Sepak Terjang Aktivis Thai Van Nguyen meruntuhkan Perdagangan Trenggiling di Vietnam

  • Bagikan


Aktivis penyelamat trenggiling di Vietnam Thai Van Nguyen

Thai Van Nguyen adalah pendiri Save Vietnam’s Wildlife yang dianugerahi penghargaan “Nobel Hijau”. Semua foto oleh Save Vietnam’s Wildlife.

Thai Van Nguyen besar di pedesaan Vietnam. Saat dia baru delapan tahun, Nguyen menyaksikan pemburu memisahkan paksa bayi trenggiling dari induknya.

“Saya melihat dengan mata kepala sendiri ketika pemburu menangkap dan membelek trenggiling di desa kami,” katanya kepada VICE World News. “Sedih sekali rasanya melihat seekor bayi trenggiling dipisahkan dari induknya. Induk trenggiling menaruh anaknya di atas perut dan melingkarkan badannya seperti bola. Tapi hewan itu tidak bisa menyelamatkan diri dan anaknya dari pemburu.”

Pengalaman mengerikan itulah yang membulatkan tekad Nguyen untuk membebaskan trenggiling dari jerat perdagangan satwa liar di Vietnam. Baru-baru ini, dia memenangkan Penghargaan Lingkungan Goldman atau “Nobel Hijau” yang bergengsi berkat kerja kerasnya selama ini.

“Penghargaannya bukan cuma untuk saya, tetapi juga para konservasionis di Vietnam,” tutur lelaki 39 tahun itu. “Semoga ini bisa menginspirasi orang-orang untuk bekerja sama dengan kami dalam menyelamatkan satwa liar di dalam negeri.”

Thai Van Nguyen dan rekan aktivis melepasliarkan trenggiling.

Thai Van Nguyen dan rekannya melepasliarkan trenggiling.

Penghargaan Lingkungan Goldman dianugerahkan setiap tahun kepada satu aktivis akar rumput atau pegiat lingkungan di enam benua. Tahun ini, Nguyen memenangkan kategori Asia, sementara Kimiko Hirata yang kampanyenya berhasil membatalkan 13 PLTU batu bara di Jepang memenangkan kategori Islands and Island Nations.

Trenggiling merupakan hewan yang paling banyak diperdagangkan di dunia. Mamalia nokturnal ini sering diburu karena sisik dan dagingnya bernilai tinggi di pasar gelap Asia, khususnya ketika dijual ke Tiongkok. Sisik trenggiling dipercaya bermanfaat bagi kesehatan tubuh, meski belum ada bukti ilmiah yang mendukung klaim tersebut.

Vietnam adalah pusat perdagangan trenggiling yang terbesar di benua Asia. Laporan World Justice Commission menunjukkan, 75.000 kilogram sisik trenggiling disita di Vietnam sepanjang 2016-2019. Itu merupakan jumlah sitaan terbesar kedua untuk negara tertentu.

Thai Van Nguyen memamerkan piala Penghargaan Lingkungan Goldman

Thai Van Nguyen memamerkan piala Penghargaan Lingkungan Goldman yang dia terima pada Juni.

Di awal pandemi, ilmuwan menyebut trenggiling rentan terhadap virus corona dan bisa menjadi inang perantara SARS-CoV-2, virus penyebab Covid-19. Namun, penelitian terbaru tidak menemukan trenggiling di pasar basah Wuhan. Musang dan cerpelai yang dijual di sana juga dituduh sebagai inang perantara virus. Asal-usul virus yang sesungguhnya masih belum diketahui.

Pada 2014, Nguyen mendirikan organisasi nirlaba Save Vietnam’s Wildlife (SVW) untuk menghentikan perburuan ilegal. Dia juga tergerak mengedukasi publik tentang pentingnya konservasi dan pelestarian habitat alami. Dia lalu membentuk tim anti-perburuan pertama di Vietnam empat tahun kemudian. Mereka berhasil menghancurkan hampir 10.000 jebakan, membongkar 775 kamp ilegal dan menjebloskan 558 orang yang terlibat dalam perburuan ilegal ke penjara. SVW telah menyelamatkan sekitar 1.540 ekor trenggiling dari perdagangan satwa liar.

Selain menyelamatkan dan merawat trenggiling hingga sembuh, pusat konservasi Nguyen juga menjalani program penangkaran yang memulihkan jumlah populasi dari 80 menjadi 90 persen dalam 30 tahun terakhir, menurut Wildlife Conservation Society. Dari delapan spesies trenggiling yang diketahui, dua spesies Asia masuk ke dalam daftar spesies terancam punah IUCN.

Thai Van Nguyen menggendong trenggiling

Organisasi nirlaba Thai Van Nguyen telah menyelamatkan lebih dari 1.500 ekor trenggiling.

“Sebagai salah satu dari segelintir orang yang melakukan konservasi dan rehabilitasi trenggiling, Nguyen mengisi ruang penting untuk memahami dan melindungi hewan yang terancam punah ini,” bunyi pengumuman penghargaan yang menjelaskan kenapa dia pantas menerima penghargaan dan hadiah uang tunai senilai US$200.000 (Rp2,9 miliar).

Nguyen adalah orang Vietnam kedua yang menerima penghargaan ini. Menurutnya, mengamankan pendanaan untuk organisasi nirlaba sangat menantang, terutama saat pandemi melanda dan pendonor lebih memilih mengalirkan dananya untuk bantuan Covid-19.

Namun, penghargaan itu akan menjadi dorongan besar bagi upaya konservasi dan hadiah uangnya akan digunakan untuk membuat program berkelanjutan dalam jangka panjang.

“Menyelamatkan satwa liar, alam dan hutan bukanlah pekerjaan satu orang atau organisasi. Kita harus melakukannya bersama-sama.”

Follow Anthony Esguerra di Twitter.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *