Sahabatmu Sahabatku, Sahabatku Sahabatmu

27 September 2021

[ad_1]

Ummi, begitu kau sakit, abi makin takjub dengan sahabat-sahabatmu. Begitu kau meninggal, ketakjuban itu makin menjadi-jadi. Mereka begitu cintanya kepadamu. Perhatiannya luar biasa. Perhatian yang penuh ketulusan. Perhatian yang tanpa pamrih. Kecuali untuk menggapai ridho-Nya.

Yang paling sederhana adalah perhatian melalui kiriman makanan. Walau aku tidak pernah menulis status medsos apapun yang mengabarkan sakitmu, perlahan-lahan sahabat-sahabatmu tahu juga. Begitu tahu, perhatian itu mulai muncul. Makanan terus mengalir deras ke rumah kita. Bahkan datangnya berlebih. Aku dan anak-anakmu harus terus berbagi aneka makanan itu kepada orang lain. Aneka makanan terus menumpuk di rumah.

Bahkan sampai hari ini, aku dan anak-anakmu masih terus menikmati makanan kiriman dari sahabat-sahabatmu. Mbak Um dan buah hatinya di rumah juga ikut menikmatinya. Mbak Um sudah seperti keluarga kita. Bahkan kau sudah berpesan dan pesan itu dipegang oleh perempuan Madura itu. Kau memintanya untuk tetap bekerja di rumah kita. Membantu kita dalam membesarkan anak-anak. Suami mbak Um adalah orang yang berada di barisan depan dalam proses pemakamanmu.

Ummi, perhatian sahabat-sahabatmu bukan sebatas makanan. Ketika sakitmu semakin berat, ada beberapa dari mereka mengundang abi masuk sebuah grup WA yang dibuat khusus untuk memantau perkembanganmu. Mereka memperhatikanmu seperti saudara kandungmu memperhatikanmu. Seperti saudara-saudara kandungku memperhatikanmu. Seperti anak-anak kita memperhatikanmu. Maka, update perkembanganmu pun terus abi bagikan kepada mereka. Disamping kepada anak-anakmu, saudara-saudara kandungmu, dan saudara-saudara kandungku. Sampai ketika kau sudah tidak bisa berkomunikasi jelang subuh Jumat 25 Desember itu. Sampai ketika kau menghembuskan nafas terakhirmu. Bahkan sampai saat ini. Mereka sudah seperti keluarga kita.

Sahabatmu sahabatku juga. Sahabatku sahabatmu juga. Bahkan kita pun seperti dua sahabat. Sahabat yang tanpa batas.

Mereka bukan hanya peduli kepadamu. Tetapi juga kepada anak-anakmu. Dan itu bukan hanya mereka  lakukan saat ini. Itu sudah mereka lakukan sejak kelahiran anak pertama kita. Kau tentu masih sangat ingat bagaimana sulung kita dulu diasuh mereka saat kau harus berada di lab untuk praktikum teknik kimia yang menyibukkan itu. Sementara aku juga harus menghadapi urusan kampusku. Sekaligus urusan mencari nafkah. Sekaligus urusan masjid ITS yang  juga kau hadapi sebagai pengurus inti.

Mereka begitu baiknya kepadamu. Sampai seolah abi dan anak-anakmu sama sekali tidak boleh terbebani oleh sakitmu. Oleh kepergianmu. Mental maupun material. Mereka turut menanggung beban itu. Sama sekali tanpa pamrih duniawi. Kau hanya seorang guru Al Qur’an. Tidak ada jabatan, bisnis, atau sejenisnya yang bisa dipamrihkan kepadamu. Murni sebuah persahabatan karena Rabb-Mu.

Selengkapnya klik https://korporatisasi.com/2021/01/07/sahabatmu-sahabatku-sahabatku-sahabatmu/

[ad_2]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *