Ratusan Hiu Terdampar di Pekarangan Warga Akibat Ganggang Beracun

  • Bagikan


Hiu perawat (nurse shark) berenang di antara terumbu karang. (Pedro Pardo/AFP via Getty Images)

Hiu perawat (nurse shark) berenang di antara terumbu karang. (Pedro Pardo/AFP via Getty Images)

Pekan ini, ratusan ekor hiu memadati kanal-kanal halaman belakang rumah warga Longboat Key di Florida, AS, untuk menyelamatkan diri dari mekarnya alga beracun yang disebut “red tide”. Alga tersebut dapat menyebabkan iritasi pada hewan.

“Saking banyaknya, kalian bisa sampai berjalan melintasi kanal di atas punggung hiu,” warga bernama Janelle Branower memberi tahu stasiun televisi WFLA.

Hiu jenis bonnethead, black tip, perawat dan lemon terkapar di pekarangan rumah seantero Florida sejak sebulan terakhir. Kejadian aneh ini disebabkan oleh red tide, ledakan pertumbuhan mikroorganisme yang dapat mengubah warna air laut menjadi kemerahan, menguras kadar oksigen dan menumpuk racun di dalam air.

Perubahan ini sangat berbahaya bagi kehidupan laut, dan dapat menyebabkan masalah pencernaan dan ruam—atau lebih buruk lagi kelumpuhan dan kematian—pada manusia yang keracunan makanan laut terkontaminasi.

“Red tide” mekar setiap tahun di Florida, tapi pertumbuhannya kian memburuk.

Red tide semakin memburuk. Sebagian besar karena toksin di daratan, terutama limpasan pertanian dan pupuk yang memasuki sistem pembuangan limbah, tangki septik dan semacamnya,” Larry Brand, profesor yang mendalami fitoplankton di Fakultas Ilmu Kelautan dan Atmosfer Universitas Miami Rosenstiel. “Badai hujan menjadi lebih intens akibat perubahan iklim, yang berarti semakin banyak limpasan dari darat.”

Faktanya, sejumlah red tide bisa mekar di musim kemarau. 

Bangkai ikan di sepanjang pantai Taman Straub Utara di pusat kota St. Petersburg, Florida, pada 15 Juli 2021. (Foto oleh Hailey Vaughan)

Bangkai ikan di sepanjang pantai Taman Straub Utara di pusat kota St. Petersburg, Florida, pada 15 Juli 2021. (Foto oleh Hailey Vaughan)

Banyak ikan mati akibat menurunnya kadar oksigen dan meningkatnya racun dalam air. Hal itu mengarah pada reaksi berantai di rantai makanan makhluk laut Florida. Spesies besar dan kecil macam hiu dan rumput laut pun terkena dampaknya. Namun, pakar mengatakan hiu jauh lebih sensitif terhadap ganggang.

“Awalnya sirip hiu tampak bermunculan,” ujar warga Longboat Key bernama John Wagman kepada WFLA. “Ada lebih banyak lagi saat kalian melihat ke bawah kanal dengan sedikit sinar matahari.”

Brand mengatakan, dia dan rekan-rekannya menduga itu disebabkan oleh divergensi evolusioner dari ikan bertulang; hiu memiliki tulang rawan. Alhasil, hiu mampu bertahan hidup saat gangga seperti red tide bermekaran, tapi masih sensitif terhadapnya. Hiu mau tak mau harus mencari tempat perlindungan yang aman dari toksin.

“Hiu bercabang dari ikan bertulang sejati sejak zaman dulu kala,” kata Brand. “Saya menduga, pada dasarnya, hiu memiliki tipe neuron yang berbeda dari ikan bertulang ini. Mungkin karena itulah hiu kurang rentan.”

Ahli biologi kelautan dan penyelam scuba Hailey Vaughan berujar, hiu yang merambah wilayah manusia juga menjadi indikator utama kerusakan habitat. Perempuan yang bekerja di Mote Marine Lab ini telah menyaksikan sendiri pertumbuhan red tide yang meningkat. Bangkai ikan yang terseret ke tepi pantai harus dikeruk pakai buldoser dan mesin berat agar tidak semakin menyebarkan ganggang beracun.

“Tak ada lagi kata untuk ‘tidak peduli kalau belum lihat sendiri,’” tegasnya. “Buktinya sudah tersapu ke belakang rumah kita.”

Selain membahayakan kesehatan, fenomena ini juga bisa merugikan sektor pariwisata.

“Operator kapal tidak menerima sewaan, restoran kosong karena bau, dan hotel sepi tamu karena tidak ada yang mau mendekati perairan,” Vaughan menerangkan. “Mekarnya red tide seharusnya menjadi peringatan bagi para pembuat kebijakan yang menutup mata bahwa cara kita memanfaatkan lingkungan dapat memengaruhi kehidupan, dan membutuhkan perhatian lebih besar.”

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *