Saking Mahalnya, Eek Paus Sperma Sampai Diselundupkan ke Pasar Gelap

  • Bagikan


Industri parfum memicu perdagangan gelap kotoran paus ambergris yang dihargai Rp357 ribu per gram

Seperti inilah wujud paus sperma yang bisa mengeluarkan ambergris, batuan bernilai bagi industri parfum. Foto olehOviyandi / Barcroft Media via Getty Images. 

Aparat kepolisian di Negara Bagian Tamil Nadu, India, pada 25 Oktober 2021 menyita bongkahan kotoran paus yang kerap disebut ambergris seberat 8 kilogram. Dua orang nelayan ditangkap, karena berniat menyelundupkan ambergris tersebut ke pasar gelap. Dari taksiran aparat, di pasar gelap kotoran itu bernilai US$1 juta (setara Rp14,2 miliar).

Ambergris adalah zat yang lazimnya dikeluarkan dari sistem pencernaan paus sperma. Kotoran ini diyakini berupa tumpukan mangsa yang tidak dapat dicerna dan baru akan “dikeluarkan ke laut ketika pausnya mati”. Masalahnya, hanya 1 dari 100 paus sperma di lautan yang mengeluarkannya, membuat kotoran ini jadi benda bernilai. Per gram ambergris rata-rata dihargai US$25 (setara Rp357 ribu).

Ambergris selama ratusan tahun terakhir seringkali dimanfaatkan sebagai dupa dan obat. Sedangkan sekarang, kotoran paus kerap dijadikan bahan parfum karena memiliki aroma “woody” atau “musky” yang khas. Alhasil, ambergris dihargai sangat mahal oleh industri kosmetik global.

Jual beli ambergris beberapa tahun belakangan mulai diatur di berbagai negara, agar tidak memicu dampak bagi populasi paus sperma. India termasuk yang melarang sepenuhnya jual-beli ambergris.

“Masih ada negara yang melegalkan jual beli ambergris, termasuk mayoritas negara-negara Eropa, tapi India tidak termasuk yang melegalkannya,” kata Sumanth Bindumadhav, peneliti senior dari Yayasan Humane Society International, saat dihubungi VICE World News. 

Menurut catatan Kepolisian India, sudah ada enam operasi penangkapan pelaku penyelundupan ambergris sepanjang Juli-Oktober tahun ini. India menetapkan paus sperma sebagai spesies yang dilindungi. Sementara para nelayan, yang tergiur uang banyak, ramai-ramai memburu mamalia itu di kawasan laut yang kerap dilewati paus.

“Masyarakat mungkin pernah mendengar ada nelayan kaya raya karena menjual ambergris yang ditemukan di laut. Realitasnya, yang sering terjadi adalah nelayan membunuhi paus, kemudian mencari ambergris di perut mereka,” kata Bindumadhav. 

Menurut para penyayang binatang, industri parfum harus berbenah dan mengubah selera pasar agar tidak lagi tertarik pada wangi khas ambergris. Tanpa ada perubahan di sisi industri, maka paus akan terus diburu. “Setidaknya, industri harus mulai memikirkan sumber wewangian serupa yang tidak memanfaatkan kotoran paus,” tandas Bindumadhav.

Follow Rimal Farrukh di Twitter.



  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *