Taliban Itu Baik atau Buruk, Diuji Cara Menangani Aksi Protes

  • Bagikan
Warga Ibu Kota Kabul kemarin merayakan Hari Kemerdekaan Afghanistan, dengan membawa bendera lama yang terdiri tiga warna Hitam, merah dan hijau. Mereka menolak bendera Taliban warna putih yang hendak dijadikan bendera nasional. (Foto: AFP/Al Jazeera)


Taliban dilaporkan melepaskan tembakan ke udara untuk membubarkan massa dan membubarkan protes di Kota Jalalabad. Sekitar seratus warga melakukan unjuk rasa dengan membawa bendera lama berwarna hitam, merah dan hijau. Mereka menolak bendera Taliban yang berwarna putih dengan tulisan dua kalimat Syahadat dijadikan bendera nasional Afghanistan.

Tapi ternyata diantara pengunjuk rasa ada yang meninggal kena tembakan Taliban, yang berusaha membubarkan aksi itu. Setidaknya tiga orang pengunjuk rasa dilaporkan tewas, dan dua belas lainnya terluka di dua kota, yaitu di kota timur Jalalabad dan Kota Asadabad, selama protes anti-Taliban.

Taliban dilaporkan melepaskan tembakan ke udara untuk membubarkan massa dan membubarkan protes. Beredar pula video yang menunjukkan seorang pejuang Taliban menendang dan mencambuk pengunjuk rasa dan wartawan lokal.

“Kami berdemonstrasi untuk membawa kembali bendera kami, dan merayakan hari kemerdekaan kami untuk melindungi identitas bangsa,” kata Saifatullah Ahmadzai, 33 tahun, warga Kota  Jalalabad seperti dikutip TRT World.

Saifatullah Ahmadzai menjelaskan bahwa Taliban pertama kali menyerukan ketenangan dan tidak berniat menembak siapa pun. “Tapi banyak preman dalam demonstrasi yang diuntungkan dari situasi dan menciptakan kekacauan,” katanya. Karena itu Taliban segera menembak ke udara.

Seorang wartawan yang tiba di tempat kejadian segera dihadang oleh orang-orang bersenjata Taliban di tengah-tengah pembubaran para demonstran. Babrak Amirzada, seorang jurnalis untuk kantor berita Pajhwok, mengatakan bahwa dia sedang dalam perjalanan ke kantor di pagi hari Rabu ketika dia mendengar tentang demonstrasi tersebut.

“Jadi kami mulai mengambil gambar dan video,” katanya. Ketika Taliban merespons dengan kekerasan terhadap para demonstran, para jurnalis juga menjadi korban. “Beberapa dari Taliban menyerang kamera kami dan memukuli kami,” katanya. Ahmadzai mengklaim bahwa empat orang, termasuk seorang anak berusia 16 tahun dari distrik Bati Kot, tewas dalam bentrokan tersebut.

Insiden serupa, pembubaran aksi dengan tembakan,  juga terjadi di Kota Asadabad, ibu kota provinsi timur Kunar dan kota timur lainnya, Khost, pada Kamis kemarin di mana beberapa orang tewas. Tidak diperoleh konfirmasi apakah korban tewas itu akibat dari tembakan Taliban atau dari desak-desakan, kata saksi.

Ini adalah ujian pertama bagi Taliban. Bagaimana cara Taliban menangani protes, akan  menentukan apakah kelompok bersenjata ini dapat dipercaya atau tidak.

Seorang pemuda di Ibu Kota Kabul hari Kamis kemarin merayakan Hari Kemerdekaan Afghanistan dengan mengibarkan bendera lama yang terdiri tiga warna Hitam, merah dan hijau. (Foto: AP Photo/Al Jazeera)

“Sebelumnya juru bicara Taliban,  Zabihullah Mujahid mengatakan bahwa tidak akan ada masalah bagi wartawan, tetapi sayangnya kami melihat bahwa Taliban memukuli wartawan di Kabul dan bagian timur Afghanistan,” kata Mujeebullah Dastyar, seorang penduduk Kota Kabul, kepada TRT World.

“Protes damai adalah hak setiap orang Afghanistan. Hari ini ketika orang Afghanistan ingin memprotes beberapa Taliban menembaki wartawan dan pengunjuk rasa,” katanya  seraya menambahkan bahwa orang-orang skeptis terhadap klaim kelompok bersenjata untuk melindungi wartawan dan warga Afghanistan.

Sebelumnya, setelah mengambil alih Kabul hari Minggu, Taliban telah menjanjikan aturan yang berbeda dengan saat Taliban berkuasa 20 tahun lalu. Taliban berjanji akan menghormati  hak-hak perempuan, kebebasan pers, dan pengampunan bagi pejabat pemerintah yang digulingkan.

Juru bicara Taliban,  Suhail Shaheen hari Selasa lalu mengatakan bahwa Taliban saat ini sedang menyusun kerangka kerja baru “mengingat hak dasar rakyat untuk berkumpul dan melakukan protes. Taliban sekarang berbeda dengan Taliban yang dulu,” kata Suhail Shaheen.

Meskipun ada rasa takut yang nyata, kata Saifatullah Ahmadzai, warga Kota Jalalabad, karena Taliban sudah berjanji akan memberi perlindungan dan keamanan bagi semua warga Afghanistan, maka menurutnya Taliban harus diberi kesempatan untuk memerintah. “Tidak ada yang harus menjadi sensasional,” katanya. “Taliban harus diberi kesempatan untuk membuktikan janji-janjinya, dan yang penting tidak ada lagi campur tangan asing di Afghanistan. Biarkan kami mengurusi diri kami sendiri, kata Saifatullah Ahmadzai. “Kita seharusnya tidak menentang pemerintahan baru. Kita harus bekerja sama dengan Taliban untuk mengamankan negara,” tambahnya. (nis)



  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *