Tak Sengaja Bobol Data Keluarga Kerajaan Arab, Hacker Memilih Minta Maaf

  • Bagikan


Data pribadi mohammed-bin-salman disebar di Internet hacker grup Conti minta maaf karena takut dibalas

Sosok Pangeran Mohammed bin Salman, penguasa de facto Kerajaan Arab Saudi. Foto oleh ALEXEY NIKOLSKY/SPUTNIK/AFP

Pada Oktober 2021, geng ransomware Conti membocorkan ribuan file yang dicuri dari jaringan toko perhiasan Graff di Inggris. Tapi kini, mereka tampak menyesali aksi tersebut, karena data-data yang disebar berisi informasi sejumlah selebritas dan orang berkuasa, khususnya dari Jazirah Arab.

Dilansir Daily Mail, ada file sensitif terkait pembelian yang dilakukan oleh David Beckham, Oprah Winfrey dan Donald Trump. Para peretas menambahkan, juga ada data milik keluarga kerajaan Uni Emirat Arab, Qatar dan Arab Saudi. Conti sebetulnya tidak peduli soal data pribadi pesohor AS atau Inggris. Mereka cuma ogah mencari gara-gara dengan anggota kerajaan Arab.

“Kami mendapati data sampelnya tidak ditinjau secara teliti sebelum dipublikasikan ke blog,” tulis para peretas pada Kamis waktu setempat. “Conti menjamin semua informasi yang berkaitan dengan anggota keluarga kerajaan Arab Saudi, UEA dan Qatar akan dihapus tanpa paparan dan tinjauan apa pun.”

“Tim kami ingin meminta maaf atas ketidaknyamanan yang ditimbulkan kepada Yang Mulia Pangeran Mohammed bin Salman dan anggota Keluarga Kerajaan lain yang namanya disebutkan dalam publikasi,” imbuhnya.

Para peretas lebih lanjut menegaskan hanya mempublikasikan data ke situs mereka, dan tidak pernah memperdagangkannya sama sekali. Mulai sekarang, mereka akan “menerapkan proses peninjauan data yang lebih ketat untuk operasi apa pun di masa mendatang.”

Tangkapan layar pengumuman yang diunggah ke situs resmi Conti.

Tangkapan layar pengumuman yang diunggah ke situs resmi Conti.

Conti tak segera menanggapi permintaan Motherboard untuk menjelaskan alasan mereka minta maaf hanya pada kerajaan-kerajaan Arab. Conti selama ini dikenal sebagai grup penyebar ransomware yang dekat dengan pejabat Rusia, bahkan, diduga kaki tangan resmi Negeri Beruang Merah.

Allan Liska, peneliti untuk perusahaan keamanan siber Recorded Future yang melacak praktik ransomware, menduga para peretas ketakutan terhadap potensi balasan dari elit negara-negara Arab.

“UEA secara terang-terangan mengerahkan tim pembunuh untuk menghabisi orang yang mereka benci. AS dan Inggris sudah tidak melakukannya lagi. Bahkan grup ransomware sekali pun tak mampu berkutik di hadapan tekanan politik ala Arab. Saya menebak mereka berdiskusi dengan pejabat Kremlin yang menyebutkan ini ide buruk. Karena itulah mereka menghapus datanya,” kata Liska kepada Motherboard via chat online. “Ini cara mereka untuk menutupinya.”

Namun, peneliti Emsisoft Brett Callow tidak sependapat.

“Beberapa analis berspekulasi permintaan maaf ini hasil dari tekanan pemerintah Rusia, tapi sepertinya itu tidak mungkin,” ujar Callow melalui email. “Permintaan maaf publik hanya semakin mempermalukan orang-orang yang disebutkan. Conti telah membobol perusahaan Saudi sebelumnya, jadi mereka tak pernah ada masalah menjalani operasi di belahan dunia itu.”

Walaupun begitu, para peretas mengatakan akan terus mempublikasikan data yang didapatkan dari Graff, terutama yang mengenai “deklarasi keuangan yang dibuat oleh plutokrasi Neo-liberal AS-Inggris-Uni Eropa, yang melakukan pembelian sangat mahal pada saat negaranya hancur diterpa krisis ekonomi, pengangguran dan Covid.”

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *