Tak Lagi Diburu, Polda Metro Persilakan Pebalap Motor Liar Berkompetisi di Ancol

[ad_1]

Fasilitasi Pelaku Balap Liar Polda Metro Gandeng IMI Gelar Lomba Drag Race di Ancol

Seorang joki yang biasa terlibat balap liar di Jabodetabek mempersiapkan motor sebelum ajang drag resmi. Foto oleh Rizky Rahadianto/VICE

Polda Metro Jaya serius dengan rencana mereka mengubah pendekatan menangani balap liar yang sering digelar anak muda di sekitaran DKI Jakarta. Polisi akan berhenti memerangi balap liar, atau menangkapi pelakunya. Sebaliknya, kini aparat menggandeng organisasi Ikatan Motor Indonesia (IMI) untuk memfasilitasi anak muda yang senang adu cepat pakai sepeda motor modif lewat lomba resmi.

Berkaca pada kesepakatan dari hasil pertemuan Polda Metro Jaya dengan IMI yang dihelat Senin (20/12), seperti dilansir merdeka.com, lomba balap motor pengganti acara liaran itu bakal digelar di kawasan Ancol, Jakarta Utara. Ketua IMI Bambang Soesatyo, yang juga dikenal sebagai politikus kawakan Golkar serta Ketua MPR, mengaku siap mendukung terselenggaranya lomba tersebut.

“Kami sudah sepakat Ancol menjadi salah satu pilihan atau akan dijadikan tempat untuk menampung para anak-anak muda kita menyalurkan hobi balapnya,” kata politikus akrab disapa Bamsoet itu.

Merujuk rencana awal dari kepolisian, balapan bagi para pemain liaran ini bakal digelar pada 15 Januari 2022. Konsepnya sejauh ini adalah ajang drag race, serta balap road race di lokasi sirkuit semi-permanen. IMI siap menyediakan berbagai piranti keselamatan, termasuk helm, bagi para peserta lomba tersebut. Direktur Utama PT Taman Impian Jaya Ancol Teuku Sahir Syahali turut digandeng Polda Metro, dan mengaku akan segera mengebut persiapan lomba balap tersebut.

“Kita akan support sekuat tenaga kita. Tadi sudah disampaikan akan dimulai kegiatan ini di tanggal 15 Januari, dan ini sudah tanggal 20 Desember. Jadi kita harus kerja keras,” ujar Syahali.

Wacana tak lagi memerangi balap liar pertama kali dicetuskan oleh Kapolda Metro Jaya Irjen Polisi Fadil Imran pada November lalu. Imran mengaku sudah menghubungi berbagai perwakilan komunitas yang selama ini akrab dengan dunia balap liar di Tangsel, Jakarta, Bekasi, hingga Depok. Pihak-pihak itu mencakup mekanik atau pemilik bengkel modifikasi motor, para joki, hingga akun medsos yang sering merekam balap liar.

“[Pertemuan dengan komunitas ini] bukan jebakan seperti yang beredar, biar Kapolda punya datanya [siapa saja pemain balap liar], enggak,” tandas Imran seperti dikutip CNN Indonesia. “Saya ingin betul-betul memfasilitasi adik-adik saya, supaya jiwanya bisa kita selamatkan dan kalau yang punya bakat bisa kita salurkan.”

Menurut Kapolda, paradigma sekadar mempidanakan balap liar tidak akan menyelesaikan masalah. Sebab, hobi berbahaya ini digerakkan oleh passion anak muda, sehingga rentan untuk selalu muncul kembali sekalipun dilarang.


Tonton dokumenter VICE merekam dari dekat aksi joki balap liar ternama di Jabodetabek:


Mantan Kapolda Jawa Timur itu lantas berpikiran untuk menggerakkan jajarannya, memfasilitasi munculnya lomba balap resmi bulanan. Harapannya, energi dari komunitas liaran bisa tersalurkan secara lebih aman. Selain itu, IMI dapat sekaligus memantau mana saja joki motor liaran dari Jabodetabek yang punya bakat untuk didorong mengikuti ajang resmi.

“Mudah-mudahan akan lahir pembalap MotoGP dari event kita ini dari Polda Metro Jaya. [Sirkuit] Mandalika kita sudah punya, tinggal kita cari rider-nya,” imbuh Kapolda Metro.

Budaya balap liar sudah mewabah di Jakarta sejak dekade 1970-an. Lokasi yang sering menjadi arena dadakan bagi joki liaran khususnya kawasan Senayan. Tragisnya, aksi yang awalnya hanya untuk bersenang-senang itu kerap berujung fatal. Banyak joki yang mati saat sedang balapan. Rekor terburuk muncul pada 2015, ketika 31 anak muda tewas akibat balap liar di kawasan Jabodetabek. Inilah alasan mengapa aparat kepolisian Jakarta merasa bertanggung jawab untuk memberantas balapan liar. Dalam sekali operasi penertiban, sudah lazim bila polisi menilang SIM serta menyita motor milik puluhan orang yang terlibat balap liar.

Berkaca pada liputan VICE, trek-trekan, julukan lain balap liar, makin sering melibatkan taruhan bernilai hingga ratusan juta Rupiah. Ajang balap ini, berbeda dari namanya, sebetulnya tidak terlalu liar karena cukup terorganisir meski dibikin low profile agar tak diendus polisi.

Menurut Andri, salah satu joki yang kerap bertanding di ajang liaran Jabodetabek, tiap peserta sudah punya bengkel mitra, atau malah mereka sendirilah pengelola bengkel modifikasinya. “Nah ada orang dari bengkel main ke bengkel gue dan ngajak balapan,” ujarnya pada VICE.

Uang taruhan penonton itupun tidak serta merta masuk ke dompet joki. Seringkali, duit tersebut mengalir untuk bengkel. “Kami tuh balapan karena sensasinya lho. Terus puas rasanya kalau kita menang. Bengkel dan joki jadi terkenal,” tandas Andri.

[ad_2]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.