Sindrom Stockholm, Gangguan Psikologis Lindungi Diri dari Trauma

Ilustrasi korban sindrom stockholm. (Grafis: Fa Vidhi/Ngopibareng.id)

[ad_1]

Sinetron Zahra telah dihentikan penayangannya. Hal ini terkait oleh pemeran Zahra yang masih ABG 14 tahun. Meski pemeran Zahra diceritakan kecelakaan hingga harus menjalani operasi plastik, setelahnya ia diganti oleh bintang lainnya, yakni Hanna Kirana, toh gelombang protes netizen tak bisa dibendung. Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) mengimbau stasiun televisi untuk menghentikan penayangan sinetron Zahra.

Terlepas dari pro kontra sinetron Zahra, kebaikan Zahra kepada Pak Tirta yang telah punya dua istri memunculkan istilah kejahatan seksual, seperti pedofil hingga sindrom Stockholm. Sebagai informasi, sindrom Stockholm merupakan gangguan psikologis yang terjadi pada korban penyanderaan hingga akhirnya bersimpati atau bahkan memunculkan rasa sayang kepada pelaku.

Istilah sindrom Stockholm muncul sejak 1973.

Asal Usul Sindrom Stockholm

Nama Stockholm Syndrome diambil dari salah satu kejadian perampokan bank Sveriges Kreditbanken yang terjadi di kota Stockholm, Swedia pada tahun 1973. Sang pelaku perampokan bernama Jan-Erik Olsson merupakan narapidana dan menyandera empat pegawai bank di dalam salah satu ruangan brankas utama bank. Olsson menyandera keempat pegawai tersebut selama 6 hari dari tanggal 23 Agustus hingga 28 Agustus 1973.

Selama jangka waktu enam hari tersebut, polisi kota Stockholm mencoba bernegosiasi dengan Olsson dan sang pelaku perampokan meminta rekan satu penjaranya, yakni Clark Olofsson untuk bisa bergabung dengannya, jika hal tersebut dikabulkan maka ia akan mempertimbangkan untuk melepas keempat sandera.

Selama enam hari penyekapan dan negosiasi, empat korban penyekapan bank ternyata menunjukkan perilaku yang aneh. Mereka justru lebih takut kepada pihak keamanan dibandingkan Olsson dan Olofsson yang selama enam hari menyekap mereka.

Seorang krimolog sekaligus psikiatri yang membantu polisi dalam kejadian tersebut, Nils Bejerot, lantas dengan cepat menyadari ikatan emosional antara keempat korban terhadap Olsson segera setelah keempatnya dievakuasi dari bank. Keempat korban bahkan menolak untuk bersaksi atau menjatuhkan dakwaan kepada kedua pelaku.

Kondisi psikologi ini kemudian sampai kepada titik dimana korban justru memiliki keyakinan bahwa pelaku menjadi tidak berbahaya (harmless).

 

Penyebab Sindrom Stockholm

1. Korban penyanderaaan merasa pelaku baik dan tidak menyakitinya.

2. Dalam penyanderaan, baik korban atau pelaku terisolasi di ruangan yang sama, hal tersebut memicu kesempatan bagi mereka saling berinteraksi.

3. Korban penyanderaan merasa diperlakukan dengan baik.

4. Untuk menjamin keselamatannya, korban akan berbuat baik pada pelaku.

Gejala Sindrom Stockholm

Dalam jurnal yang ditulis oleh Elizabeth L. Sampson dan Nicola Tufton berjudul Stockholm Syndrome: Psychiatric Diagnosis or Urban Myth, terdapat beberapa hal yang bisa diidentifikasi dari para penderita Stockholm Syndrome.

– Berkembangnya perasaan positif terhadap penculik, penyandera, atau pelaku kekerasan.

– Berkembangnya perasaan negatif terhadap keluarga, kerabat, pihak keamanan, atau masyarakat yang berusaha untuk membebaskan atau menyelamatkan korban dari pelaku.

– Memperlihatkan dukungan dan persetujuan terhadap kata-kata, tindakan, dan nilai-nilai yang diutarakan oleh sang penculik, penyandera atau pelaku kekerasan.

– Ada perasaan positif yang muncul atau disampaikan oleh pelaku terhadap korban.

– Korban secara sukarela membantu pelaku, bahkan untuk melakukan tindak kejahatan.

– Tidak mau berpartisipasi maupun terlibat dalam usaha pembebasan atau penyelamatan korban dari pelaku.

Penyebab Seseorang Bisa Menderita Sindrom Stockholm

Dalam keadaan yang bersifat traumatis seperti penculikan, korban tentu akan mengalami tindakan kekerasan; baik fisik, seksual, dan/atau verbal yang akan membuatnya sulit untuk berpikir dengan jernih.

Di satu sisi menurut sang penculik, kabur bukanlah suatu pilihan bagi korbannya karena ia pasti akan mati bila melakukannya. Penculik juga mengancam akan membunuh keluarganya bila ia berusaha untuk kabur. Jadi, satu-satunya jalan untuk bertahan hidup adalah dengan mematuhi penculiknya tersebut.

Suatu kebaikan kecil yang dilakukan oleh sang penculik, termasuk dengan tidak membunuh korbannya, akan membuat sang penculik tampak seperti seorang pahlawan yang sangat baik bagi sang korban.

Sang penculik pun lama-kelamaan tidak lagi terlihat menakutkan, melainkan seperti sebuah alat untuk bertahan hidup dan melindungi diri dari bahaya. Sang korban pun akhirnya akan mengalami suatu delusi atau pemahaman palsu (untuk mengurangi stress psikologis dan fisik yang ia alami), di mana ia benar-benar mengira bahwa sang penculik adalah temannya, bahwa ia tidak akan membunuhnya, dan bahkan mereka dapat saling membantu untuk dapat keluar dari kekacauan yang telah terjadi.

Cara Menangani Sindrom Stockholm

Sindrom ini merupakan gangguan psikologis yang tidak memiliki standar baku karena gangguan ini jarang terjadi.  Sehingga tidak ada pengobatan pasti untuk menangani sindrom ini.  Namun, psikoterapi dan pengobatan yang konsisten dapat membantu untuk pemulihan gejala pascatrauma.

Penderita sindrom Stockholm diajari untuk mengontrol emosi dan membentuk hubungan baru dengan orang lain yang mengalami situasi serupa. Namun ada pula terapi keluarga agar si pasien dapat berbicara tentang perasan serta kekhawatiran yang sedang mereka rasakan secara terbuka. Dengan demikian keluarga dapat mengetahui cara yang lebih baik dalam membantu menangani penderita sindrom Stockholm.

Terkadang orang yang awam akan berfikir bahwa orang yang memiliki masalah mental adalah orang dengan gangguan kejiwaan. Penyakit mental berbeda-beda macamnya, dan jika tidak tahu lebih baik untuk belajar menghargai dan menghormati orang, bukan malah membuat penderita menjadi semakin sakit, karena perkataan dapat memicu reaksi berbeda bagi orang-orang yang punya masalah kesehatan mental.



[ad_2]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.