menghasilkan gambar Merlion.

Tahun ini, seorang lelaki membuat sketsa utuh Merlion di GPS pada malam Hari Kemerdekaan Singapura. Emjae Argallon mengayuh sepeda sejauh 95 kilometer dan menghabiskan lebih dari tujuh jam untuk menghasilkan gambar tersebut.

Lelaki 32 tahun itu telah menerobos jalanan dan taman pakai sepeda gunungnya sejak pertama kali gowes Juni lalu. Sekarang dia punya misi menjelajahi semua taman di Singapura melalui jalur penghubung di seluruh pulau.

Argallon sangat serius menjalani hobi ini. Dia rajin membuat video tutorial dan mengunggahnya ke kanal YouTube. Video-videonya sangat bermanfaat bagi para pesepeda lokal yang sedang mencari rute.

Dia akan merencanakan rute dan melakukan uji coba terlebih dulu. Setelah memastikan semua jalur sudah dilewati, dia baru merekam perjalanannya.

Sementara bersepeda memungkinkan orang menempuh jarak yang lebih jauh dalam waktu lebih singkat—bagus untuk menempuh rute yang rumit—pelari juga telah menciptakan beberapa karya seni GPS yang paling berkesan di dalam negeri.

Tahun lalu, pelari aktif Cheng Hock Toh mendesain Cupid sedang menarik panah dengan sangat detail di GPS.

Dia juga membuat gambar gajah warna-warni bermodalkan kedua kakinya.

Baru-baru ini, dia menempuh rute lari yang menghasilkan gambar lima pita yang terjalin satu sama lain. Ini merupakan bagian dari penggalangan dana Yellow Ribbon Virtual Run yang mendukung dan meningkatkan kesadaran akan program reintegrasi mantan narapidana ke masyarakat. Peserta lari wajib menyelesaikan rute dalam bentuk pita.

Para newbie mungkin akan merasa minder ketika melihat gambar penuh detail yang diciptakan seniman GPS berpengalaman. Namun, layaknya dunia seni konvensional, jangan pernah jadikan kehebatan orang lain sebagai alasan untuk berhenti berkarya. Selama kalian punya stamina yang kuat, kalian juga bisa menciptakan gambar di GPS.

Komunitas seniman GPS tersebar di seluruh dunia, bukan hanya di Singapura. Mereka membagikan rute secara online dengan sentuhan artistik di dalamnya.

Bagi seniman GPS, kota adalah kanvas mereka. Kaki menjadi kuas dan pelacak GPS tintanya.

Follow Koh Ewe di Instagram.



  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *