Presiden Dikudeta Militer, Wakil Presiden Ambil Alih Kekuasaan

  • Bagikan
Kalangan militer di Mali selalu beraksi rebut kekuasaan. (Foto: reuters)


Wakil presiden transisi Mali Assimi Goita mengatakan, dia mencopot presiden transisi dan perdana menteri dari jabatannya, hari Selasa 25 Mei 2021. Ia pun membenarkan laporan dari beberapa kelompok internasional bahwa para pemimpin telah digulingkan pada hari Senin.

Goita – yang juga memimpin kudeta tahun lalu – mengatakan bahwa Presiden Bah N’Daw, Perdana Menteri Moctar Ouane dan beberapa penasihat mereka telah dicopot dari jabatannya. Alasanya, mereka gagal berkonsultasi dengannya mengenai perombakan kabinet.

Demikian pernyataan dibacakan penasihat Goita, Baba Cissé, pada penyiar nasional ORTM.

Dua Aktor Kunci Kudeta

Seorang sumber diplomatik senior mengatakan, dua aktor kunci dalam kudeta tersebut, Kolonel Sadio Camara dan Modibo Koné. Keduanya belum dimasukkan dalam pemerintahan baru yang diumumkan pada hari Senin. Menurutnya, hal itu kemungkinan menjadi alasan utama keputusan yang memicu kudeta. Demikian dikutip dari CNN, Rabu 26 Mei 2021.

Keberadaan presiden dan perdana menteri saat ini belum diketahui, dan CNN belum dapat menghubungi N’Daw, Ouane, atau perwakilan mereka untuk memberikan komentar.

N’Daw dan Ouane bertanggung jawab atas pemerintahan transisi yang dibentuk setelah kudeta Agustus 2020. Kudeta, yang dipimpin oleh Goita, menggulingkan Presiden Ibrahim Boubacar Keita dan Perdana Menteri Boubou Cisse. Pemerintah transisi, yang dipimpin oleh N’Daw, berjanji akan mengadakan pemilihan legislatif dan presiden pada Februari 2022 untuk memulihkan pemerintahan yang demokratis.

Dalam pernyataan yang dibacakan penasihatnya pada hari Selasa, Goita dilaporkan telah mengatakan dia akan “mengikuti proses transisi” dan mempertahankan pemilihan yang direncanakan pada tahun 2022.

Pada hari Senin, pernyataan bersama oleh Komite Pemantau Transisi Lokal negara itu – yang memantau kembalinya Mali ke pengawasan sipil setelah kudeta militer pada Agustus 2020 – mengatakan bahwa N’Daw, Ouane dan beberapa stafnya telah ditangkap dan berada dalam penahanan militer.


Kolonel Assimi Goita berbicara pada upacara yang menandai peringatan 60 tahun kemerdekaan Mali di Bamako pada 22 September 2020. (foto: cnn)

Militer Mali Tahan Presiden dan Dua Menteri

Sebelumnya dikabarkan, pejabat militer di Mali menahan presiden, perdana menteri dan menteri pertahanan pada Senin 24 Mei 2021. Kejadian ini setelah terjadi kudeta militer menggulingkan presiden sebelumnya.

Sumber diplomatik dan pemerintah seperti dikutip Reuters mengatakan, Presiden Bah Ndaw; Perdana Menteri, Moctar Ouane dan Menteri Pertahanan, Souleymane Doucoure dibawa ke pangkalan militer di Kati, luar ibu kota Bamako.

Ini terjadi beberapa jam setelah dua anggota militer kehilangan posisi mereka dalam perombakan pemerintahan.

Penggulingan Militer – Presiden Ibrahim Boubacar Keita

Penahanan mereka menyusul penggulingan militer pada bulan Agustus atas Presiden Ibrahim Boubacar Keita. Peristiwa itu memperburuk ketidakstabilan di negara Afrika Barat di mana kelompok-kelompok Islamis yang terkait dengan Al-Qaeda dan ISIS menguasai sebagian besar wilayah gurun di utara.

Sebelumnya, Ndaw dan Ouane telah ditugaskan untuk mengawasi transisi 18 bulan kembali ke pemerintahan sipil setelah kudeta bulan Agustus. Tetapi mereka tampaknya berbalik melawan kendali militer atas sejumlah posisi kunci.

“Pencabutan pilar-pilar kudeta merupakan kesalahan penilaian yang sangat besar. Tindakan itu mungkin ditujukan untuk mengembalikan mereka ke pekerjaan mereka,” kata seorang mantan pejabat senior pemerintah Mali kepada Reuters.



  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *