Petinju Manny Pacquiao Resmi Nyapres di Filipina, Namun Pecah Kongsi dengan Duterte

  • Bagikan


Petinju Manny Pacquiao Resmi Umumkan niat maju jadi capres Filipina gantikan Rodrido Duterte

Manny Pacquiao, berpose sebelum pertandingan terakhirnya pada 20 Agustus 2021 di Las Vegas melawan juara dunia welter Yordenis Ugas. Foto oleh AP/John Locher

Juara dunia tinju delapan kali, Manny Pacquiao, resmi mengumumkan niatnya menjadi calon presiden Filipina dalam pemilu yang bakal digelar Mei 2022. Ini adalah pertaruhan terbesar dari petualangan politiknya, setelah satu dekade terakhir sudah nyambi menjadi senator.

Pacquiao tahun lalu ditunjuk menjadi ketua partai PDP Laban, yang di pemilu sebelumnya sukses mengusung Rodrigo Duterte menjadi presiden. Dia memang sempat digadang-gadang jadi capres. Namun, hubungan sang superstar tinju dengan presiden memburuk selama beberapa bulan terakhir. Duterte pun batal mendukung Pacquiao nyapres, dan lebih memilih politikus tangan kanannya sebagai calon pemimpin Filipina yang baru.

Duterte tidak bisa lagi menjadi presiden, sebab konstitusi Filipina membatasi masa jabatan seorang presiden hanya untuk sekali selama kurun enam tahun. Sebelum pecah kongsi, Duterte dalam pidato sempat menyebut sosok Pacquiao sebagai “calon presiden Filipina selanjutnya.” Bulan lalu, Duterte tidak menyembunyikan niatnya untuk tetap berada di lingkaran kekuasaan. Kepada wartawan dia mengaku siap turun kasta jadi wapres, mendampingi Christopher “Bong” Go, yang selama ini dikenal sebagai orang kepercayaannya.

Olahragawan 42 tahun itu karirnya semakin meredup di kancah tinju global. Dalam laga melawan petinju Kuba Yordenis Ugas yang berstatus juara dunia kelas welter, di Las Vegas pada Agustus 2021 lalu, Pacquiao kalah angka. Kekalahan itu, ditengarai banyak pihak, sebagai faktor yang semakin mendorongnya total terjun ke politik nasional.

Dalam pengumuman niat untuk nyapres di Manila akhir pekan lalu, Pacquiao terang-terangan mengkritik pemerintahan Duterte yang mulai diselimuti dugaan korupsi pengadaan obat selama pandemi. “Kepada mereka yang ada di pemerintahan dan memanfaatkan kondisi memperkaya diri sendiri, ingatlah, jika saya terpilih kalian bakal masuk penjara,” ujar Pacquiao.

Dalam pengumuman yang disiarkan lewat streaming itu, pacquiao sekaligus menyebut karir politiknya akan dia perjuangkan, sekeras dia mengejar prestasi di ring tinju. “Saya adalah petarung, di dalam maupun luar ring. Saya tidak akan mundur dari pertarungan yang sudah saya canangkan,” tandasnya.

Akibat pecah kongsi antara Pacquiao dan Duterte, elit politik di partai PDP Laban sekarang sedang terbelah. Sebagian faksi mulai membelot dan berusaha mendukung sang bintang tinju. Namun mayoritas masih setia pada Duterte, mengingat popularitas sang presiden masih sangat tinggi di kalangan masyarakat pedesaan dan ekonomi lemah.

Hanya saja, posisi politik Duterte perlahan mulai tidak aman. Selain dugaan korupsi anak buahnya, Duterte juga masih menghadapi ancaman penyelidikan oleh Mahkamah Pidana Internasional atas dugaan pelanggaran HAM berat dalam perang narkoba brutal yang dia gelar sepanjang 2015-2016. Menjadi wapres mendampingi Bong Go, diyakini pengamat politik sebagai langkah Duterte cari aman supaya tidak diusik selepas lengser.

Di luar beberapa kerikil itu, Duterte masih punya mesin politik yang jauh lebih kuat dari sang bintang tinju. Aliansi sang presiden di parlemen juga masih solid.

“Pacquiao hanya punya peluang terpilih jika calon lain di momen kampanye nanti terlihat lemah,” kata Ela Atienza, guru besar ilmu politik the University of the Philippines saat dihubungi VICE World News.

Adapun pengamat lain menilai Pacquiao lebih sibuk bertinju dibanding menjalankan tugasnya sebagai senator sejak 2010 sampai sekarang. Sehingga, dia sebetulnya tidak punya pengalaman yang memadai untuk mengelola birokrasi. Selain itu, sang petinju punya pandangan homofobik, sangat taat pada gereja, serta menentang perceraian, isu yang didorong banyak perempuan Filipina agar segera disahkan pemerintah. Filipina adalah satu-satunya negara di Asia Tenggara yang tidak memiliki aturan perceraian, lantaran negara itu mayoritas warganya beragama Katolik.

“Saya khawatir, narasi yang akan dibangun tim kampanye Pacquiao nantinya sangat konservatif, bertendensi pro-agama, dan akhirnya mengorbankan hak-hak minoritas di Filipina,” kata Nicole Curato, sosiolog asal Filipina yang kini mengajar di The University of Canberra, saat dihubungi VICE World News.

Kendati saat ini statusnya adalah underdog, peluang Pacquiao terpilih bukannya tipis. Apalagi dia punya duit melimpah untuk mendukung kampanye tanpa harus bergantung pada partai. Meski begitu, pengamat khawatir masa depan politik Filipina justru akan mundur dengan majunya Pacquiao.

“Kalau sampai terpilih, maka Pacquiao hanya akan memperpanjang tradisi politik di Filipina yang mengedepankan popularitas, bukan visi ataupun program yang ditawarkan seorang politikus,” kata Atienza.

Follow JC Gotinga di Twitter.



  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *