Sejauh Mana Pengelolaan Food Loss dan Food Waste di Indonesia?

  • Bagikan


Jakarta, SuaraKupang.com – Berdasarkan data, Indonesia merupakan negara kedua terburuk setelah Arab Saudi dalam hal pengelolaan Food Waste dan Food Loss. Sebagai dan kontribusi bagi pemerintah agar pengelolaan Food Loss dan Food Waste (FLW) semakin baik, Keluarga Alumni Faperta Universitas Jenderal Soedirman menggelar webinar pengelolaan FLW di Indonesia yang menghadirkan BUMR Holding, Simple Centra Kitchen dan PT. Buhler Indonesia.

Berdasarkan hasil kajian menunjukkan bahwa timbulan FLW telah menyebabkan kerugian ekonomi Rp213-551 T/th (setara 4-5% PDB Indonesia/th). Di sektor lingkungan, pada 20 tahun terakhir, timbulan FLW di Indonesia mencapai 23-48 jt ton/th (setara 115-184 kg/kapita/th). Dalam periode yang sama, timbulan ini juga menghasilkan emisi Gas Rumah Kaca (GRK) sebesar 1.702,9 Megaton CO2-ekuivalen (setara 7,29% rata-rata emisi GRK Indonesia/th). Dari kacamata sosial, kandungan energi yang hilang akibat timbulan FLW diperkirakan setara dengan porsi makan 61 juta-125 jt orang/th. Data Bappenas juga menunjukkan bahwa timbulan FLW didominasi oleh jenis padi-padian yakni beras, jagung, gandum, dan produk terkait. Jenis pangan yang prosesnya paling tidak efisien adalah sayur-sayuran, di mana kehilangannya mencapai 62,8 persen dari seluruh suplai domestik sayur-sayuran yang ada di Indonesia.

“Berdasarkan data dari United Nation, Food Waste per kapita mencapai 15kg. Hal ini sangat disayangkan karena bertentangan dengan tugas dasar manusia untuk menfaatkan makanan dengan sebaik-baiknya. Food waste dan food loss ini bisa menyebabkan kelangkaan bahan makanan di masa mendatang. Hingga pada akhirnya, harga makanan yang semula terjangkau menjadi mahal karena kelangkaan bahan makanan,” kata President Director BUMR Holding, Mohamad Farel dalam webinar, Senin (13/9).

Untuk mengatasi hal tersebut, BUMR Holding memadupadankan produksi di lapangan dan kebutuhan di pasar dengan menggunakan teknologi. BUMN Holding menghubungkan nelayan dan petani melalui artificial intelligence (AI) sehingga penyedian pangan menjadi lebih efisien. “Kami mengusung teknologi untuk meminimalisir FLW. Kami menghubungkan petani dan nelayan dengan sistem yang dikembangkan. Kami juga mengembangkan artificial intelligence yang berfungsi untuk membaca trend pasar sehingga bisa menyediakan pangan yang efisien, FL dan FW bisa tepat,” tegasnya.

Saat ini, BUMR holding mengembangkan AI dan internet of think dari hulu ke hilir, baik petani dan nelayan terhubung dengan konsumen langsung. Tujuannya dari pengembangan AI dan Internet of Think ini agar kebutuhan makanan bisa tepat dan efisien. “Tidak lebih dan tidak kurang,” tegasnya.

Disisi lain, Simple central Kitchen membuat sistem terintegrasi dalam rantai pasok pangan dengan tujuan meningkatkan umur pakai dan umur simpan makanan. Hal tersebut dilakukan mulai dari suplai bahan baku, monitoring, hingga reduce. Salah satu kerjasama dengan BUMR Holding adalah proyek untuk mengurangi FLW penyediaan pangan terkait haji dan umroh maupun kebutuhan ritel.

“Kami mengelola makanan dari hulu hingga hilir, mengolah barang setengah jadi menjadi barang jadi. Secara global FAO memperkirakan ada 14 persen FLW pada makanan yang terjadi antara panen dan distribusi dengan total kerugian mencapai USD400 miliar. Hal tersebut sebenarnya tidak perlu terjadi jika kita bisa mengolah menjadi makanan yang memiliki umur simpan jadi panjang. Misalnya menjadi makanan setengah jadi dan makanan jadi,” kata perwakilan dari Simpel Central Kitchen, Sushane.

Pihaknya menargetkan pada tahun 2030 dapat turut mengurangi sampah pangan global baik ditingkat ritel maupun konsumen. Kebijakan FLW ini selaras dengan pembangunan rendah karbon yang termasuk dalam Sustainable Development Goals (SDGs). Dalam peranannya, Simpel Central Kitchen mendorong sustainable supply chain yang disokong dengan sistem informasi yang terintegrasi untuk melakukan track, monitor dan reduce.

“Kami berharap dapat menjadi solusi terkait FLW yang bermanfaat bagi masyarakat Indonesia,” terangnya.

Head Marketing PT Buhler Indonesia, Nurfin Trisno mengungkapkan Buhler yang mempoduksi mesin-mesin untuk pertanian terus berinovasi untuk menekan penggunaan energi dalam produksi pertanian. Data yang disampaikan Buhler, secara global sebanyak 25 persen emisi dihasilkan dari pertanian sedangkan 71 persen air juga dari pertanian. Selain itu, ada 1/3 makanan yang dihasilkan terbuang dengan percuma yang berbanding terbalik dengan adanya 800 juta orang masih kelaparan.

“Kepercayaan adalah hal yang penting. Kita membuat inovasi produk dan mesin dengan sebaik-baiknya. Produk Buhler sangat erat dengan pertanian. Tidak hanya menyediakan teknologi, tapi juga membantu edukasi, sharing inovasi dan segala hal untuk mengembangkan instrumentasi berbasis digital. Hal tersebut dilakukan untuk mereduksi Food Loss dan Food Waste,” terang Head Marketing PT Buhler Indonesia, Nurfin Trisno.

Sebagai upaya menekan terbuangnya energi secara percuma, Buhler mengalokasikan 5 persen dari anggaran untuk Riset dan Development (R&D). Hal tersebut dilakukan untuk memberikan terobosan tiap divisi menjadi lebih efisien dari sisi energi. “Inovasi akan terus mereduce energi yang dipakai,” terangnya.

Salah satunya adalah perubahan kekuatan motor, tadinya membutuhkan 45kw. Melalui inovasi yang dilakukan, kebutuhan energi bisa turun menjadi 35kw dengan kapasitas tetap misalkan 10 ton. Selain itu, ada automation, membuat semua berjalan secara otomatis. “Jadi mengurangi tenaga kerja dan presisi hasil secara maksimum,” tutupnya.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *