Sinergi Pelindo Mendorong Jakarta-Papua Lebih Dekat

  • Bagikan


Proses bongkar muat di Pelabuhan (Dok.Pelindo I)

Merger Pelindo hanya akan berkontribusi 1,6 persen terhadap biaya logistik. Meski begitu, sinergi ini mampu menciptakan efek domino sehingga memangkas biaya logistik turun secara signifikan.

Ongkos kririm yang mahal masih menjadi salah satu sebab mengapa barang-barang produksi asal Indonesia masih sulit bersaing dengan produk sejenis dari negara lain. Masih tinginya biaya logistik di tanah air sempat membuat jengkel Menteri Perdagangan RI Muhammad Lutfi.

Di hadapan anggota DPR Komisi VI, Menteri Perdagangan menceritakan biaya kirim udang asal Papua yang dikirim ke Paris, Prancis, lebih murah dibandingkan dengan ongkos kirim ke Jakarta atau Surabaya. “Ongkos logistik saat ini masih tinggi, buktinya, udang dari Papua lebih murah dikirim ke Paris dari pada dikirim ke Jakarta atau Surabaya. Ini kenyataan!” ungkap Muhammad Lutfi geram. Ini artinya, dilihat dari biaya logistik, Papua-Paris lebih dekat ketimbang Papua-Jakarta.

Jika kondisinya masih seperti ini, jangan harap produk UMKM Indonesia punya daya saing di pasar internasional. Sebab, ongkir yang mahal juga dialami oleh produk asal Indonesia yang akan diekspor. Misalnya saja untuk produk furniture yang dikirim melalui kontainer ukuran 20 ft. Ongkirnya ke Amerika saja mencapai USD 10 ribu. Nilai produk furniture itu sendiri nilainya USD 10 ribu. “Jadi di pasar,  furniture asal Indonesia sudah tidak masuk akal harganya,” tegas Menteri Perdagangan.

Upaya untuk menekan ongkos logistik sudah menjadi perhatian pemerintah sejak lama. Di awal pemerintahan Presiden Jokowi telah dicanangkan Program Tol Laut, namun itu belum cukup untuk menekan biaya logistik. Itu sebabnya Kementerian BUMN pun membentuk Holding BUMN Pelabuhan.

Holding ini akan menyinergikan empat BUMN Pelabuhan, yakni Pelindo I, Pelindo II, Pelindo III dan Pelindo IV. Direncanakan, mulai awal Oktober ini  sinergi antara Pelindo tersebut sudah terbentuk. Menteri BUMN Erick Thohir mengatakan, terbentuknya holding BUMN Pelabuhan akan dapat menekan ongkos logistik di Indonesia yang masih kelewatan mahalnya.

Ia mengungkapkan, biaya logistik di Indonesia saat ini sekitar 23 persen dari PDB, sedangkan untuk rata-rata dunia saja hanya 13 persen. “Dengan biaya logistik yang lebih mahal 11 persen, bagaimana kita bisa berkompetisi?” ujar Erick Thohir.

Di antara negara-negara ASEAN, biaya logistik di Indonesia juga masih yang paling mahal. Di Vietnam biaya logistik hanya 20 persen dari PDB, di Thailand malah hanya 15 persen. Lalu Malaysia, dan Filipina ada di kisaran 13 persen, serta Singapura yang cuma 8 persen.

Indonesia makin sulit bersaing karena dengan negara-negara yang menjadi mitra dagang utama, biaya logistiknya juga masih yang paling tinggi. Sebut saja China yang sudah bisa menekan biaya logistik hingga sekitar 10 persen, India (13 persen), Taiwan (9 persen), Jepang (8 persen) dan Amerika (10 persen). Biaya logistik yang lebih tinggi dari negara-negara lain, menyebabkan harga barang-barang impor bisa lebih murah ketimbang produk lokal. Begitu juga ketika membeli barang di luar negeri, terasa lebih nyaman di kantong.

Menteri BUMN menambahkan, setelah holding BUMN Pelabuhan terbentuk, perusahan ini akan bernama PT Pelabuhan Indonesia (Persero). Penggabungan Pelindo ini juga akan membuat  95 pelabuhan dari Sabang hingga Marauke yang selama ini dikelola oleh Pelindo I hingga Pelindo IV dapat bersinergi. Setelah itu akan ada empat subholding berdasarkan klaster bisnis. Yakni petikemas, non petikemas, logistik dan hinterland development, serta marine, equipment, dan port services.

Tidak itu saja, penggabungan Pelindo ini bakal memunculkan kekuatan baru di bisnis pelabuhan dunia. Wakil Menteri BUMN, Kartika Wirjoatmodjo mengatakan, total asset dari penggabungan empat Pelindo ini mencapai Rp112 triliun, dengan perkiraan pendapatan mencapai Rp28,6 triliun per tahun. Penggabungan ini juga akan meningkatkan kemampuan BUMN Pelabuhan Indonesia dalam bongkar muat petikemas sebesar 16,7 juta TEUs (throughput). Dengan kemampuan sebesar itu, perusahaan ini akan menjelma menjadi operator terminal petikemas terbesar ke-8 di dunia.

Setelah PT Pelabuhan Indonesia beroperasi, jangan dulu berharap bisa langsung menurunkan biaya logistik. Seperti yang dijelaskan oleh Direktur Utama PT Pelindo II (Persero) Arif Suhartono, merger dari empat Pelindo ini hanya akan membuat biaya logistik turun 1,6persen saja. Perinciannya, kontribusi direct ke pelabuhan, 0,3 persen sedang indirect adalah sekitar 1,3persen. “Jadi totalnya sekitar 1,6 persen,” jelas Arif Suhartono yang juga menjadi Ketua Organizing Committee Integrasi Pelindo.

Padahal, pemerintah melalui Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 5 Tahun 2020 tentang Penataan Ekosistem Logistik, menargetkan biaya logistik turun menjadi 17 persen terhadap PDB pada 2024. Jika target ini tercapai pun, biaya logistik di Indonesia juga masih lebih tinggi dari rata-rata biaya logistik dunia.

Penggabungan Pelindo hanya mampu menurunkan biaya logistik 1,6 persen itu berarti masih jauh pangang dari api. Masih terlalu jauh dari yang ditargetkan pemerintah. Lalu untuk apa Pelindo digabung jika hanya mampu memberikan dampak yang tak signifikan terhadap penurunan biaya logistik?

Butuh Revolusi Logistik

Mckinsey Global Institute, pada 2014 menyatakan, biaya logistik di negeri ini mencapai  24 persen dari total PDB. Saat ini, setelah enam tahun berlalu, biaya logistik hanya turun sekitar 1 persen menjadi hanya 23 persen (2020).  Perlu upaya yang luar biasa (revolusi) untuk bisa menurunkan biaya logistik sekitar 6 persen dalam kurun waktu empat tahun ini, agar target penurunan biaya logistik dapat tercapai.

Arif Suhartono mengakui, peran pelabuhan terhadap biaya logistik terbilang rendah. Meski begitu, ia menegaskan peran pelabuhan sangat vital, karena memengaruhi rantai logistik lainnya seperti kondisi transportasi darat dan persediaan barang (inventory). Di sisi lain, Pelabuhan menjadi bagian penting bagi dunia. Betapa tidak, lebih dari 90 persen perdagangan dunia dilakukan melalui jalur laut.

Sebagai negara maritim, keberadaan pelabuhan memegang peranan strategis, yakni menjadi jembatan penghubung antara satu pulau dengan pulau yang lain.  Pelabuhan menjadi infrastruktur  yang mampu mendorong kegiatan ekonomi lebih lincah bergerak. Sehingga punya peran yang besar untuk menciptakan pertumbuhan ekonomi serta memeratakan hasil  kegiatan ekonomi (pembangunan).

Pelabuhan punya peran besar dalam sistem logistik. Sebab, disinilah berbagai kegiatan logistik terjadi, seperti kegiatan transportasi, bongkar muat barang, pemeriksaan, penyimpanan dan lain sebagainya. Oleh sebab itu, kinerja pelabuhan juga perlu diperbaiki agar bisa berkontribusi terhadap turunnya biaya logistik tanah air.

Adanya integrasi dan sinergi di antara pelabuhan di Indonesia dari Aceh hingga Papua maka dapat menciptakan standar pelayanan yang sama di masing-masing pelabuhan. Selama ini, menurut Arif, kinerja pelabuhan yang tak sama membuat perusahaan pelayaran mengoperasikan kapal yang lebih kecil untuk memuat kargo. Menggunakan kapal-kapal kecil tentu secara unit biayanya lebih tinggi. “Nah, dengan kualitas layanan yang setara diharapkan operator pelayaran tak ragu untuk mengoperasikan kapal-kapal dengan ukuran yang lebih besar,” papar Arif.

Menanggapi hal ini, Direktur Operasi dan Komersial PT Pelindo III (Persero) Putut Sri Muljanto menambahkan, standarisasi yang dimaksud menyangkut banyak aspek dari infrastruktur hingga pelayanan. Seperti tingkat kedalaman pelabuhan, peralatan bongkar muat, jaminan kecepatan bongkar muat yang sama dan sebagainya. Adanya standar yang sama, produktivitas pelabuhan dapat digenjot lebih tinggi lagi melalui layanan yang terdigitalisasi. Sistem Indonesia Logistik Community Services (ILSC) pun dapat dimanfaatkan secara maksimal.

Tidak hanya itu, Pelindo juga akan melakukan penguatan ekosistem logistik melalui peningkatkan kerjasama dengan industri logistik. Lalu melakukan efisiensi supply chain maritime dengan memperluas jaringan pelabuhan, serta meningkatkan nilai perusahaan dengan penguatan struktur keuangan dan pengelolaan aset yang optimal.

Toto Pranoto, pengamat BUMN dari Universitas Indonesia (UI) mengatakan, secara langsung pelabuhan memang memberi kontribusi yang kecil terhadap turunnya biaya logistik. Tapi jangan lupa, daya saing pelabuhan yang tidak kompetitif akan menyebabkan ekonomi biaya tinggi. Ini juga yang jadi biang keladi ongkos logistik masih tinggi.“Jadi tetap saja punya pelabuhan yang kompetitif menjadi syarat penting untuk menarik investor dan mendongkrak pertumbuhan ekonomi wilayah,” ujarnya kepada BUMN Track.

Menurut Toto yang juga Associate Director, BUMN Research Group (BRG) Lembaga Management UI, biaya logistik yang tinggi menjadi salah satu kendala lemahnya daya saing Indonesia dalam menarik investasi. Kendala tersebut antara lain masih sering terdengar keluhan lemahnya layanan pelabuhan terkait waktu tunggu masuk pelabuhan yang terlalu panjang, penumpukan petikemas (dwelling time) dan kualitas birokrasi layanan yang perlu ditingkatkan.

Adanya merger Pelindo ini diharapkan mampu mengatasi kelemahan-kelamahan tersebut. Caranya, dengan menggunakan sistem IT yang lebih terintegrasi sehingga layanan kapal menjadi lebih cepat. Konsolidasi produk dan layanan sehingga harga bisa lebih murah. Segmentasi layanan untuk meningkatkan kualitas dan diferensiasi produk sehingga daya saing meningkat. Ini semua bisa dikerjakan saat Holding Pelabuhan terbentuk.

Setelah PT Pelabuhan Indonesia terbentuk, masih banyak pekerjaan rumah yang harus segera dibereskan untuk bisa menekan biaya logistik. Ekspektasi publik dan customer akan makin meningkat. Mereka berharap layanan akan makin bagus dengan biaya yang affordable. Harapan tersebut bisa terpenuhi jika value creation tercipta pada perusahaan baru ini.

Para pengelola perusahan baru ini harus menyadari value creation tidak akan tercipta jika proses pascasinergi Pelindo ini (post merger integration/ PMI) tidak berjalan mulus. Disinlah pentingnya kemampuan leadership dalam mengawal proses pascamerger ini berjalan mulus.

Isu yang berhembus juga harus bisa dikelola dengan baik, seperti pengurangan karyawan, pengurangan jumlah posisi di top management (direksi) hingga tuduhan monopoli. Melihat pengalaman dalam membentuk holding BUMN sebelumnya, Toto Pranoto optimistis isu-isu ini dapat ditangani dengan baik oleh manajemen dengan dukungan Kementerian BUMN.

Infografis

Dampak Merger Pelindo Terhadap Sistem Logistik
Menyatukan sumber daya Pelindo untuk menciptakan konektivitas
Pelayanan dan kecepatan pelabuhan meningkat dan memiliki standarisasi
Menciptakan efisiensi jasa pelabuhan
Memangkas ekonomi biaya tinggi
Mempengaruhi kondisi transportasi darat dan persediaan barang (inventory)
Membuka kesempatan perseroan untuk go internasional
Berkontribusi lebih maksimal terhadap perekonomian nasional
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *