Studi Ungkap 13 Ribu Kelelawar di Cina, Nihil Covid-19

  • Bagikan
Seorang tenaga kesehatan melakukan pengamatan di laboratorium uji dengan struktur yang ditumpu udara (air-inflated) "Falcon" untuk pengujian asam nukleat Covid-19 di Pusat Pameran Internasional Yangzhou di Yangzhou, Provinsi Jiangsu, Cina timur, pada 14 Agustus 2021. (Foto: Xinhua/Li Bo)


Sebuah studi Cina mengungkap 142 virus corona pada kelelawar memiliki kaitan dengan virus yang menyebabkan wabah SARS hampir dua dasawarsa lalu, namun tidak ada yang terkait erat dengan virus penyebab Covid-19, seperti dilaporkan harian South Cina Morning Post.

Dalam sebuah makalah yang diunggah ke peladen pracetak Research Square pada Senin, 20 September 2021, tim peneliti dari Institut Biologi Patogen di Beijing mengungkapkan bahwa mereka telah mengumpulkan dan menguji sampel dari 4.700 lebih kelelawar di wilayah-wilayah di seluruh Cina sejak Januari 2020, sekaligus menambah ribuan sampel yang telah diuji sejak 2016.

Penelitian terbaru terkait kelelawar, yang diyakini sebagai spesies asal virus penyebab Covid-19, berfokus pada sampel-sampel yang dikumpulkan dari 13.000 lebih kelelawar dari 56 spesies di 14 provinsi sejak 2016.

Para ilmuwan berpendapat bahwa sejumlah virus yang dianggap sangat erat dengan SARS-CoV-2 “sangat langka” ditemukan pada spesies kelelawar di Cina.

“Ini menjadi sampel baru pertama yang saya amati dari sekelompok ilmuwan terkenal Cina soal virus corona yang terkait SARS pada kelelawar di Cina sejak pandemi,” kata Peter Daszak, seperti dilansir surat kabar itu. Daszak merupakan seorang ahli ekologi penyakit dan turut terlibat dalam penelitian pimpinan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) di Cina sebelumnya pada tahun ini.

Leo Poon Lit-man dari Universitas Hong Kong menyebut upaya itu sebagai langkah penting untuk membantu peneliti mempersempit jumlah kawasan dan spesies yang berpotensi memiliki virus-virus yang lebih erat.



  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *