Petani Kekurangan Air Irigasi

  • Bagikan


Pengairan adalah salah satu kunci utama dalam pertanian padi, baik buruknya kualitas padi tergantung pada bagaimana kondisi air irigasi untuk sawah para petani. Walaupun pada dasarnya padi bukan tumbuhan air dan tak selalu harus terus di genangi air, akan tetapi air irigasi tetap menjadi kunci utama dalam produktivitas tumbuhan padi.

 

Ternyata, teori bahwa tanaman padi sangat membutuhkan air tidak di perhatikan oleh pemerintah setempat, masih ada daerah yang masuk bagian dari wilayah lumbung padi nasional, tetapi pemerintah tidak hadir minimal memberi perintah kepada jalur irigasi agar segera kirimkan air. Karena airnya untuk irigasi persawahan sudah tak cukup untuk sekadar membajak sawah sebelum ditanami tumbuhan padi.

 

Sebetulnya potensi terbesar penghasil padi ada di Jawa Barat, ada di wilayah Indramayu yang lahan sawah produktifnya seluas 115 ribu hektare. Kita bayangkan 34 provinsi di Indonesia, yang menjadi lumbung padi Nasional cuma hanya ada 8 provinsi di Indonesia.

 

Produksi beras kita ada di 8 provinsi di Indonesia mulai dari Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, Sulawesi Selatan, Lampung, dan Sumatera Selatan tetapi yang makan 34 provinsi di Indonesia. Seandainya di 8 provinsi ini ada kendala dan gagal panen karena kekurangan air, maka produksi padi akan berkurang dan persediaan pangan Nasional akan terganggu, paling sebagai jalan keluar impor beras. Harusnya negara kita berbenah untuk memanfaatkan sumber alam di negara kita, karena luas lahan pertanian setidaknya menghasilkan padi untuk stok pangan nasional agar tercukupi.

 

Justru ada yang memberikan saran, sudah waktunya pindah jenis makanan pokok dari beras menuju bahan pokok pangan yang lain, roti misalnya. Tetapi, saya tetap akan mempertahankan padi karena masih banyak masyarakat Indonesia, kalau belum makan nasi belum kenyang.

 

Keadaan ini sesuatu yang sangat memprihatinkan, dimusim hujan tetapi air irigasi sampai kurang untuk membajak sawah bahkan sampai belum bisa dilakukan karena tak ada cukup banyak air. Jadi, tadi sore saya mendengar keluhan bapak mertua beliau yang berprofesi sebagai petani ” Negara kok kebangetan benar ya musim hujan begini, tetapi air irigas sampai tak cukup untuk membajak sawah.” 

 

Sebetulnya bukan salah negara pak, Tetapi menurut saya, salah pemerintah dan oknum tertentu. Kejadian ini terjadi di wilayah salah satu lumbung padi nasional, wilayah persawahan desa Mangunggan Kecamatan Terisi, Indramayu. Bagaimana nanti kalau musim kemarau, apakah akan ada kiriman air untuk irigasi sawah, sedangkan musim hujan waktunya menanam padi belum ada kiriman air yang cukup. Untuk sekadar menanam dan untuk mempermudah membajak sawah dengan menggunakan traktor, karena  membutuhkan air yang cukup banyak. Sebagian warga ada yang sudah menanam, tetapi sebagian lagi masih ada yang perlu dibajak sawahnya agar permukaan tanah sawah menjadi seperti lumpur agar bisa ditanam benih padi.

 

Dengan keadaan seperti ini petani harus mengeluh kepada siapa, Sedangkan para anggota dewan wakil rakyat yang sudah dilantik tidak kelihatan memperjuangkan nasib para petani yang kemarin sudah memilihnya, Padahal sampai diperjuangan berantem dengan tetangga karena beda pilihan,  jiguuur. Wes biasa koyo Karo sopo wae.

 

Saya tak tahu politik apa yang sedang dimainkan atau memang sedang ada trouble sehingga air irigasi pun harus tersendat. Warga petani tak ada yang mau menjerit untuk melampiaskan ekspresinya, misalnya dengan melakukan demo mengerahkan civil society bentuk kekuatan kemandirian politik para warga petani agar tak selalu menunggu kebijakan pemerintah.

 

Kalau seandainya pemerintah lemah akan berpengaruh terhadap rakyatnya, karena di Indonesia masih memandang bahwa politik itu soal posisi, Bukan soal peran. Jadi, lebih baik para petani ambil peran politik yang seharusnya hak didapatkan, tak usah menunggu menjadi seorang pejabat baru bisa mengatur. Kita harus membentuk civil society kekuatan kemandirian politik pada warga petani.

 

Rakyat petani harus mandiri mempunyai peran politik yang kuat misalnya kita ramai-ramai datangi pintu irigasi suruh buka dengan berdialog sebagai bentuk bahwa kita mandiri. kita tunjukan kekuatan warga civil society. kalau seandainya warga belum bisa mandiri secara politik maka ketika pemerintah hancur kita akan ikut hancur, karena kita masih anggap bahwa politik soal posisi jabatan, hanya yang punya jabatan yang berkuasa, padahal di negara demokrasi rakyatlah yang berdaulat.

 

Bagi saya politik adalah sebuah peran siapa saja bisa menjalankan peran tersebut tanpa harus mempunyai jabatan, yang penting kedaulatan tetap ada pada rakyat, itu adalah negara demokrasi. Sedangkan kalau kita anggap politik yang terpenting sebuah peran maka ketika pemerintah lemah dan hancur, tetapi rakyat tetap biasa saja seperti tidak terjadi masalah karena sudah mandiri tanpa campur tangan pemerintah.

 

Kalau misalnya saya seorang PNS sekalipun, saya tak akan kendur terus kritik kinerja pemerintah, karena PNS bukan bawahan pemerintah kenapa harus takut untuk kritik pemerintah. Kecuali kritik negara karena PNS adalah yang gaji negara, kalau seandainya kritik negara maka sebetulnya sedang kritik aparat negaranya yaitu PNS jadi seperti kritik dirinya-sendiri.

 

Tetapi saya bukan PNS jadi bisa tanpa tekanan mau kritik pemerintah, yang penting tidak menjelekan pribadi akan tetapi jabatannya yang saya kritik, tentang musim hujan yang tak ada air cukup untuk irigasi sawah. Apa kegunaan air irigasi sampai tak dikirim ke sawahnya para petani, untuk memenuhi prosedur penanaman padi.

 

Pemerintah daerah atau kecamatan harusnya bisa menjalankan tugas dengan baik bagaimana cara agar bisa mengatur air irigasi sampai ke sawahnya para petani, Peka terhadap rakyatnya yang sudah memilih sudah tahu kalau profesi rakyatnya sebagai petani seharusnya hak petani bisa didapatkan dengan mudah. kita memilih pemerintah untuk mendapatkan hasil yang lebih baik bukan untuk membuat lebih kesusahan seperti air irigasi sampai tak ada air yang cukup di wilayah persawahan desa Mangunggan.

 

Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2006, Tentang Irigasi.

 

BAB VI

PEMBERDAYAAN

 

Pasal 28

 

(1) Pemerintah kabupaten/kota melakukan pemberdayaan perkumpulan petani pemakai air.

 

(2) Pemerintah kabupaten/kota menetapkan strategi dan program pemberdayaan perkumpulan petani pemakai air sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berdasarkan kebijakan kabupaten/kota dalam pengembangan dan pengelolaan sistem irigasi.

 

(3) Pemerintah provinsi memberikan bantuan teknis kepada pemerintah kabupaten/kota dalam pemberdayaan dinas atau instansi terkait di bidang irigasi dan pemberdayaan perkumpulan petani pemakai air, serta dalam pengembangan dan pengelolaan sistem irigasi berdasarkan kebutuhan pemerintah kabupaten/kota.

 

(4) Pemerintah memberikan bantuan teknis kepada pemerintah kabupaten/kota dalam melaksanakan ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1).

 

(5) Pemerintah memberikan bantuan teknis kepada pemerintah provinsi dalam melaksanakan ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (3).

 

(6) Pemerintah, pemerintah provinsi, dan pemerintah kabupaten/kota dapat memberi bantuan kepada perkumpulan petani pemakai air dalam melaksanakan pemberdayaan.

 

(7) Ketentuan lebih lanjut mengenai pemberdayaan kelembagaan pengelolaan irigasi diatur dengan peraturan Menteri setelah berkoodinasi dengan Menteri Dalam Negeri dan menteri yang membidangi pertanian.

 

Berkurangnya kiriman air irigasi ini akan mempengaruhi keadaan petani sebagai sumber penghasilan utamanya dari sawah. Menanam padi belum bisa dilakukan karena butuh air yang cukup banyak. Jadi, menanam padi akan telat dan akan mempengaruhi produksi padi pada musim tanam berikutnya. Karena musim kedua nanti akan memasuki musim setengah musim hujan dan setengah musim kemarau. Maka kalau sampai sekarang telat menanam padi, yang terjadi nanti tanam yang kedua ada mundur dan bisa jadi akan  proses tanam padi masuk pada musim kemarau. Air pasti sudah kering  tanam padi jadi lebih susah, Paling kalau masih bisa harus sedot air pakai pompa.

 

Lebih baik jujur terhadap petani, sebetulnya ada masalah apa sampai air irigasi pun di kirim sedikit, hanya cukup untuk sawah bagian depan saja, Sementara yang bagian belakang tidak tersisa airnya. Pengalaman petani musim panas kemarin sudah menderita ketika itu padi milik beberapa warga petani, sudah mau tumbuh biji padi akan tetapi air tidak dikirim, petani sudah memperhitungkan kalau sedot air pakai pompa lewat sumber sumur bor akan membutuhkan biaya banyak, akhirnya di biarkan dan tumbuhan padi pada mati. Sebagian petani yang sudah telanjur membiarkan tanaman padi mati kekeringan dan setelah di nyatakan tumbuhan padi mati beberapa hari kemudian irigasi baru kirim air, buat apa tanaman padi sudah pada kering tidak akan tertolong lagi. Jadi, tolong jangan sakiti rakyat lagi dengan seperti ini.

 

Semoga ada itikad baik dari pemerintah daerah, tadi pagi saya lihat selokan irigasi sudah mulai ada air mengalirlebih banyak. Semoga sawah warga bagian belakang bisa mendapatkan air yang cukup untuk bajak dan langsung bisa di tanam benih padi.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *