‘Spirit Kemanusiaan’, Pameran 50 Perupa Peruja di Galeri Baru

  • Bagikan
Mengobrol di Galeri Peruja bersama Cak Kandar (tengah), dan Andi Suandi (paling kanan).  (Foto:Yus)


Komunitas Perupa Jakarta Raya (Peruja) kini memiliki sekretariat sekaligus galeri baru. Kalau tadinya semua kegiatan dilakukan di kawasan Pasar Gembrong, Jakarta Timur, kini pindah ke tempat yang baru yaitu di Jl. Ciputat Raya 10 C, Tanah Kusir, Kebayoran Baru,  Jakarta Selatan.  

Dari Jakarta Timur boyong ke Jakarta Selatan. Menambah maraknya komunitas seni di wilayah ini, melengkapi yang sudah lama ada antara lain Salihara Arts Center di kawasan Pasar Minggu, dan Edwin Gallery di Kawasan Kemang.

Letak Galeri Peruja berada pada satu ruas jalan dengan pusat penjualan barang-barang antik di kawasan Ciputat. Kawasan ini memang dikenal sebagai salah satu pusat barang antik terutama yang berbahan dasar kayu.

 Peresmian sekretariat dan Galeri Peruja akan ditandai dengan pameran seni rupa mengangkat tema “Spirit Kemanusiaan“. Pameran berlangsung 10 – 20 November 2021, melibatkan 50 perupa tiga generasi bagi anggota Peruja sendiri maupun undangan khusus.

 Beberapa perupa yang ikut pameran bersama antara lain perupa senior Sri Warso Wahono, Cak Kandar, Nunung WS, Sulebar Soekarman,  Salim M, Dick Syahrir, Sonny Eska, Irawan Karseno, Yulianto,  Jerry Tung, Yusuf Susilo Hartono, Andi Suandi, Eddy Kamal, Pug Warudju. Juga Rindi Atmoko, Novandi, Gogor Purwoko, Zamrud Setyanegara, Antoni Campor, dan Ratu Adina. Mereka menampilkan  lukisan, sketsa, objek, dll., dengan berbagai corak, medium dan pilihan obyek.

Ketua Peruja Andi Suandi menjelaskan, selama berlangsungnya pameran akan diisi dengan beberapa agenda luring, di antaranya  artist talk, workshop dan pemutaran film seni rupa. Adapun pelaksanaannya tetap dengan penerapan prokes, mengingat Jakarta belum bebas dari pandemi Covid-19. 

Lahir dari rahim Hipta

Menurut Cak Kandar selaku Ketua Dewan Pembina Peruja menambahkan, komunitas ini lahir dari rahim Hipta (Himpunan Pelukis Jakarta). Hipta  didirikan di Balai Budaya, 1 Desember 1987 oleh sembilan pelukis, diantaranya : Hardi (eksponen Gerakan Seni Rupa Baru), Abas Alibasyah (mantan Direktur ASRI/Akademi Seni Rupa Yogyakarta), Cak Kandar, Syahnagra Ismail, dan Aisul Yanto.

Sejak berdiri 1987, Hipta belum berbadan hukum, meski pengurusnya silih berganti. Tahun 2019, beberapa pendiri menunjuk Andi Suandi dkk untuk mengaktifkan Hipta yang vakum.  ” Ketika Andi bersama notaris hendak melegalkan di Kemenkumhan, ditolak, karena nama Hipta sudah ada yang memakai (non seni). Akhirnya, sepakat memakai nama baru Peruja (Komunitas Perupa Jakarta Raya, bentuknya yayasan. Dengan nama baru ini, diharap bisa menampung anggota tidak hanya pelukis, tapi juga pematung pegafris, sketser dan yang lain, ” kata Cak Kandar.

Pameran Peruja pertama secara daring berlangsung di Galeri Nasional, 2020, bertajuk  “Je/Ja/Karta”, dengan kurator Citra Smara Dewi. Ketika komunitas ini masih menyandang nama Hipta, pernah menggelar pameran bersama secara luring bertajuk “Trans-Jakarta” di Tugu Kunstkring Menteng, Jakarta. Sementara itu Hipta “lama” sampai sekarang masih bermarkas di Balai Budaya, Jl. Gereja Theria di Jakarta Pusat. (yus)



  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *