Protokol Kesehatan, Melindungi Nyawaku dan Keluargaku

  • Bagikan


Jakarta, SuaraKupang.com – Lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya. Pepatah tersebut sering didengar ketika menginjak bangku Sekolah Dasar atau Sekolah Menengah. Pepatah tersebut jika diartikan secara bebas yaitu setiap daerah memiliki adat istiadat yang berbeda; satu aturan di suatu daerah bisa berbeda dengan aturan di daerah lain.

Begitu pula dengan tingkah laku dan sikap masyarakat menghadapi pandemi Covid-19. Tidak semua masyarakat peduli dan mengerti pasti bagaimana menerapkan protokol kesehatan secara tepat. Ada yang tidak mau tahu dan ‘keukeh’ dengan pendapatnya, tetapi ada juga yang terbuka dan mau menerima informasi baru yang diterima.

Salah satunya, pandemi Covid-19 sempat melonjak drastis di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta karena sifat dan tingkah laku masyarakatnya. Bisa dikatakan, tingkat konfirmasi reaktif dan isolasi mandiri masuk dalam lima terbesar di Indonesia. Kali ini, kita hanya menyoroti soal abai-nya sebagian kecil masyarakat yang dapat berakibat pada masyarakat luas.

Secara kultural, masyarakat ada yang beranggapan bahwa Sultan Hamengku Buwono masih memiliki hubungan dengan Nyi Roro Kidul. Hubungan tersebut menyiratkan bahwa Nyi Roro Kidul akan melindungi Yogyakarta dari segala macam bahaya. Sehingga, masyarakat yang percaya hal tersebut menjadi abai terhadap protokol kesehatan dalam rangka mencegah penyebaran Covid-19.

Secara sosial, mayoritas masyarakat masih peduli dan taat akan himbauan dan informasi yang diberikan oleh pemerintah. Ada salah satu hal yang menarik, terjadi di daerah Kabupaten Bantul-Yogyakarta.

Dalam satu rumah terdapat sekitar lima orang penghuni. Salah satunya merupakan penghuni yang sudah tua, rentan dan memiliki komorbid bawaan. Orang tua rentan tersebut (sebut saja namanya Mbah Harjo), sudah tidak bisa melakukan perjalanan keluar rumah, sehingga hanya diam diri di dalam rumah. Suatu ketika, Mbah Harjo diindentifikasi reaktif Covid-19 dan langsung dilarikan ke Rumah Sakit terdekat. Namun, Harjo akhirnya meninggal di Rumah Sakit yang tentu saja didorong oleh komorbid pasien.

Pertanyaannya, bagaimana seorang tua renta yang hanya berada di dalam rumah bisa tertular Covid-19? Untuk mengetahui hal tersebut, tentu saja banyak analisa-analisa dan argumen tersendiri. Satu hal yang pasti, Mbah Harjo tertular Covid-19 tentu dari orang terdekat, bisa melalui barang bawaan atau melalui kontak langsung dengan penghuni lain yang reaktif Covid-19. Sangat disayangkan, penghuni rumah lainnya tidak dilakukan 3T, baik secara mandiri maupun dari instansi terkait. Penghuni beralasan, dirinya sehat dan tidak memiliki gejala sehingga hanya melakukan isolasi mandiri (isoman) di rumah. Protokol isoman yang dilakukan pun dirasa kurang ketat. Penghuni rumah masih bisa mengadakan “ngirim doa” dengan mengumpulkan warga sekitar. Apa tidak tambah tinggi resiko penularan Covid-19?

Di lain tempat, ada satu keluarga merasakan gejala yang teridentifikasi Covid-19 seperti batuk kering, linu pada persendian dan demam. Gejala tersebut, bergantian terjadi dalam satu rumah. Namun mereka enggan untuk melakukan Swab Antigen. “Takut di Covid-kan,” katanya.

Disinilah perlunya informasi yang benar tentang bagaimana melakukan protokol kesehatan secara benar dan tepat. Protokol kesehatan yang awalnya hanya 3M yaitu memakai masker, menjaga jarak dan mencuci tangan dengan sabun akhirnya berkembang menjadi 6M. Protokol tersebut yaitu menggunakan masker ganda, menjaga jarak, mencuci tangan, menjauhi kerumunan, membatasi mobilitas dan menghindari makan bersama.

Tidak lain dan tidak bukan, protokol tersebut dilakukan untuk mencegah penularan Covid-19. Apabila dilakukan secara ketat, protokol 6M tersebut bisa melindungi kita dari kemungkinan pembawa atau Orang Tanpa Gejala (OTG) yang merasa sehat dan tidak tertular Covid-19. Padahal masyarakat lain di sekitar OTG belum tentu memiliki tingkat kesehatan yang sama. Salah satunya Mbah Harjo tersebut.

Jikalau banyak ditemukan spanduk “Maskermu melindungiku, Maskerku Melindungimu”, memang patut diapresiasi dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Pasalnya, ada masyarakat yang merasa sehat, kemudian abai protokol kesehatan padahal dia berpotensi menularkan ke masyarakat lainnya. Jangan sampai, ketika kita sehat, kita lupa bahwa di sekitar kita ada masyarakat yang rentan terhadap Covid-19. Jangan sampai kita kehilangan anggota keluarga karena abai prokes. “Nyawa yang sudah melayang, tidak bisa ditarik kembali”.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *