Sempat Kritis Akan Mati, Deddy Corbuzier Sempat Kecewa

  • Bagikan
Deddy Corbuzier sempat mengalami masa kritis karena masuk dalam fase badai sitokin.


Deddy Corbuzier mengaku sempat kecewa saat dirinya terpapar COVID-19. Kondisinya saat terpapar COVID-19 bahkan sempat drop dalam minggu kedua. Dia sempat mengalami badai sitokin. Kondisi paru-paru rusak parah hingga 60 persen dan sempat mengalami masa kritis selama tiga hari. Dokter yang merawat pun baru optimis Deddy Corbuzier akan survive hari ketiga masa kritis.

“Saya kecewa kenapa dengan keadaan saya yang sehat, vitamin D tinggi, zinc saya yang tinggi, saya berolaharaga, tapi kenapa tetap bisa kena COVID. Tanpa gejala lalu di minggu kedua saya hancur,” kata Deddy Corbuzier dalam podcastnya.

Menjawab pertanyaan itu, dokter Gunawan yang selama ini menangani Deddy Corbuzier mengatakan jika COVID-19 ini adalah virus yang masih sangat baru. Dia berkali-kali mengalami mutasi. Oleh karena itu apa yang dialami satu pasien dengan pasien lainnya berbeda.

“Respon imun bisa berbeda-beda. Case by case. Keadaan tubuh bisa membantu. Minggu kedua ada mungkin ada triger. Pada kondisi orang sehat, respon imun tubuh kadang malah berlebihan. Saat virus COVID-19 masuk, imun tubuh melawan. Tapi tak bisa mereka kemudian bunuh diri. Ini yang menyebabkan demam,” kata Gunawan.

Gunawan meyakinkan jika pola hidup sehat Deddy Corbuzier bukanlah pola hidup yang salah. Saat terserang COVID-19, karena badan  Deddy Corbuzier sangat membantu sekali treatment.

“Membantu sekali mulai treatment demam langsung turun, tanda peradangan langsung turun. Jantung yang baik, paru baru membuat kapasitas maksimal oksigen (VO2 Max) tinggi,” kata Gunawan.

Deddy Corbuzier jika menyebut, setelah sempat mengalami badai sitokin saat terpapar COVID dia menjadi belajar tiga hal. Pertama dia mengaku terlalu sombong dengan kondisi kesehatannya. Karena meski sehat ternyata bisa juga sampai mengalami badai sitokin dan kritis.

Kedua belajar saat-saat akan mati itu (moment life and death) seperti apa rasanya. Ketiga, menganggap tak percaya dengan dokter dan rumah sakit adalah bodoh. Karena mereka tak pernah mengalami moment saat kritis seperti akan mati.



  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *