Razia Preman, Polresta Probolinggo Amankan 11 Remaja

Sebanyak 11 remaja diamankan Polresta Probolinggo saat razia preman di sejumlah tempat. (Foto: Ikhsan Mahmudi/Ngopibareng.id)

[ad_1]

Sebanyak 11 remaja diamankan jajaran Satlantas Polresta Probolinggo di sejumlah jalan di Kota Probolinggo dalam razia preman, Senin, 14 Juni 2021. Mereka kemudian diamankan ke mapolresta setempat untuk didata dan mendapat pembinaan kelalulintasan.

“Perlu kami tegaskan, mereka yang terjaring razia preman bukanlah preman yang melakukan tindak pidana seperti, memalak. Tetapi jika tidak dibina mereka berpotensi menjadi preman beneran,” kata Kasatlantas Polresta Probolinggo, AKP Roni Faslah.

Razia yang melibatkan sejumlah personel polisi diawali di kawasan simpang tiga Jalan Raden Wijaya-Jalan Panglima Sudirman, Kota Probolinggo. Seorang pengatur lalu lintas atau biasa disebut “polisi cepek” diamankan saat mengatur truk-truk barang yang hendak menuju dan meninggal kawasan Pelabuhan Tanjung Tembaga, Kota Probolinggo.

Tim razia juga sempat mendatangi lokasi proyek Jembatan Kedungasem, Jalan KH Hasan Genggong. Tetapi di tempat ini tidak dijumpai warga yang berpotensi sebagai preman jalanan.

Polresta Probolinggo menggelar razia preman. (Foto: Ikhsan Mahmudi/Ngopibareng.id)
Polresta Probolinggo menggelar razia preman. (Foto: Ikhsan Mahmudi/Ngopibareng.id)

Tim razia kemudian menuju Simpang Tiga King di dekat Pasar Gotong Royong dan Pasar Baru. Di tempat ini sekitar 10 remaja diamankan. Mereka berkeliaran di pinggir jalan, di pertokoan, hingga di dalam Pasar Gotong Royong.

Di antara remaja itu mengaku, dirinya bukan preman tetapi pengamen jalanan. “Saya mengamen, Pak, bukan memalak orang,” ujar seorang remaja sambil menenteng gitar.

Kasatlantas mengaku, prihatin dengan perilaku para remaja yang berkeliaran di jalan ini. “Saya khawatir karena Sampeyan bisa tertabrak kendaraan yang melaju. Apalagi ada yang ikut mengatur lalu lintas di pertigaan,” ujar AKP Roni.

Dikatakan sebenarnya tidak ada masalah ada warga sipil ikut mengatur lalu lintas. “Tetapi jangan memaksa misalnya, ada sopir tidak ngasih uang kendaraannya digedor-gedor atau digores,” katanya.

Selain itu jangan sampai ada pilih kasih, pengguna jalan yang memberi uang dipriroritaskan untuk bisa leluasa berbelok. Sementara yang tidak memberi tips dibiarkan menunggu lama sehingga memicu kemacetan panjang di simpang tiga.

Setelah pendataan selesai, ke-11 remaja itu kemudian dilatih tata cara mengatur lalu lintas di halaman Mapolresta Probolinggo. Mereka yang selama ini mengatur lalu lintas akan dibekali rompi dan peluit.



[ad_2]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.