Resmi, Newcastle United Milik Konsorsium Arab Saudi

  • Bagikan
Secara resmi sejak kemarin klub Newcastle United menjadi milik konsorsium Arab Saudi yang dipimpin Putra Mahkota Saudi Mohammed bin Salman. (Newcastle United/Ngopibareng)


Secara resmi, klub sepak bola Liga Premier Inggris Newcastle United telah diambil alih oleh konsorsium yang Arab Saudi atau Saudi Arabia’s Public Investment Fund (PIF). Proses pengambil alihan ini berlangsung lama dan ribet, melalui pertarungan hukum yang melibatkan kekhawatiran tentang pembajakan dan pelanggaran hak di kerajaan.

“Premier League, Newcastle United Football Club, dan St James Holdings Limited hari ini telah menyelesaikan sengketa pengambilalihan klub oleh konsorsium PIF, PCP Capital Partners, dan RB Sports & Media,” demikian pernyataan Premier League, Kamis kemarin. “Setelah selesainya ujian pemilik dan direktur Liga Premier, klub telah dijual ke konsorsium dengan segera.”

Tahun lalu pengambilalihan senilai  300 juta pound atau sekitar Rp 6 triliun, oleh Dana Investasi Publik Saudi batal, karena kekhawatiran bagaimana pihak Arab Saudi akan mengelola Newcastle,  di tengah kekhawatiran tentang pelanggaran hak asasi manusia Saudi dan pembajakan hak olahraga.

Bahkan Amnesty International telah terlibat, dengan  memperingatkan bahwa pengambilalihan tersebut oleh Arab Saudi  merupakan ‘pencucian olahraga’ berdasarkan  catatan hak asasi manusia di Saudi.

PIF harus memberi jaminan kepada Liga Premier bahwa ketuanya, Putra Mahkota Saudi Mohammed bin Salman, tidak akan melibatkan negara dalam mengelola Newcastle.

“Kami sangat bangga menjadi pemilik baru Newcastle United, salah satu klub paling terkenal di sepak bola Inggris,” kata Gubernur PIF, Yasir Al-Rumayyan. “Kami berterima kasih kepada para penggemar Newcastle atas dukungan setia mereka selama bertahun-tahun dan kami bersemangat untuk bekerja sama dengan mereka.”

PIF akan menjadi mitra mayoritas bersama Reuben bersaudara dan pemodal kaya yang berbasis di Inggris, Amanda Staveley.

Pengambilalihan itu mengakhiri kepemilikan 14 tahun oleh taipan ritel Inggris Mike Ashley, yang secara luas dicemooh oleh warga kota Newcastle, yang stadion St James’ Park  dijuluki warga dengan sebutan the ‘Cathedral on the Hill  atau “Katedral di Atas Bukit.”.

Mike Ashley dianggap tidak mau menambah investiasi untuk memajukan klub dengan pembelian pemain-pemain berkelas. Dia juga dituding menggunakan Newcastle hanya sebagai kendaraan untuk mempromosikan kepentingan bisnisnya, dan kurangnya ambisi secara umum meskipun klub memiliki lebih dari 50.000 penonton berlangganan di stadion St James’ Park.

Newcastle belum pernah memenangkan trofi utama sejak Piala FA 1955 dan gelar liga terakhirnya adalah pada tahun 1927.

Kini  setelah kepemilikannya berpindah tangan, Newcastle oleh para penggemarnya diharap dapat bersaing dengan klub-klub papan atas, seperti Manchester City. Manchester City juga melejit setelah pada 2008 diambil alih oleh entitas Timur Tengah lainnya yaitu dari Abu Dhabi. Amanda Staveley  yang saat itu menjadi perantara pengambilalihan City, juga bertindak sebagai perantara pengambilalihan Newcastle oleh Saudi.

Sudah empat tahun lamanya Amanda Staveley berusaha membeli Newcastle. Tawaran terbaru gagal tahun lalu di tengah persoalan hukum. Hambatan utama pengambilalihan ini adalah pembajakan siaran olahraga di Arab Saudi oleh beIN milik Qatar, termasuk pertandingan Liga Premier. Arab Saudi menyatakan beIN ilegal pada tahun 2017 ketika Arab Saudi bersama, Bahrain, UEA dan Amerika Serikat melakukan  boikot ekonomi dan diplomatik yang lebih luas terhadap Qatar atas tuduhan Doha mendukung terorisme. Qatar dengan keras membantah tuduhan itu. Perselisihan itu diselesaikan pada Januari.

 

Pemilik lama dan pemilik baru Newcastle United, Mike Ashley (kiri) dan Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman. (Reuters/Ngopibareng)

Hari Rabu lalu Arab Saudi mengumumkan akan mencabut larangannya terhadap beIN dan juga berjanji untuk menutup situs pembajak. Larangan terhadap BeIN itu memunculkan pembajakan penyiaran, yang menurut Organisasi Perdagangan Dunia difasilitasi oleh Saudi, dengan menyiarkan ulang tayangan  beIN melalui layanan BeOut Q.

Liga Premier adalah salah satu organisasi olahraga yang memprotes pembajakan tayangan sepakbola yang disebut disponsori Arab Saudi. Hal inilah yang tahun lalu membuat  pihak Liga Premier tidak setuju apabila Newcastle tahun lalu oleh konsorsium PIF dari Arab Saudi. Newcastle melawan keputusan Liga Premier, dan melakukan banding yang pekan lalu mengambil keputusan Konsorsium PIF boleh mengambil alih Newcastle.

Tetapi Amnesty International juga menulis kepada Direktur Sksekutif Liga Premier, Richard Masters dengan mengatakan pengambilalihan itu dapat dieksploitasi oleh Arab Saudi untuk menutupi pelanggaran terhadap hukum internasional yang dilakukannya.

Amnesty menyebut kasus pembunuhan jurnalis Jamal Khashoggi di konsulat Saudi di Istanbul, tahun 2018,  setelah dinas intelijen AS mengatakan mereka yakin pembunuhan itu terjadi atas perintah putra mahkota. Arab Saudi membantahnya.

Mengomentari pengambilalihan Newcastle United oleh konsorsium Saudi yang telah beres dan selesai, kepala kampanye Amnesty di Inggris, Felix Jakens, mengatakan kepada kantor berita AFP yang dikutip Al Jazeera bahwa keputusan hari ini menunjukkan bahwa sepak bola Inggris terbuka untuk bisnis dalam hal pencucian olahraga. (*)



  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *