Politisasi Agama?

As'ad Said Ali. (Ilustrasi Kolom Khas: fa vidi/Ngopibareng.id)

[ad_1]

Dalam khasanah keilmuan Islam, politik dimaknai sebagai upaya untuk mewujudkan kemaslahatan kehidupan duniawi dan ukhrawi bagi manusia. Aspek kekuasaan tidak ditonjolkan dan oleh karena itu bentuk sistem politik diserahkan kepada ijtihad manusia.

Sedangkan berdasarkan filsafah politik Barat modern, politik didefinisikan sebagai: “perjuangan untuk mendapatkan kekuasaan”. Selain menonjolkan kekuasaan, juga memisahkan agama dari politik yang dikenal dengan “Sekularisme“.

Hujjatul Islam Imam Al-Ghazali

Dalam Islam, agama tidak dipisah dari politik, sesuai pendapat Imam Al-Ghazali bahwa “agama dan negara“ seperti saudara kembar yang tidak bisa dipisahkan keduanya, agama sebagai asas/ nilai, sedang negara sebagai “penjaga”. Meskipun tidak bisa dipisah, tetapi fungsinya bisa dibedakan satu sama lain. Dan sistem ini menjadi solusi, Indonesia tidak terjebak mengikuti sekularisme dan teokratisme.

Kehadiran “kementerian agama” menjadi simbol bahwa negara kita bukan berfaham sekularisme. Sila Ketuhanan Yang Maha Esamenjadi simbol kita negara relijius tetapi bukan teokratik. Sedangkan “bhineka tunggal ika“ menjadi simbol atau rujukan toleransi yang menunjukkan jaminan perlakuan yang sama terhadap agama dan suku bangsa yang berbeda.

Memahami Aspirasi Pendiri Bangsa

Persoalannya, banyak dari politisi yang belum memahami kesepakatan “pendiri bangsa”. Setelah kekalahan DII/ NII secara militer pada 1960, seharusnya aspirasi negara teokrasi tidak perlu ada lagi. Sebab perjuangan untuk mewujudkan kemaslahan umat terwadahi dalam sistem politik.

Persoalannya, politisi dari berbagai partai yang bernafaskan Islam cenderung menonjolkan orientasi golongannya sendiri, bukan kepentingan umat secara keseluruhan. Akibatnya, eksklusivisme ideologi keagamaan yang lebih mengemuka bukannya kepentingan atas kemaslahatan riil umat. Di sinilah muncul apa yang sering kita dengar istilah “politisasi agama / تسيس الدين “, suatu retorika dengan menggunakan jargon-jargon agama secara berlebihan untuk membenarkan tujuan politik kepentingan masing masing.

Percekcokan Jadilah Cermin

Percekcokan politik yang tinggi di kawasan Timur Tengah selama ini hendaknya menjadi cermin bahwa Timur Tengah belum menemukan atau meramu sistem politik yang ideal. Kaum Nasionalis Relijius dan Relijius Nasionalis (meminjam istilah Bung Karno) di negara kita telah berhasil melakukan transformasi ideologi Barat, nilai Islam dan budaya bangsa kedalam Ideologi Negara Pancasila.

Persoalannya sekarang dan ke depan adalah bagaimana merealisasikan dan mewarnai visi para pendiri bangsa menjadi kenyataan khususnya “kemaslahatan umat lahir dan batin”. Bersatulah, lupakan ikhtilaf.!.

DR KH As’ad Said Ali

Pengamat Sosial-Politik, tinggal di Jakarta.



[ad_2]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.